Bisnis Frozen Food

Bisnis frozen food adalah salah satu bisnis yang sedang marak dan trending. Ini adalah bisnis rumahan yang mudah dan relatif tidak bermodal besar. Kali ini kami akan bercerita tentang bisnis frozen food yang dijalankan istri saya, kira-kira sejak akhir November 2019 silam. Semoga dengan adanya tulisan ini, bisa menjadikan inspirasi untuk para pembaca dalam memulai bisnis frozen food di rumah. Jika teman-teman pembaca ingin bertanya, silakan memberi komentar di bagian akhir tulisan ini.

Bisnis Pakaian yang Jatuh Bangun


Semula, istri saya berjualan pakaian namun hanya sebagai reseller saja. Bisnis pakaian yang digeluti pun sudah terlampau lama, dan relatif stagnan. Ini menjadi evaluasi kami bersama. Menurut kami, banyak hal yang menjadi penyebab mengapa bisnis pakaian yang kami rintis ini mentok.

Pertama, sistem reseller yang kurang efektif. Flownya kira-kira begini. Agen di Depok (tempat kami mengambil pakaian) mengupdate stok pakaian harian. Namun stok ini sifatnya tidak selalu up to date. Jika ada transaksi dari reseller, maka kami harus menanyakan lagi apakah item yang hendak dipesan statusnya tersedia. Ini makan waktu dan sangat rentan dengan miskomunikasi. Apalagi stok bakal diperebutkan oleh reseller lain di bawah keagenan yang sama. Mata rantai yang terlalu panjang.

Bisa diakali dengan cara membeli dengan kuantitas besar, lalu disimpan di rumah. Tapi cara ini kan butuh modal yang banyak, apalagi harus punya pengalaman melihat tren pasar. Tidak setiap hari orang membeli baju. Mungkin ada momen-momen tertentu permintaan di pasar ramai, seperti bulan puasa mendekati lebaran seperti ini.

Kedua, kompetisi yang kurang sehat. Ada banyak reseller atau agen yang juga bermain di marketplace, sehingga harga reseller akan tertekan. Apalagi agen (sebagai sistem kapitalisme) bisa bermain stok. Sangat mudah bagi pemodal besar untuk menguasai pasar, sedangkan reseller di level akar rumput hanya mendapatkan remah-remah roti sisa di pinggir meja. Sempet berpikir untuk mendaftar menjadi agen dan menguasai pemasaran level domestik / propinsi. Tapi kembali lagi masalahnya di permodalan dan keluangan waktu.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, kami yakin untuk pivot usaha. Sepertinya model bisnis reseller seperti ini akan punya jalan yang panjang. Dan memang issue di grup reseller (sampai tulisan ini dibuat, istri masih masuk dalam grup WA reseller) masih mirip-mirip. Sebagai pelengkap, istri saya juga pernah berjualan mainan anak dan mengalami sebuah modus penipuan. Semoga Anda juga tidak termasuk korban ya... 

Memulai Bisnis Frozen Food


Semua berawal dari masakan istri yang (menurut ane sebagai suami) enak (pake banget). Terutama risoles dengan isian rogout ayam. Dimulailah eksperimen istri dengan mencoba-coba resep dan dipadukan dengan improvisasi usaha ala kadarnya. Kami memulai dengan langkah awal yang sangat sederhana. Ketika sudah mulai percaya diri dengan produk hasil percobaan berkali-kali, akhirnya iklan di marketplace Facebook pun dibuat. Iklan hanya berkutat di marketplace Facebook dan status WhatsApp, jadi memang hanya untuk testing pasar semata-mata.

Alhamdulillah, order mulai datang walau belum banyak. Skema iklannya termasuk promo adalah sebagai berikut.
  • Gratis ongkos kirim untuk wilayah Cipondoh dan sekitarnya.
  • Diskon ongkos kirim sebesar Rp 5ribu untuk area selain itu.
  • Harga per pack isi 6 pcs adalah sebesar Rp 20ribu.
Sebagai gambaran saja, saat itu kami hanya memiliki alat yang seadanya. Alat-alat untuk membuat risol di masa-masa awal berbisnis (kurang lebih akhir bulan November 2019) adalah sebagai berikut.
  • Wajan teflon terbalik. Harganya kalau tidak salah Rp 120ribu. Belakangan, istri beli lagi item yang sama untuk mempercepat proses produksi di harga Rp 70ribuan saja. Digunakan untuk membuat kulit risoles. Proses membuat kulit ini (menurut istri) memang lumayan lama. Perlu percobaan puluhan / ratusan kali untuk mendapatkan tekstur, ketebalan, dan rasa yang diinginkan.
  • Pisau dan talenan untuk memotong isian berupa kentang dan wortel. Termasuk panci dan wajan untuk menggoreng.
  • Box plastik (microwave ready) dengan harga per box kurang lebih Rp 1.100 per pcs.
  • Freezer kulkas dengan kapasitas 12 pack per minggu.
Karena kapasitas lemari pendingin yang sangat terbatas, kami memutuskan untuk menutup PO bila memang order sudah kebanyakan, atau menawarkan ke calon pembeli untuk order di pekan depan atau hari yang berbeda. Jadwal iklan dibuat di hari Senin sampai Jumat siang. Setelah itu, proses produksi dimulai. Jumat dibuat, Sabtu diantar. Sabtu dibuat, Minggu diantar. Demikian terus setiap pekan. Satu hal yang berbeda sebagai bagian dari promosi bisnis frozen food ini adalah kami menawarkan versi goreng (matang) harga sama. Jadi saat saya antar, kondisi risol masih hangat.

risoles dapur azarine
Promosi Dapur Azarine versi awal berbisnis


Alhamdulillah respon market positif, walaupun dalam seminggu jumlah order turun naik. Prinsip kami, order 1 pack pun harus diterima sebagai rejeki. Diantar sambil berdzikir sepanjang jalan, apalagi pas hujan.

Lambat laun, kami menyadari bahwa skema di atas perlu ada perubahan. Yang kami sadari setelah awal mula berjualan seperti di atas adalah beberapa hal seperti berikut ini.
  • Area antar seharusnya bukan kecamatan tempat kami tinggal, tapi ditentukan dari jarak antar. Karena ada juga daerah antar yang masih masuk wilayah kecamatan, tapi posisinya lumayan jauh dan makan waktu.
  • Diskon ongkos kirim masih tetap, ditambah dengan tambahan "Free ongkos kirim untuk order minimal sekian pack".
  • Penambahan varian baru: martabak telur mini. Pada awal rilis produk ini, kami masih menggunakan kulit yang sama, tapi pada akhirnya menyerah juga dan menggunakan kulit martabak merek F*nna. Karakter kulit risol dan martabak memang berbeda.
  • Peniadaan promo "versi goreng / matang harga sama". Ini selain memakan waktu juga secara cost lumayan besar karena butuh minyak goreng, gas, dan lain-lain.
  • Penambahan lapisan plastik agar risoles tidak melekat saat dikeluarkan dari freezer.
  • Dan masih banyak perbaikan lainnya yang kami rasa perlu untuk pengembangan bisnis frozen food ini.
Di awal-awal bisnis frozen food ini, saya dan istri bukannya tak menemui halangan dan kegelisahan. Tentu banyak sekali suka duka saat berjualan, termasuk adanya komplain dari pembeli. Semua kami coba hadapi dengan sabar, sebagai salah satu syarat untuk tetap maju. Satu per satu, dengan tetap berdoa dan berharap pada Yang Maha Kuasa, masalah di bisnis frozen food bisa teratasi. Kami juga berterima kasih pada segenap keluarga dan orang-orang terdekat untuk dukungan dan bantuan doa.

Membeli Chest Freezer untuk Bisnis Frozen Food


Melihat geliat permintaan yang sudah tidak bisa diakomodir dengan hanya freezer kulkas isi 12 pack, saya dan istri mencoba peruntungan dengan memutuskan untuk membeli chest freezer atau yang lebih dikenal dengan freezer saja. Harganya waktu itu adalah Rp 2,2 juta dengan merek RSA dan kapasitas 220 liter.

Di titik ini kami sudah harus memikirkan metode beriklan yang lebih masif dengan mengharapkan lebih banyak pembeli. Pada awalnya sempat terpikir untuk membeli chest freezer dengan kapasitas yang lebih kecil. Namun melihat selisih harga yang tak jauh berbeda, dan proyeksi bisnis frozen food ini ke depan, kami mengambil resiko dengan membeli chest freezer yang lebih mahal.

chest freezer untuk bisnis frozen food
Chest Freezer buka bungkus


Saat ini, chest freezer kami isi bukan hanya dengan produk frozen food saja. Tapi juga bahan baku lain seperti daging dan kulit martabak telur. Kami menilai bahwa keputusan kami untuk membeli chest freezer adalah keputusan yang tepat.

Alhamdulillah, dengan kapasitas volume 220 liter, freezer bisa cukup menampung kira-kira 102 pack produk. Kami menggunakan box dengan ukuran 750 mL dan 1000 mL, tergantung jenis produknya (risoles atau martabak telur mini / beef curry pastel). Kami berusaha untuk tidak membuat terlalu banyak risoles sampai freezer penuh, karena selain sulit untuk dipindahkan, juga karena menyiasati jumlah order yang tak pasti setiap pekannya.

Salah satu hal yang kami takutkan ketika chest freezer sudah dipasang ada 2 hal: mati listrik (alhamdulillah selama ini jarang sekali terjadi), dan banjir. Untuk masalah pertama memang belum ada solusi yang pas. Namun untuk banjir, saya membuat alas dari kayu yang ada rodanya supaya jika terjadi banjir dan air masuk ke dalam rumah, minimal chest freezer masih tetap terus menyala. Gambar alas freezer dari kayu yang saya buat kira-kira seperti ini.


Tambahan biaya listrik kami per bulan kira-kira 150-200 ribu dengan adanya freezer. Perhitungan biaya listriknya adalah dengan mengalikan daya yang digunakan dikali 24 jam sehari dikali 30 hari sebulan.

Mulai Menggunakan FaceBook Ads untuk Promosi Bisnis


Perubahan masif lainnya yang kami lakukan sejak membeli chest freezer adalah menggunakan Facebook Ads untuk meningkatkan penjualan. Pada awalnya kami hanya menggunakan budget yang minim dengan alasan untuk belajar saja dulu. Kami memulai di awal bulan Februari (beberapa hari setelah chest freezer dibeli), dengan masa tayang iklan 3 hari dan batas maksimal biaya iklan adalah sebesar Rp 45ribu. Target kami dengan iklan ini adalah order sejumlah 6 pack.

Alhamdulillah dengan menggunakan FaceBook Ads order bertambah dengan lumayan signifikan. Ditambah istri bisa mencicil membuat produk per hari kira-kira 12-18 pack, walau tidak setiap hari. Kami selingi dengan istirahat, karena terus terang saya masih bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta sehingga belum bisa membantu maksimal kecuali akhir pekan.

beef curry pastel
Varian produk terbaru, beef curry pastel

kulit risol untuk bisnis frozen food
Perbandingan kulit risol yang berhasil dan gagal

logo dapur azarine
Logo Dapur Azarine, dibuat sederhana dengan Canva

packaging produk frozen food
Packaging versi awal (mulai menggunakan kotak plastik food grade)

Packaging risol di awal bisnis (masih menggunakan mika karena diantar sendiri)

varian produk frozen food Dapur Azarine
Varian produk frozen food Dapur Azarine

Untuk saat ini, anggaran Facebook Ads untuk usaha ini sudah di titik Rp 130ribu (maksimal) per 7-8 hari. Tergolong minim sih namun alhamdulillah efeknya lumayan. Kami belum bermain di level Ads Manager karena selain butuh waktu untuk mempelajarinya, kami masih fokus di perbaikan mutu produk dan hal lainnya.

Kami juga membuat lokasi toko di Google Maps namun hingga saat ini kartu pos untuk verifikasi belum juga tiba. Alamat usaha kami bisa dicari di Google Maps dengan kata kunci "Dapur Azarine" atau kunjungi link berikut ini: https://goo.gl/maps/NeRv7SamfSyyQVvF8 

Saat ini format iklan / promosi adalah sebagai berikut: 
  • Area antar meluas menjadi Jadetabek (Bogor belum berani antar).
  • Minimum order 6 pack, maka gratis ongkos kirim dengan menggunakan layanan pengantaran Pa*el. Atau, diskon sebesar Rp 15ribu bila menggunakan layanan ojek delivery "same day".
  • Diskon ongkos kirim Rp 5ribu untuk area antar kurang dari 5 kilometer. 
Kami rasa format di atas lebih sederhana dan relatif fair. Mungkin akan berubah ketika keadaan pasar berubah.

Kendala Bisnis Frozen Food


Alhamdulillah untuk pembuatan produk dan lain-lain, walau butuh perjuangan ekstra keras (dari istri, ane sih nggak ngapa-ngapain), relatif lancar. Kendala yang kami rasakan adalah yang terkait dengan ketergantungan kami pada layanan antar, dan vendor penyedia bahan baku.

Untuk kendala di Layanan Antar, sudah beberapa kali paket gagal sampai ke alamat tujuan dengan alasan yang beraneka ragam. Pernah pula pelanggan kecewa karena ketika sampai, paket rusak. Sepertinya karena tertindih di freezer milik vendor. Pernah pula tiba-tiba dikontak oleh layanan antar karena ternyata alamat tujuan tidak termasuk dalam wilayah pengantaran. Padahal lokasi / pin point sudah masuk dalam sistem, dan paket sudah sampai di titik terjauh / hub. Akibatnya, kami harus menyusul paket di daerah Serang dan mengantarkan sendiri ke alamat tujuan.

Untuk vendor, kami sempat beberapa kali dikirimi bahan baku yang tidak sesuai dengan harapan. Kami rasa problem dengan pihak ketiga ini memang di semua jenis usaha, pasti ada saja. Karena memang tidak termasuk dalam hal-hal yang kita bisa perhitungkan. Ke depannya kami berharap semoga ada vendor atau alternatif penyedia jasa lain yang lebih baik.


Langkah Usaha Frozen Food selanjutnya


Ada banyak sekali langkah usaha ke depan namun kami pikir itu akan menjadi tulisan berbeda. Beberapa di antaranya adalah izin usaha, label produk yang terkesan lebih premium, variasi produk (dengan membeli alat lain semacam food processor), berjualan d marketplace berbeda seperti Toped atau Gr*bFood, memverifikasi Google Business, membuat landing page, hingga merekrut karyawan baru untuk membantu pengerjaan.

Banyak pula yang bertanya untuk menjadi reseller, namun karena masih banyaknya keterbatasan, kami belum berani untuk menjanjikan apapun. Hanya saja, untuk order dengan kuantitas yang besar, kami bisa memberikan diskon dengan presentase lebih besar.

Akhir kata, semoga tulisan yang acak-acakan ini bisa memberikan inspirasi untuk para pembaca sekalian untuk memulai usaha sejenis. Mohon maaf bila banyak kekurangan dalam penulisan artikel ini. Jika ada pertanyaan, silakan kirim melalui form komentar di bagian bawah.

Modus Penipuan di Marketplace

Marketplace seperti BukaLapak dan Tokopedia yang menjadi platform untuk bertransaksi jual beli secara online, bukannya tanpa celah. Walau menjadi “escrow” atau penengah bin pihak ketiga yang membuat transaksi hampir dipastikan berjalan lancar, marketplace bisa dimanfaatkan oleh beberapa oknum untuk mencari keuntungan yang tak sepatutnya, walaupun bukan sepenuhnya untuk menipu. Berikut beberapa modus yang sering dijumpai di marketplace.

borgol
Gambar dari Bill Oxfod / Unsplash


Mengejar cashback

Pertama, oknum akan membuat beberapa account (palsu atau asli), melakukan verifikasi dst, sehingga terlihat sebagai pengguna biasa. Jumlahnya relatif, jika ingin banyak ya buat account yang banyak sekalian. Kita ibaratkan ada account utama X, dan sebut saja akun abal-abal A,B, dan C.

Dari sini pelaku beraksi untuk mendapatkan keuntungan dari cashback dengan cara membuat transaksi palsu sebanyak mungkin, dengan nilai maksimal dan variatif (untuk mengecoh). Contoh, promo cashback 5% senilai maksimal Rp 500ribu, akan dimanfaatkan dengan membuat transaksi bodong senilai Rp 10 juta (atau lebih). Orderan bodong ini bisa berupa apa saja, yang paling gampang adalah dengan barang yang kecil namun bernilai tinggi, seperti jam tangan atau perhiasan.

Orderan fiktif dimulai dengan chat dari buyer ke seller, yang tentunya fiktif juga. Ini membuat seolah-olah memang benar terjadi transaksi. Lalu buyer akan mengirimkan 'barang pesanan' yang biasanya fiktif juga, misal dengan mengirim kotak berisi jam tangan biasa, atau bisa saja batu.

Trik di atas dapat digunakan untuk promo sejenis, semisal voucher, potongan harga, atau yang semisalnya. Variasinya banyak dan bisa diimajinasikan.

Menjadi tempat gestun (gesek tunai)

Untuk gestun atau gesek tunai, ini berkaitan dengan metode pembayaran dengan kartu kredit. Marak 'bisnis' gestun ini terjadi di merchant di pusat perbelanjaan atau toko-toko yang besar. Kenapa marak? Karena sebetulnya orang sering menemukan celah-celah untuk diambil benefitnya, dalam hal ini terkait dengan mekanisme penggunaan kartu kredit.

Secara sederhana, gesek tunai ini adalah pinjam jasa merchant untuk mendapatkan cash atau uang tunai dengan biaya atau bunga yang sedikit lebih rendah dibandingkan dengan tarik tunai di bank pakai kartu kredit langsung. Intinya sih tetap bayar bunga ke bank, tapi dengan cara pembuatan transaksi palsu di gerai atau merchant yang sudah punya EDC bank yang bekerja sama.

Terkait gestun dan seluk beluknya, silakan baca di artikel saya sebelumnya : Jasa Gesek Tunai Kartu Kredit. Sebisa mungkin jangan pake cara itu.

Nah, mekanisme gestun ini juga tak jarang ditemui di marketplace. Masih menggunakan transaksi palsu, pembayaran dilakukan dengan menggunakan kartu kredit yang terdaftar. Lalu ketika proses transaksi selesai, dana transaksi dikembalikan kepada 'buyer' yang bisa jadi orang yang sama juga. Biaya administrasi penggunaan kartu ini lah yang menjadi selisihnya.

Pinjaman CC dengan bunga ringan

Masih sebelas dua belas dengan metode di atas, buyer bisa mendapatkan cash atau 'pinjaman kartu kredit' dengan metode pembayaran dengan CC. Pertama, buyer abal-abal dan seller abal-abal akan membuat transaksi fiktif dan dibayar dengan kartu kredit, lengkap dengan metode cicilan. Setelah transksi sukses, dana 'dikembalikan' lagi ke buyer lewat belakang. Kartu kredit lalu dibayar per bulan selama masa cicilan.

Mengambil foto seller lain

Seller bisa saja menjadi 'makelar' dengan menjualkan barang seller lain secara tak resmi. Misalnya dengan metode scraping atau metode otomasi lainnya. Sering kita lihat, di marketplace saat mencari dengan keyword yang spesifik semisal nama buku, atau alat elektronik dengan tipe tertentu, maka yang keluar bisa banyak sekali dengan foto yang sama persis dan harga yang tak jauh beda.

Tujuannya adalah penjualan dengan harga yang lebih tinggi (markup) dari harga seller aslinya. Di sini penjual abal-abal ini tak perlu melakukan apapun selain menunggu mangsa datang. Jika buyer melakukan pembelian, maka order akan 'diteruskan' ke seller asli, tentu dengan menggunakan metode 'reseller' dan barang dikirim langsung ke buyer.

Menurut saya ini bukan penipuan sih, tapi lebih ke ketidaketisan dalam berbisnis saja.

Buyer menipu seller, kok bisa?

Bisa juga, seller yang tertipu. Hlo, seringnya kan sebaliknya, buyer yang tertipu oleh penjual? Bisa saja, misalnya dengan melakukan transaksi dan order seperti biasa. Lalu setelah barang sampai, unboxing, dibuat seolah-olah bahwa kotak dari seller berisi barang yang bukan semestinya, rusak, atau bahkan kotak kosong.

Buyer lalu meminta pengembalian dana, berawal dari komplain kepada pihak Marketplace. Seller yang menyerah akan menuruti dengan mengembalikan dana buyer. Di sini pihak buyer diuntungkan karena mendapatkan item gratisan.

Memanipulasi rating dengan transaksi fiktif

Caranya, pada saat berjualan, item dibuat dengan harga yang jauh di bawah harga pasar. Lalu seller membuat transaksi fiktif dan membuat ulasan. Otomatis rating rata-rata akan menjadi tinggi. Di sini seller lalu membuat item dengan harga normal, dan bersiap berjualan seperti biasa.

Menipu Buyer dengan meminta OTP 

Di sini seller memanfaatkan keluguan pembeli dengan membuat seolah-olah ada pesan menuju pembeli dari marketplace. Pihak seller yang mengatasnamakan pihak marketplace, berusaha mengelabui pembeli sedemikian sehingga barang yang dibeli oleh buyer dianggap sudah sampai ke tangan buyer. Seller terlebih dahulu memberi nomor resi palsu, yang entah ke mana tujuannya.

Jika OTP itu digunakan untuk login dan membuat transaksi dianggap selesai, maka dana akan diteruskan ke penjual dan bisa dicairkan segera. Bayangkan kalau nilai transaksinya puluhan juta.

Malu dalam Bisnis adalah Keniscayaan

Di satu malam di akhir 2011, ane cuma punya 2 ribu rupiah di kantong. Mau pulang ke kos di belakang studio Indosiar, dari Setiabudi. Paling murah naik Trans Jakarta Rp 3,500. Artinya duit kurang Rp 1,500. Dulu tiket TJ masih pakai cash, bukan uang digital macam sekarang.

Sempat termenung lama. Bagaimana ya caranya mendapat tambahan Rp 1,500, setidaknya supaya bisa tidur di kos dulu? Soal uang makan besok, ya dipikir sambil rebahan.



Mungkin ada 30 menitan cuma duduk di pinggir jalan sambil sesekali memandangi orang-orang pakai blazer mahal yang lalu lalang. Ya Allah nasib kok begini amat yak, pikir ane. Sedih coy..

Tiba-tiba, cling! Kok, kepikiran buat jualan pulsa aja. Dulu kan nggak kayak sekarang, orang jualan pulsa nggak ada yg online kayak T*pedia, B*kaLapak, dll. Masih marak counter pulsa tepi jalan, dan margin untung-nya lumayan tinggi. Ane ingat masih punya “saldo” agen pulsa daftar ke si Adyatma sekitar Rp 50ribu. Itu aja ane jadiin duit! Berbekal hape dan sms, bismillah niat jualan.

Aduh, tapi mau jual ke siapa nih? Cara nawarinnya gimana? Buka obrolan gimana? Akhirnya karena the power of kepepet, ane nekat aja. Waktu itu ada mbak-mbak dua orang sebelahan sama ane.

“Maaf Mbak, selamat malam. Saya nggak punya uang buat pulang, tapi saya ada saldo pulsa, Mbak minat beli?”

Kira-kira begitulah apa yang terucap. Rasa malu, takut, canggung, semua campur aduk jadi satu. Dan salah satunya dengan enteng jawab, “Oh ya udah nih, ini buat ongkos pulang Mas…” sambil memberi selembar Rp 10,000.

Gampang bet dapet duit??

Tapi saya tolak. Gengsi. “Maaf Mbak saya bukan mau minta, tapi mau jualan pulsa,” kata ane. Walaupun dipaksa si Mbak, akhirnya ane melipir. Sambil jalan kaki ke arah Karet, sambil mikir dan atur strategi lagi. “Mending jangan bilang kalau lagi butuh duit, ntar ujung-ujungnya dikasih sedekah!”

Dan dimulailah perjalanan bisnis ane malam itu. Semua orang, yg lagi nunggu angkot, supir angkotnya, yg lagi nunggu taksi, supir taksinya, satpam, tante girang, Om-om senang, tua muda miskin kaya, siapapun yg ane lihat potensial untuk jadi buyer, pasti ane samperin. Itu dimulai dari Karet ke arah Sarinah.

Penolakan demi penolakan. Tatapan rasa curiga. Ketidakpedulian. Pandangan sinis. Justru kesemuanya ane anggap sebagai hal yg biasa. Awal-awal sih dongkol.

“Maaf nggak butuh”
“Masih banyak”
“Sorry nggak dulu”
“No”
“Guwa pake pasca bro“
“Yg laen aja”
Dan sejenisnya...

Akhirnya dengan bercucuran keringat, pembeli pertama dapet di deket stasiun Sudirman. Alhamdulillah, goceng! Lebih dari cukup untuk satu tiket menuju kasur kosan yg tipis.

Eits, tapi ane nggak mau berhenti. Makin lama kok makin ketagihan jualan. Semacam jadi adrenaline junkie. Jadi, proses yg sama ane terusin sampe halte Sarinah. Bayangkan waktu itu malam Minggu, ramenya kayak apa tuh Bundaran HI.

Takut? Sama siapa?

Malu? Udah kebal dari Karet!

Capek? Kalau nggak capek nggak bisa tidur!

Alhamdulillah akhirnya saldo ludes oleh pembeli terakhir: sekelompok bapak-bapak security yg manggil temen-temennya. Goceng-goceng sih, tapi tetep aja namanya duit.

Malu dalam bisnis adalah keniscayaan. Malu adalah satu fase yg mau nggak mau, suka atau benci, harus dilalui, sebagai seorang pengusaha. Kalau kata buku, sebuah seni untuk bersikap bodo amat.

Bukan yg nyinyir yg bakal bayarin meteran listrik kita yg sering berbunyi. Bukan yg menghina kita yg bakal beliin susu buat anak, mengganti daster istri yg robek di sana-sini, atau membantu melunasi cicilan Tupperware kita. Lisan mereka tak pantas masuk dalam hati kita yg luas. Jadi jangan merasa terhina melakukan pekerjaan yg mereka anggap hina. Yg penting halal, insya Allah.

Semoga bermanfaat.

Catatan : tulisan disalin dari FB Post penulis.

Meningkatkan Performa Karyawan

Mungkin karyawan perlu diingatkan lagi tentang peran pentingnya dari sisi perusahaan. Mari kita analogikan sebuah kumpeni sebagai sebuah kapal bajak laut. Dia punya cause. Dia punya alasan terombang-ambing di tengah laut. Walaupun terkadang kapal itu sedang dalam posisi yang nggak tahu mau ke mana karena badai, seorang kapten masih bisa mempertahankan performa masing-masing kru. Yang jadi koki ya tetap masak, yang jadi petugas kebersihan geladak kapal ya tetap ngepel, dan seterusnya. Sampai ada perintah selanjutnya.

The Cause

Dalam sebuah eksperimen, seseorang diminta untuk mengerjakan sebuah task sederhana. Ia diminta unuk mengurutkan beberapa lembar kertas, sedemikian sehingga kertas-kertas ini terurut berdasarkan angka atau karakteristik tertentu yang diminta oleh si empunya eksperimen. Di percobaan kali pertama, officer masih memeriksa validitas pekerjaan orang tersebut. Masih dicek, apakah benar atau keliru. Untuk setiap percobaan yang selesai, objek eksperimen akan dibayar sejumlah uang, terlepas dari benar tidaknya hasil pekerjaan.

Di percobaan kali kedua, hasil pekerjaan masih diperiksa, namun dengan waktu yang lebih singkat. Random sampling saja begitu. Di kali ketiga, officer sudah tidak memeriksa pekerjaan lagi. Lebih parah, di kali percobaan ke sekian, hasil pekerjaan dimasukkan ke dalam amplop, lalu digunting-gunting tepat di depan objek eksperimen.

Dapat diduga, performa objek eksperimen akan menurun seiring waktu. Ia tidak lagi dapat menerima bahwa hasil pekerjaannya, akan diepelekan. Ia tidak lagi menemukan cause dari apa yang dia kerjakan. Mengambang tanpa arah. Disorientasi.



Dalam bukunya, "A Whole New Mind, Why Right-Brainers Will Rule The Future", Daniel Pink menyebutkan,
'Dangling a very big carrot, led to poorer performance'
Menurutnya, justru memberi insentif yang terlampau besar akan menyebabkan performa menurun. Karena di satu titik tertentu, bukan malah jadi penambah semangat, tapi justru membuat produktivitas menjadi berkurang.

Implementasi

Di dalam kapal, harus jelas hirarki kekuasaan dan ruang lingkup pekerjaan berdasarkan skill dan kapabilitas masing-masing. Bahkan kalau kapten kapal meninggal, ada mekanisme untuk peralihan kepemimpinan. Apalagi kalau yg tercebur ke laut hanya sekelas juru pegang tali layar. Pasti ada mekanismenya. Pasti ada caranya.

Pertama, masing-masing kru kapal harus disadarkan dengan role atawa perannya. Title-nya. Dia ini juru kemudi kah, tukang baca peta kah, mualim kah? Ruang lingkup pekerjaannya apa saja? Kedua, dijelaskan tentang posisinya di dalam hirarki kekuasaan. Dia ini bertanggung jawab kepada siapa. Powernya sekuat apa. Punya bawahan atau tidak? Dalam skema organisasi perusahaan, mungkin jauh lebih kompleks daripada hirarki kapal bajak laut yang kecenderungannya otoriter. Kapten kapal berada di atas semuanya.

Sedangkan di perusahaan, seorang CEO bisa dicopot oleh board. Dalam konteks negara, seorang presiden bisa saja terguling oleh legislatif (seperti yang pernah terjadi di era Abdurahman Wahid). Begitu pula seorang Kapten kapal bisa saja dikhianati dan ditusuk dari belakang.




Industri Perbankan yang Terdisrupsi

Apakah kita saat ini masih memerlukan bank? Mungkin dengan cara pandang konvensional, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah “Ya, kita masih memerlukan bank”. Mari kita bahas satu per satu fungsi bank yang semakin tergerus dengan adanya fintech company atau jalan lain dengan muara yang tak jauh beda.

Apa itu Fintech Company?

Sebelum kita masuk ke alasan mengapa fintech dapat menggoyang industri perbankan, terlebih dahulu kita bahas apa itu fintech. Menurut Bank Indonesia, fintech atau financial technology adalah hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dalam hitungan detik saja.

Menurut Bank Indonesia pula, fintech dibagi ke dalam empat kategori besar, yakni (1) payment, clearing, and settlement, (2) e-aggregator, (3) risk management and investment, (4) peer to peer lending.

uang receh


Bank sebagai tempat meminjam uang (sumber hutang)

Pada kenyataannya, bank tak lebih dari sekadar “lintah darat berdasi dan tersertifikasi”. Mungkin memang tak nyaman buat didengar, tapi itulah realitanya. Bank memerlukan jaminan, entah itu sertifikat tanah, BPKB, atau barang berharga lainnya. Dalam menagih, bank tak ubahnya rentenir yang menyewa “perusahaan” pihak ketiga untuk melancarkan intimidasi mulai dari yang lemah lembut hingga yang berujung pada kekerasan.

Bedanya, bank lebih pintar. Bank tak akan meminjamkan orang yang memang tak mampu membayar, ditambah kepastian bahwa barang agunan akan jauh lebih tinggi nilainya dibanding nilai pinjaman.

Di sinilah peran fintech sebagai p2p lending company. Beberapa UKM sebenarnya sangat-sangat potensial dalam bertumbuh, namun tidak cukup kuat jika ingin mengajukan modal ke bank. Sedangkan kalau mengajukan ke fintech company, kemungkinan modal (yang kecil) dapat didapat dengan jaminan “kepercayaan” sahaja. Mungkin UKM nya kurang seksi di mata bank, tapi cukup prospektif jika dilihat dari kacamata investor langsung. Dengan adanya fintech company, maka kebutuhan dunia permodalan bisa sedikit terakomodir.

Bank sebagai tempat menabung

Nyatanya, bilai dihitung dengan lebih seksama, tak ada orang kaya yang menabung terlalu banyak di bank. Rugi. Cara terbaik agar uang menjadi berlipat adalah menggunakan uang untuk kegiatan bisnis. Bukan sekadar mengharap bunga bulanan (terlepas dari riba dll), karena valuasinya kecil. Di sinilah banyak fintech company mengambil potongan pie, membuat instrumen investasi yang return-nya lebih besar dari deposito sekalipun, yang tentu dibarengi dengan risk yang lebih besar.

Bank sebagai penyedia layanan transaksional

Lagi-lagi dengan kehadiran fintech company, sebagian porsi fungsi bank yang ini bisa tergantikan. Bayar tagihan air, listrik, internet, kirim uang, beli pulsa dan sejenisnya, tak butuh bank lagi. Menurut data tahun 2017, orang Indonesia yang memiliki akses ke bank tak lebih dari 50 persen. Artinya, lebih dari separuh masyarakat negara ini masih mengandalkan cara-cara jadul dalam bertransaksi. Entah itu menggunakan uang tunai, via kasir minimarket, atau cara konvensional lainnya.

Bank sebagai issuer kartu

Ini agak aneh, karena sebetulnya ada beberapa company yang punya kapabilitas untuk menjadi issuer kartu, baik itu kartu untuk uang elektronik, atau kartu kredit. Tak melulu harus via bank. Karena regulasilah yang membuat kita harus “berurusan” dengan bank, dan ini sebentar lagi akan bergeser.

ATM kan masih dimiliki bank?

ATM-nya mungkin iya, tapi jaringan distribusi uang tunai tak melulu harus lewat kotak berkaca yang di dalamnya ada AC 1/2 PK penghabis listrik, ditambah “juru parkir” ilegal. Kita bisa rasakan bahwa uang tabungan kita masih bisa digunakan tanpa harus pergi ke ATM. Paradigma penggunaan uang elektronik seakan mengesampingkan peran dari uang kertas yang (meminjam istilahnya PM Malaysia) hanya jadi sekadar toilet paper.

Jadi, kita sebetulnya tak butuh-butuh amat dengan bank. Keamanan berinvestasi, kemudahan pengajuan modal, keuntungan yang kompetitif, semuanya pada akhirnya akan tergantikan seiring waktu. Tentu pendapat ini hanyalah pendapat pribadi. Pinjam modal (hutang) untuk usaha tak melulu harus lewat bank, karena kalau jaringan pertemanan sudah luas, kita bisa cari investor dari kalangan sendiri. Selain lebih fair, dengan memotong “jalur distribusi” maka harapannya kita tidak keluar biaya ekstra untuk “broker” alias makelar dalam wujud bank.

Pada akhirnya, Bank hanya akan menjadi sebuah lembaga obsolete seperti kantor pos, yang ketika dia tidak turut berevolusi dan hijrah untuk berbenah, maka lambat laun fungsinya akan tergeser sedikit demi sedikit. Mungkin tidak sepenuhnya tergantikan, tapi minimal terdisrupsi.

Modus Penipuan Berujung Blokir Rekening BCA

Ini adalah peristiwa yang dialami istri saya sebagai penjual atau seller. Semuanya berawal dari beberapa transaksi yang mencurigakan sekitar bulan Januari 2019 lalu. Beberapa order dilakukan oleh orang yang sama, kita sebut saja Mawar Beracun. Bu Mawar melakukan 3 kali transaksi dengan alamat tujuan yang sama. Sebut saja nominalnya masing-masing adalah 100rb, 200rb, dan 300rb rupiah.

Walaupun curiga, namun kami masih tetap berprasangka baik karena toh bisa saja status Bu Mawar adalah seorang dropshipper. Transaksi dilakukan tanpa melalui marketplace, di sinilah mungkin celah penipuannya. Semua dilakukan manual: Bu Mawar mengirim bukti pembayaran, istri memeriksa rekening, dan barang pun dikirim. Keanehan selanjutnya, dari 3 bukti pembayaran yang dikirimkan Bu Mawar, semuanya berasal dari nama penyetor yang berbeda. Kita sebut saja Bu Melati, Pak Nanas, dan Bu Tulip. Di sini kami sebetulnya sudah ingin membatalkan order, namun karena kembali ke prasangka awal, maka dari itu barang tetap kami kirim. Ketiganya berkategori mainan anak.

Waktu berlalu. Sekira bulan Maret lalu, istri saya dihubungi oleh pihak BCA melalui telepon, tapi tidak diangkat. Lalu beberapa hari setelahnya datanglah “petugas BCA” yang belakangan kami tahu adalah pegawai outsourcing. Petugas mengatakan ada pelaporan dari nasabah, atas nama Bu Melati (salah satu orang yang mengirim uang ke rekening istri), bahwa istri saya melakukan penipuan dengan tidak mengirimkan barang yang dipesan oleh yang bersangkutan. Sementara kasus diproses, rekening BCA istri saya akan diblokir sampai ada keputusan tidak bersalah.

Sontak kami pun kaget. Ternyata setelah diselidiki, banyak modus serupa yg sudah terjadi. Dengan gambar di bawah ini sebagai ilustrasi.



Secara lengkap, ini kira-kira yang dilakukan oleh Bu Mawar.

  1. Membuat sebuah akun berjualan fiktif. Misalnya berjualan baju.
  2. Menunggu order, dan memastikan target seller. Dalam hal ini, akun seller milik istri saya (target pertama).
  3. Memastikan bahwa order ke istri saya nilai atau nominalnya sama dengan order ke Bu Melati (target kedua).
  4. Saat Bu Melati deal, deal dengan istri saya juga dilakukan. 
  5. Menungu Bu Melati mengirim bukti pembayaran.
  6. Sekadar meneruskan bukti pembayaran dari Bu Melati, kepada istri saya. Lalu mengatakan hal seperti “Iya Bu itu saya kirimnya dari rekening kakak/adik/teman/saudara saya”
  7. Menunggu resi pengiriman dari istri saya. Lalu menerima keuntungan berupa barang.
  8. Terakhir dan yg terpenting : menikmati pertunjukan adu domba yang direncanakannya dari belakang layar, sambil tersenyum gaya iblis.
Kami pun memenuhi panggilan pihak BCA, dan menjelaskan kronologisnya. Bukti percakapan, resi pengiriman, slip pembayaran, semua bukti yang kami punya, telah kami siapkan. Bahkan pihak BCA “mengakomodir” (mungkin lebih tepatnya “mempersiapkan arena alias ring untuk adu mulut”) percakapan istri saya dengan Bu Melati (yang merasa dirugikan) via telepon. Bu Melati bersikeras bahwa istri saya telah melakukan kesalahan. Dengan melihat bukti-bukti yang ada dan setelah menandatangani surat pernyataan bermaterai, akhirnya pihak BCA “memenangkan” kami dan kami diminta pulang ke rumah. Blokir terhadap rekening istri pada akhirnya dibuka oleh BCA.

Kami pun tidak tahu, berapa banyak orang yang telah menjadi korban. Namun untuk 2 transaksi yang lain (yang dilakukan Bu Mawar), hingga tulisan ini saya rilis, tidak ada pelaporan terkait.

Istri saya sempat menghubungi nomor Bu Mawar, yang kami duga adalah penipu alias sutradara dari konflik yg terjadi. Ia dengan tuntas melakoni semuanya, dan menipu semua orang, dengan keuntungan = barang yang dikirim dari istri saya. Nomor Bu Mawar tak lagi bisa dihubungi. Namun dengan mencari nomor Bu Mawar di internet, kami menemukan petunjuk bahwa nomor yang sama digunakan juga oleh akun Instagram berikut https://www.instagram.com/jualkebayapengantiwisudamodern

Pesan dan hikmah dari kejadian ini.

  1. Minimalisir order yang berasal dari luar marketplace. Selain karena lebih beresiko, juga tidak ada sistem review ke pembeli.
  2. Curigai order yang beralamat sama, namun pembayaran dilakukan oleh orang yang berbeda.
  3. Selalu crosscheck identitas pembeli. Jika order berasal dari Instagram yang notabene memang bukan diperuntukkan sebagai platform jual beli, kita harus lebih berhati-hati.
  4. Terakhir, selalu berdoa dan berikhtiar agar setiap rupiah yang kita dapat dari berjualan mendatangkan keberkahan.
Mungkin itu saja cerita dari kami. Semoga bermanfaat dan ke depannya tidak ada lagi korban penipuan serupa. Aamiin.

Naik Gaji adalah Ilusi Finansial

Kalau Anda punya anak usia sekolah, dan diberi uang jajan Rp 500, maka reaksinya kurang lebih akan kecewa. Karena uang jajan Rp 500 ini kalau dibelikan jajanan, paling-paling dapat permen 3 butir saja. Berbeda dengan ketika dulu saat penulis sekolah, uang jajan penulis cukup Rp 100, dan itu bisa beli bakwan 3. Jika Anda juga merasakan hal tersebut, sadarlah bahwa kita sama-sama sudah tua.

fake money


Ilustrasi di atas menggambarkan inflasi mata uang. Senyatanya uang itu tidak bersifat abadi nilainya, melainkan akan selalu tergerus zaman dan akan semakin tidak ada harganya. Jadi bukan harga barang-barang yang semakin mahal, tapi sebetulnya fungsi uang sebagai alat tukar minimal tidak bisa memuaskan dan memenuhi kebutuhan kita saat ini.

Kita bayangkan saja bila naik gaji berkisar 5-6 persen, dan inflasi per tahun berkisar di angka yang itu-itu juga, maka senyatanya kenaikan gaji tersebut bukanlah apresiasi atas prestasi dan masa kerja karyawan, tapi semata-mata karena rasa iba dari perusahaan yang berupaya semua karyawannya bisa bertahan hidup.

Naik gaji hanyalah sekadar ilusi finansial.

Lalu mengapa gaji kita masih dalam bentuk uang? Mengapa kita enjoy saja diberi transferan, yang sungguh hanya sekadar data berwujud angka-angka di dalam komputer? Bagaimana menuju masyarakat madaniyah yang diharapkan Rasulullah sholallahu 'alaihi wassalaam terjadi, jika kita selama ini tertipu oleh uang yang sebetulnya hanyalah (meminjam istilah Mahathir Mohamad) tisu toilet belaka?

Solusi dari isu di atas, dan semua isu di dunia ini, sejak awal bermulanya dunia sampai hari kiamat kelak, sebetulnya sudah ada di Al-Quran dan As-Sunnah. Iblis dan keturunannya memahami betul bahwa segala petunjuk dan penyelesai masalah ada pada Quran. Sehingga mereka berusaha sekuat tenaga agar kita umat islam senantiasa jauh dari sumber petunjuk itu. Minimal ada keengganan untuk membaca, apalagi mengkaji isinya.

Jadilah kita ini bodoh karena jelas-jelas telah dibodohi iblis dan bala tentaranya.

Mari kita menilik salah satu hadits berikut:
”Ali bin Abdullah menceritakan kepada kami, Sufyan menceritakan kepada kami, Syahib bin Gharqadah menceritakan kepada kami, ia berkata : saya mendengar penduduk bercerita tentang ’Urwah, bahwa Nabi S.A.W memberikan uang satu Dinar kepadanya agar dibelikan seekor kambing untuk beliau; lalu dengan uang tersebut ia membeli dua ekor kambing, kemudian ia jual satu ekor dengan harga satu Dinar. Ia pulang membawa satu Dinar dan satu ekor kambing. Nabi S.A.W. mendoakannya dengan keberkatan dalam jual belinya. Seandainya ‘Urwah membeli debupun, ia pasti beruntung” (H.R.Bukhari)
Dari hadits di atas, kita bisa melihat bukti bahwa nilai emas dan perak, sejak zaman Rasulullah Sholallahu 'alaihi wassalaam, relatif stabil. Saat ini kita masih bisa mendapatkan kambing dengan harga 1 dinar (2,2 - 2,3 juta rupiah). Pertanyaannya, 10-20 tahun yang akan datang, apakah kita masih bisa membeli seekor kambing dengan harga Rp 2,2 juta? Saya rasa tidak, jika melihat histori harga kambing 10-20 tahun ke belakang.

Sistem keuangan yang saat ini kita alami, tentu mengutamakan "toilet paper" karena yang berhak mencetak uang kertas adalah orang-orang itu juga. Mencetak uang dari angin. Mereka mengetahui betul bahwa uang kertas itu lambat laun tidak akan ada nilainya. Semu. Coba lihat model investasi mereka, tentu bukan menabung uang kertas secara konvensional, tapi dibelikan emas, perak, properti (tanah), dan lain sebagainya yang lebih abadi.

Mari kita bersama-sama kembali ke sistem keuangan berbasis emas dan perak. Insya Allah.