Tampilkan postingan dengan label Saham. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saham. Tampilkan semua postingan

5 Langkah Gampang Analisis Fundamental Saham

Pada kesempatan sebelumnya kita sebetulnya sudah langsung mempraktekkan ilmu dan pelajaran penting seputar saham dari Sekolah Pasar Modal, berikut bertransaksi saham dengan menggunakan DT Next G, aplikasi dari Bahana Securities. Tulisan ini akan memberikan summary dari langkah-langkah yang biasanya penulis lakukan dalam memberikan valuasi pada saham sebuah perusahaan atau emiten di pasar modal.

1. Memahami Definisi Analisis Fundamental

Analisis fundamental dalam saham adalah analisa saham dengan cara memperhatikan dengan seksama kinerja perusahaan, dengan tujuan mengetahui apakah harga saham perusahaan tersebut masih "wajar" di pasar modal atau market. Analisis dalam saham sebetulnya terbagi menjadi dua "mazhab" utama : analisis fundamental, dan analisis teknikal.

Analisis teknikal adalah metode analisa saham dengan memperhatikan pergerakan harga saham tersebut di market (pembacaan grafik, melihat tren, dan semacamnya). Untuk analisis teknikal, mungkin tidak menjadi perhatian utama penulis di blog ini karena penulis pribadi cenderung lebih mantap dengan mazhab fundamental.

Anda bisa membaca situs-situs yang berisi informasi lengkap mengenai analisis saham fundamental misalnya pada website teguhhidayat.com untuk menambah referensi. Penulis menyarankan juga untuk mengikuti salah satu seminar beliau, karena secara pribadi penulis pernah ikut pula di tahun 2013 saat baru pertama kali mengenal dunia investasi di pasar modal

(btw, ini bukan iklan dan saya tidak mendapat bayaran apa-apa ya, hehe).

2. Terbiasa dengan Operasi Matematika Sederhana

Operasi matematika sederhana yang penulis maksud adalah operasi penambahan, pengurangan, pengalian, pembagian, persen, dan sekitarnya. Jika Anda bisa membaca artikel ini, insya Allah penulis rasa maka langkah ini akan dengan mudah kita lewati bersama.

Namun jika Anda merasa bahwa Anda lemah dalam pelajaran berhitung, jangan khawatir pula karena djaman sekarang sudah ada yang namanya "program komputer".

Yang perlu Anda lakukan hanyalah input data berupa angka-angka ke dalam kolom yang telah disediakan, misalnya dengan menggunakan file Excel atau Spreadsheet.

3. Rajin melihat informasi resmi pasar modal di idx.co.id

Informasi tentang saham tentu berseliweran di jagat maya. Mulai dari situs yang penulisnya abal-abal, sampai sekadar celetukan orang di media sosial. Namun semuanya pasti kembali ke "kitab utama" para analis fundamental, ya situs PT Bursa Efek Indonesia ini. Kita pun tidak perlu membaca semua informasi juga, karena untuk analisis fundamental, menurut saya kita hanya perlu mengakses halaman yang berisi laporan keuangan dan tahunan di halaman ini : https://idx.co.id/perusahaan-tercatat/laporan-keuangan-dan-tahunan/

Silakan download file-file dari perusahaan atau emiten yang Anda rasa menarik untuk dianalisa. Biasanya laporan keuangan (kita singkat saja LK) perusahaan akan diterbitkan 4 kali dalam setahun atau 3 bulan sekali, di bulan Maret, Juni, September, dan Desember. Biasanya ya.. Karena untuk perusahaan-perusahaan tertentu biasanya juga terlambat jadi jangan dijadikan patokan juga.

Setelah didownload, file tersebut bisa kita baca mulai dari halaman pertama hingga terakhir. Itupun kalau Anda sudah pensiunan dan nggak punya kesibukan lain selain baca LK yang jumlah halamannya bisa ratusan. Jadi, untuk menghemat waktu, cukup baca summary-nya saja, yang biasanya di beberapa halaman paling depan.

Analisis Fundamental Saham ADRO
Contoh Laporan Keuangan ADRO di 1Q2018

Analisis Fundamental Saham ADRO 2

Analisis Fundamental Saham ADRO 3

Analisis Fundamental Saham ADRO 4

Analisis Fundamental Saham ADRO 5


Dari summary atau beberapa halaman di bagian depan, kita bisa lihat beberapa poin penting. Untuk metode analisis fundamental paling sederhana, kita perlu melihat neraca dan laba-rugi perusahaan. Yaitu pada poin-poin berikut ini :

A. Jumlah Aset

Terdiri dari Jumlah Aset Lancar dan Aset Tidak Lancar. Jumlah Aset Lancar adalah jumlat aset yang bisa diuangkan / dicairkan dalam waktu relatif cepat. Sedangkah aset tidak lancar ya aset yang selain itu. Perusahaan yang bagus adalah yang aset lancarnya melebihi aset tidak lancarnya, karena itu artinya "cadangan duit" perusahaan banyak, dan bisa digunakan jika perusahaan tiba-tiba mau bangkrut, dll.

B. Liabilities atau Kewajiban

Gampangnya, ini adalah "hutang" perusahaan.

C. Saldo Laba / Retained Earnings

Saldo Laba didapat dari menjumlahkan appropriated retained earnings dan unappropriated retained earnings. Tapi kalau di LK-nya sudah disatukan, kita tinggal copas saja.

D. Jumlah Ekuitas / Total Equities

Kata lain dari total equities adalah modal bersih. Rumus sederhananya adalah total aset dikurangi total liabilities. Tapi biasanya sudah dicantumkan di LK sebagai "Ekuitas" saja.

E. Modal Saham / Share Capital

Cari pada laporan keuangan kata "Modal ditempatkan dan disetor penuh". Pada umumnya perusahaan menuliskan "modal dasar" saja. Cari modal saham yang paling baru (sesuai waktu keluarnya LK).

F. Penjualan Bersih / Net Sales

Net Sales ini adalah angka yang keluar dari total penjualan dikurangi dengan biaya-biaya yang terkait penjualan seperti diskon, returns, dan biaya semisalnya. Tidak perlu pusing karena field "Net Sales" biasanya sudah dicantumkan oleh pembuat LK-nya.

G. Laba Usaha / Operating Income

Laba usaha itu angka yang keluar dari laba dikurangi dengan biaya terkait operasional perusahaan seperti gaji karyawan, sewa alat, dll.

H. Laba Bersih / Net Income

Sedangkan Laba Bersih atau Net Income adalah laba usaha dikurangi dengan beban atau biaya non-operasional seperti pajak, bunga utang, dll. Jangan pusing-pusing, search aja di PDF-nya "Net Income" insya Allah ketemu.

I. Laba Bersih per Share / Earning per Share (EPS)

EPS atau Earning per Share adalah hasil dari Laba Bersih (net income di atas), dengan jumlah sahamnya.

Contoh sederhana, jika laba bersih = Rp 10 juta. Terus saham beredar 1000 lembar. Maka per lembar sahamnya akan kecipratan earning sebesar 10 juta dibagi 1000 lembar = Rp 10.000. Nah, tinggal masing-masing investor punya berapa lembar saham, dikaliin aja. Misal saya pegang 1 lot = 100 lembar, maka earning-nya = Rp 10.000 x 100 = Rp 1.000.000.

Lebih jauh tentang neraca / laporan laba-rugi, mungkin akan kita bahas lebih detail pada kesempatan berbeda.

4. Menghitung / Analisis Rasio-rasio Keuangan

Rasio-rasio pada laporan keuangan ini meliputi rasio pasar dan rasio-rasio lainnya. Khususon rasio keuangan, kita sudah pernah singgung sekilas di tulisan sebelumnya. Silakan baca lagi tentang pengalaman penulis di sekolah pasar modal. Sebetulnya agar lebih mudah, nilai dari masing-masing rasio keuangan kita bisa dapatkan dari analis sekuritas tempat kita memiliki RDN / broker (untuk penulis, dari Bahana Securities).

Insight berupa rekomendasi saham, baik yang ditulis dari analis fundamental atau teknikal, biasanya dikirim hampir setiap hari dalam format PDF. Jika Anda merasa tidak mendapatkan informasi tersebut, silakan kontak broker saham Anda. Jika mereka tidak memiliki itu, segera ganti broker saja, karena broker lain yang bagus masih banyak.

Oke, timbul pertanyaan, jika pegawai broker, analis sekuritas juga telah merilis analisis versi mereka, dilengkapi dengan "nilai-nilai yang sudah jadi", lalu untuk apa kita repot-repot untuk melakukan analisa dan membaca laporan keuangan perusahaan?

Alasan pertama, laporan dari broker pasti ada selisih waktu dengan laporan keuangan yang dirilis perusahaan. File PDF yang kita bisa download dari situs idx, itu berlaku sama untuk semua orang, tidak ada yang dapat melihatnya lebih dulu atau belakangan. Selisih waktu ini wajar, karena broker akan melakukan review pada (relatif) semua jenis saham dari berbagai sektor. Jumlahnya banyak sekali. Sedangkan kita (mungkin) hanya tertarik pada beberapa saham saja. Walau pegawainya broker itu banyak, mungkin mereka punya prioritas lain.

Nah, selisih waktu (berkisar antara hitungan hari sampai bahkan 1 bulan) tersebut valuasinya besar, karena pergerakan pasar sangat dinamis. Orang sudah duluan action, kita masih menunggu info dari broker atau software trading. Artinya, kita beli / jual di saat sahamnya sudah duluan naik / turun. Intinya kita rugi waktu.

Alasan kedua, dan menurut saya yang lebih penting, adalah informasi dari broker bersifat opsional, dan seringkali subjektif. Penting untuk kita ingat, bahwa rekomendasi saham itu sifatnya hanyalah sekadar rekomendasi. Saran sampingan dari rekan sesama penikmat kopi di warung. Bukan kitab suci yang harus diikuti sampai mati. Beberapa rekomendasi bahkan bersifat "menjebak", misalnya karena broker menjadi penjamin emisi perdana (IPO) salah satu saham. Ya tentu kan, broker juga pengen untung, masak dia nggak "jualan" juga.

Dari beberapa rasio keuangan yang menarik, kita bisa lihat beberapa saja.

EDR = Equity to Debt Ratio

Ini adalah rasio ekuitas terhadap kewajiban / hutang. Rumusnya mudah, yaitu ekuitas dibagi liabilities. Jika jumlah ekuitas lebih besar dari hutangnya, maka nilai EDR akan lebih dari 100 persen. Artinya perusahaannya kondisinya semakin baik.

EER = Earnings to Equity Ratio

Perbandingan saldo laba dengan ekuitasnya. Rumusnya : saldo laba dibagi equity. Karena saldo laba atau earnings itu selalu merupakan bagian dari equity, maka nilai EER ini pasti selalu di bawah 100%. Berhati-hati dengan perusahaan yang EER-nya minus karena itu berarti perusahaan merugi terus.

EAR = Equity to Asset Ratio

Rasio ekuitas terhadap asset. Mirip dengan EDR, nilai EAR membandingkan ekuitas dengan aset. Nilai yang besar berarti semakin baik perusahaannya.

Annualized ROA

Return on Asset atau rasio laba bersih dibanding aset. Ada istilah annualized yang artinya "disetahunkan", artinya jika laporan keuangan dibuat pertengahan tahun, maka nilainya harus dikali 2. Jadi dianggap setahun. Jika LK muncul di Q3, maka nilainya dikali 4/3. Semakin besar value ROA, maka semakin baik perusahaannya.

Annualized ROE

Perbandingan laba bersih dengan ekuitas. Jika nilainya naik 100 persen dibandingkan period setahun sebelumnya, maka kita bisa katakan bahwa perusahaan "sudah bisa balik modal dalam waktu setahun". Perusahaan seperti ini amat langka karena pada umumnya balik modal itu bisa 5 tahun. Jika angkanya kecil atau bahkan minus, maka berhati-hatilah karena berarti perusahaan merugi. Langsung blacklist dan jangan dibeli sahamnya.

Dari rasio-rasio di atas, kita bisa melakukan analisis secara umum, dan memberi penilaian apaka sebuah saham berharga wajar (mahal / murah / dll) dengan memperhatikan parameter-parameter lanjutan di bawah ini :

Market Capitalization

Market Cap atau valuasi perusahaan di pasar modal. Yaitu merupakan hasil kali dari harga sahamnya per lembar, dikalikan dengan jumlah saham yang beredar. Angka ini juga bisa berarti, jika seseorang ingin mengakuisisi sebuah perusahaan 100%, maka ia harus menyediakan dana sejumlah market cap ini. 

Misal harga sahamnya Rp 1,000. Dan jumlah saham beredar 100 juta lembar. Maka kita harus menyediakan Rp 100 Milyar untuk mengakuisisi perusahaan.

Market Cap / Asset

Nilai dari market cap dibagi dengan aset ini merupakan angka yang menunjukkan seberapa "mahal" sebuah perusahaan di mata market. Angka yang tinggi biasanya membuat harga sahamnya sudah mahal. Kalau angkanya kurang dari 1x, wah ini dilema juga perusahaannya kok harga sahamnya "murah"? Jangan-jangan ada apa-apanya?

Annualized PER

Price to Earning Ratio yang sudah disetahunkan (ingat konsep "annualized" di atas). Rumusnya adalah harga saham dibagi EPS (earning per share) yang disetahunkan. 

PBV (Price to Book Value)

Di sini banyak "pakar" investasi berbeda pendapat tentang "Book Value". Tapi untuk kesederhanaan tulisan ini, kita anggap saja nilai PBV adalah nilai saham dibagi dengan nilai buku, atau market cap dibagi ekuitas. Rata-rata saham di Bursa Efek Indonesia memiliki PBV 2-3 kali (musim normal). Jadi nilai PBV yang tinggi mencerminkan bahwa sebuah saham ini tergolong mahal.

5. Pengambilan Keputusan (Sell, Buy, Hold)


Masih berkaitan dengan langkah nomor empat di atas, bahwa Andalah yang bertanggung jawab terhadap uang yang akan Anda investasikan. Mau itu rugi jutaan / milyaran, broker dan yang membuat rekomendasi saham tidak bisa dituntut.

Akhir kata... ANDA yang menjadi penarik picu senjatanya. ANDA yang mengetikkan di harga berapa saham perusahaan X akan Anda beli. ANDA yang memasukkan PIN saat memutuskan untuk Sell / Buy di software trading. ANDA sendiri pula yang menjadi penentu apakah investasi yang Anda lakukan itu akan menguntungkan atau tidak.

Jangan ada kesedihan menye-menye jika memang harga saham anjlok, dan tidak pula berbangga hati karena nilai investasi kita meningkat. Semua rejeki sudah digariskan, dan kita wajib berusaha.

Di tulisan berikutnya, kita akan coba implementasikan metode analisis fundamental pada saham yang menurut penulis layak dikoleksi atau menarik untuk dibahas. Nantikan saja ya..

Salam, dan selamat berinvestasi!

Ketika IHSG Anjlok, Apa Yang Mesti Dilakukan?

Indeks Harga Saham Gabungan adalah cerminan harga saham yang listing di Bursa Efek Indonesia. Rumus untuk menghitung IHSG sudah pernah kita pelajari pada tulisan berseri sebelumnya, tentang Sekolah Pasar Modal. Ingat bahwa sebenarnya composite index adalah akumulasi rasa percaya masyarakat (investor) pada kinerja saham perusahaan. Ketika IHSG anjlok, justru itulah bukti bahwa mekanisme pasar sedang berjalan.

stock market


Apa yang mesti dilakukan ketika IHSG anjlok?

Tetap tenang

Saya belum lama belajar tentang dunia saham, namun dari banyak membaca blog dan mengikuti seminar tentang analisis saham fundamental, justru inilah saat yang ditunggu-tunggu oleh para investor. Kondisi harga saham berjatuhan inilah saat "diskon", saat di mana harga dari saham-saham berfundamental bagus mengalami penurunan harga. Ingat, posisi rugi atau untung hanya tercapai ketika portfolio anda berubah (ada transaksi jual atau beli). Bayangkan Anda membeli emas seberat 50 gram 24 karat. Anda simpan di lemari. Mau harga emas sedang naik atau turun, emas Anda tetap 50 gram 24 karat, kecuali Anda menjualnya.

IHSG Anjlok = Harga Murah = Membeli Lebih Banyak

Perbedaan investor bergaya fundamental dan teknikal (hanya membaca grafik) salah satunya adalah investor bergaya fundamental tidak gampang panik dengan pasar. Di saat ada badai, fundamentalis berusaha melihat ke langit, berharap ada kilatan cahaya. Di saat pasar hancur, justru mereka senang karena di situlah momen di mana portfolio akan bertambah. Saham yang dulu dikira mahal mungkin sekarang jadi terlihat nggak terlalu mahal. Di saat orang laen jual, kita beli.

Investasi jangka panjang

Perhatikan sektor yang tetap prima sepanjang masa, jangan hanya berpatokan pada harga hari ini dan kemarin. Pada tahun 2002, ketika itu IHSG 425 rupiah, dan setelah 12 tahun nilainya menjadi 12 kali lipat. Cermati sektor-sektor yang akan tetap dilirik orang walau ketika keadaan ekonomi sedang sulit. INDF contohnya, justru ketika lagi krismon, Indom*e makin laku kan? Atau UNVR misalnya, apakah ketika krismon orang jadi berhemat mandi nggak pake sabun? Nggak mungkin.

Meninjau kembali portfolio

Kesalahan orang berinvestasi yang paling umum adalah karena nggak kenal sama perusahaannya (tempat berinvestasi), atau bahkan nggak tahu mereka jualan apa. Mungkin sudah menjadi kelumrahan, orang-orang Indonesia itu kalau dengar investasi hitungannya langsung "Saya setor segini, sekian bulan/tahun jadi segini, jadinya pasti untung sekian persen". Inilah yang bikin investasi bodong jadi marak. Karena orang-orang nggak peduli duitnya dikemanakan, usahanya seperti apa, dan orang yang menjalankan usahanya bisa dipercaya atau tidak.

Coba dilihat-lihat lagi portfolio kita, apakah masih mengandung saham yang nilainya di bawah 100 perak selembar? Apakah kita benar-benar tahu perusahaan tempat kita menaruh uang? Apa barang dagangannya? Suka kena imbas regulasi dadakan pemerintah atau tidak (contoh: batubara, barang tambang)? Siapa direksinya? Suka kena kasus? Atau hanya kita percayai hanya karena ketika kita mencari namanya dari Google, yang keluar adalah orang tersenyum pake peci dan jas necis?

Cara Automatic Order Saham

Di aplikasi trading sebelah milik etrading securities, hal ini telah lama dimungkinkan. Tak mau kalah, kita akan bahas cara automatic order di DT NextG pada kesempatan kali ini. Fitur automatic order saham di Bahana Securities memang telah lama dinantikan.

Apa itu Automatic Order?

Fitur automatic order baik untuk trading ataupun analisis fundamental sama-sama berperan penting untuk taking profit ataupun cut loss (jual rugi, demi mengurangi kerugian yang lebih besar lagi jika harga saham pilihan di portfolio terus menurun). Secara singkat, automatic order adalah melakukan order secara otomatis ketika harga saham telah mencapai titik tertentu yang kita inginkan.

Langsung saja login ke DT NextG dan cari menu Automatic Order dari Menu -> Order -> Automatic Order (nomor 4014)

menu automatic order saham
Menu Automatic Order Saham
Setelah memilih menu automatic order, selanjutnya kita akan inquiry detail portfolio dengan memasukkan PIN.

detail menu automatic order saham di DT NextG
Detail Menu Automatic Order saham di DT NextG

Cara Automatic Order Saham di Portfolio

Klik dua kali pada salah satu saham yang akan dijual secara otomatis, sehingga tampilannya terlihat seperti berikut.

automatic order saham WIKA dengan DT NextG

Andaikan kita yakin WIKA akan terus naik hingga ke level 2900. Dari gambar di atas, saat ini last price adalah 2215, masih jauh dari yang kita harapkan. Pada bagian Setting Price, set ke harga = Rp 2900. Untuk Setting Type, pilih Last Price. Pada Order Price, kita set ke harga Rp 2900, namun bisa saja kita set di harga 2950 atau lebih tinggi. Untuk pilihan Lot atau "Over all available volume to sell" kita bisa set mau jual parsial atau semuanya. Jika ingin menjual parsial, pilih tab "Stop Loss".

Field "Valid Until" membatasi automatic order, maksimal hingga 1 (satu) bulan ke depan. Field "RG" berarti kita menjual saham di pasar reguler. Pilih automatic, bukan semiautomatic, agar order tetap berjalan walau komputer dimatikan. Setelah semuanya beres, kita tinggal klik tombol SAVE Setting. Lalu menunggu.

Perlu diingat bahwa saat ini DT NextG hanya mendukung fitur automatic order untuk SELL saja, bukan BUY, seperti fitur automatic order di eTrading.

Membatalkan Automatic Order

Selamat sebuah automatic order tidak tereksekusi, maka sistem Bahana akan terus melakukan order secara otomatis pada sistem JATS Bursa Efek Indonesia, setiap hari selama bursa efek buka. Jika memang ingin membatalkan automatic order, kita tinggal menuju tab Order List, dan klik "Clear" atau "Off".

Demikian cara automatic order saham dengan Bahana DT NextG. Semoga bermanfaat.

Beli dan Jual Saham dengan DT NextG

Pada kesempatan kali ini penulis akan menjelaskan teknis beli dan jual saham dengan menggunakan aplikasi DT NextG dari Bahana Securities. Broker ini adalah broker tempat penulis menjadi nasabah, karena Bahana juga merupakan salah satu sponsor di Sekolah Pasar Modal 2013 yang penulis ikuti. Sebagai awal, deposit pertama cukup 200 ribu rupiah saja khusus untuk peserta SPM 2013. Cukup murah untuk sekadar belajar berinvestasi di dunia pasar modal.

ilustrasi trading saham


Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Bahana Securities dan sekolah pasar modal, Anda bisa search artikel di blog ini dengan keyword "Sekolah Pasar Modal".

Dahulu, aplikasi untuk online trading dari Bahana dinamakan Direct Trading, namun versi terbarunya, DT NextG, memiliki fitur yang jauh lebih lengkap. Bertransaksi jual dan beli saham dengan aplikasi ini jauh lebih mudah daripada pesen baju bayi dari online shop yang pake Facebook. Serius.

Oya, untuk awal, mungkin ada yang bertanya, berapa idealnya jumlah uang yang mesti dipersiapkan untuk awal-awal terjun di bursa? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan sederhana : sejumlah uang yang Anda rela korbankan untuk HILANG. Kalau ikhlas 1 juta, ya 1 juta. Ikhlas hilang 10 juta, setor 10 juta. Itu jawaban yang saya dapat dari sekolah pasar modal.

Langkah-langkah untuk membeli / menjual saham di bursa efek (kita hanya membicarakan khusus Pasar Reguler) adalah sebagai berikut.

Cara Mendaftar di Salah Satu Broker Saham

Broker bisa perusahaan mana saja. Pilihlah perusahaan yang bonafid, yang memiliki reputasi baik, misalnya dari segi jumlah nasabah, kesediaan fitur online trading, jumlah transaksi yang ditangani, sampai soal komisi transaksi yang kompetitif. Menjadi salah satu nasabah di broker tidak sulit, mirip ketika Anda membuka rekening di Bank. Isi formulir, dan tunggu sekitar 10 hari kerja. Kita akan memiliki Rekening Dana Nasabah yang sejatinya adalah rekening bank (untuk Bahana Securities, bekerja sama dengan BNI).

Rekening Dana Nasabah adalah tempat di mana kita melakukan setor/credit atau top up yang menjadi tempat khusus kita bertransaksi, baik jual maupun beli saham. Perlu diingat bahwa rekening ini sifatnya mirip rekening haji, sekali Anda setor, perlu prosedur khusus untuk menariknya kembali.

Download Aplikasi DT NextG untuk Online Trading

Kunjungi websitenya di http://directtrading.co.id/download, lalu unduh berkas instalasi sesuai dengan platform yang kita gunakan. Saat ini tersedia untuk Mac OSX, Windows, iOS, Android, dan BlackBerry. Sayang sekali penulis belum pernah mencobanya di Linux. Untuk Mac OSX, diperlukan Adobe Air versi terbaru. Klik dua kali pada berkas unduhan, lalu jalankan aplikasi seperti biasa.

Halaman Login DT NextG

Setelah aplikasi berjalan, kita akan dihadapkan pada halaman login. Gunakan username dan password yang didapat dari Bahana Securities (by system, dikirim via email). Ketika mengalami kesulitan, kita juga bisa telpon atau hubungi sales Bahana via email. Ada 2 kali "login" di dalam aplikasi DT NextG. Pertama, untuk masuk ke aplikasi dan sekadar melihat-lihat data dari bursa. Kedua, menggunakan PIN untuk melakukan transaksi jual, beli, amend order, dll (semua transaksi finansial).

halaman login dt nextg
Halaman Login DT NextG

Cara Jual dan Beli Saham

Harga saham di bursa berkisar dari Rp 50 per saham hingga sekitar Rp 1,050,000 (MLBI). Harga saham tidak mungkin turun hingga di bawah harga Rp 50 per saham. Karena minimal pembelian di Pasar Reguler adalah 1 lot = 100 saham, maka kita hanya butuh goceng alias 5rebu perak untuk membeli saham. Jumlah yang lebih kecil daripada harga sebungkus nasi padang.

Setelah login di aplikasi DT NextG, pilih menu "Buy Order" atau ketik 4001 lalu enter di field pencarian. Tampilannya akan jadi seperti berikut ini.

menu buy order dt nextg
Menu Buy Order

Menu Buy Order Saham DT NextG
Menu Order -> Buy Order, untuk membeli saham
Misalnya kita ketikkan TLKM untuk kode saham Telkom. Perhatikan bahwa kode saham biasanya merupakan 4 huruf yang mencerminkan nama sahamnya.

Membeli saham via DT NextG
Search kode saham yang diinginkan untuk dibeli
Mulai dari bagian kiri atas, adalah nomor nasabah, nama saya, dan field untuk PIN (bila hendak melakukan order). Code merupakan kode saham. Price untuk harga yang diminta. Jika checklist "Auto (Last)" dipilih, maka harga yang kita bid menyesuaikan offer price terbaik / termurah (lebih lanjut tentang Bid dan Offer, baca artikel sebelumnya tentang bagaimana sebuah harga saham terbentuk).

Selanjutnya untuk "Vol" adalah volume dalam satuan lot yang hendak dibeli. Jadi kalau beli 1 lot = 100 saham dikali harga diminta, itulah dana yang harus kita sediakan. "Mkt" adalah Market atau tipe pasar, dalam hal ini tidak bisa diubah alias hanya berkutat di Pasar Reguler. "Expire" berisi pilihan "Day" atau "Session". Ada kalanya harga yang kita minta itu terlalu rendah sehingga nggak ada match atau tidak ada yang jual di harga segitu. Jika order kita lakukan di sesi 1, maka kalau "Day" yang dipilih, di sesi 2 nanti order akan terus dilanjutkan, tapi jika "Session" yang dipilih, order langsung dicancel otomatis. Untuk field "Value" adalah dana yang harus disediakan (jumlah lot x harga bid).

Untuk panel di bagian kanan, terdapat angka-angka yang biasanya berwarna hijau, merah, atau kuning. Hijau berarti ada peningkatan, merah turun, dan kuning tetap.
BidVol : Volume saham yang terjadi di harga tersebut dalam satuan lot
Bid : Harga bid atau harga yang diminta investor
Offer : Harga offer atau harga jual saham
OfferVol : volume offer di harga tersebut, dalam satuan lot pula

Tampak dari panel, posisi offer yang paling bagus atau termurah saat ini menjadi last price atau harga yang ditunjukkan oleh sistem untuk saham tersebut, dalam kasus TLKM adalah 2215. Jika kita melakukan order pada harga ini, maka sistem akan langsung melakukan match atau deal atau order terjadi. Sedangkan jika kita melakukan bid pada harga katakan 2210, maka kita mesti menunggu karena ada order sebelumnya yang sudah terjadi di bid tersebut, sebanyak 6079 lot.

Panel di bawahnya menunjukkan pergerakan harga saham tersebut. Dari gambar di atas
Last : posisi harga terakhir, yang meningkat 40 poin atau 1,83% dari harga penutupan hari sebelumnya.
Freq : Frekuensi transaksi yang terjadi
Volume : jumlah lot yang terjual
Value : nilai transaksi keseluruhan
Prev : Harga saham di hari sebelumnya, diberi label kuning karena di harga sebelumnya juga segitu.
Prev High : Harga transaksi yang tertinggi yang terjadi di hari sebelumnya.
Prev Low : Harga terendah saham di hari sebelumnya
High : Harga transaksi tertinggi sepanjang hari ini
Open : Harga pembukaan (saat market dibuka jam 9 pagi)
Low : Harga terendah yang terjadi sepanjang hari ini

Untuk panel paling bawah terdapat
Cash on T+3 : jumlah uang yang saya punya saat ini untuk bertransaksi. Ungkapan T+3 adalah transaksi sebenarnya baru akan terjadi 3 hari setelah order berhasil. Tampak bahwa di deposit saya hanya tinggal Rp 160,889 sehingga saya nggak bisa beli saham yang mahal.
Remain Trading Limit : Fasilitas trading limit adalah fasilitas "ngutang" yang disediakan oleh broker. Jadi walau saya nggak punya uang sekarang, broker bisa ngebayarin dulu transaksinya, dengan catatan saya harus bayar sebelum T+3. Darimana angka Rp 6,098,798 didapat? Tak lain tak bukan adalah nilai keseluruhan saham yang saya pegang saat ini jika dijual dengan harga pasar.

Mekanisme menjual saham atau Sell Order tidak jauh berbeda dari proses membeli saham atau Buy Order. Lihat saja panelnya di bawah ini.

Panel Sell Order saham
Panel Sell Order saham di DT NextG

Pengalaman Sekolah Pasar Modal Bursa Efek Indonesia (Bagian 4)

Tulisan Pengalaman Sekolah Pasar Modal ini adalah lanjutan tulisan berseri tentang Pasar Modal yang penulis ikuti tahun 2013 silam. Pada bagian akhir tulisan ini, kita akan sama-sama belajar melakukan transaksi langsung menggunakan aplikasi DT NextG dari Bahana Securities (tempat penulis menjadi nasabah).

stock exchange atau bursa efek


Mekanisme Transaksi di Bursa Efek Indonesia

Di Bursa Efek Indonesia, perdagangan saham seluruhnya diproses oleh komputer, sehingga tak ada lagi "lembaran" dan saham kini tak lagi disebut sekian "lembar", karena memang tak ada lagi kertas saham. Terdapat beberapa macam pasar di bursa efek. Pasar saham dibagi menjadi pasar saham reguler, negosiasi, dan pasar tunai.

Pasar Reguler (kode RG)

Perdagangan dan proses tawar menawar di pasar reguler dilakukan secara lelang yang berkesinambungan (continuous auction). Penyelesaian transaksi dilakukan pada hari ketiga setelah transaksi dilakukan. Misalnya transaksi terjadi hari Senin, maka uang baru akan berpindah tangan di hari Kamis. Jika transaksi terjadi di hari Rabu, maka serah terima baru akan terjadi di hari Senin (karna Sabtu dan Minggu bursa libur). Semua transaksi dilakukan secara remote menggunakan JATS - NextG, dengan jumlah saham yang diperjualbelikan harus dalam satuan round lot = 500 saham (namun sejak 6 Januari 2014,  1 lot = 100 saham. Ini memungkinkan investor membeli ketengan).

Pasar Negosiasi (Crossing)

Pasar negosiasi berisi transaksi yang tidak umum, misalnya transaksi jual beli saham perusahaan yang sifatnya individual, dan semuanya relatif bersifat tawar menawar antara kedua belah pihak. Hingga saat ini, transaksi saham terbesar (dengan ukuran nominal) terjadi ketika Phillip Morris membeli saham Sampoerna, yang nilainya mencapai 20 trilyun rupiah. Pada pasar negosiasi, berapa pun nilai jual sahamnya, tidak akan mempengaruhi harga saham di pasar reguler.

Pasar Tunai (kode TN)

Mekanisme transaksi di pasar tunai sama dengan di pasar reguler, hanya saja penyelesaian/serah terima dilakukan di hari yang sama dan dilakukan hanya pada sesi pertama (lebih lanjut tentang sesi, akan dibahas pada bagian "Jam Perdagangan di Bursa Efek Indonesia).

Pada tulisan ini, kita akan melulu berkutat di Pasar Reguler saja.

Jam Perdagangan di Bursa Efek Indonesia

Proses jual beli atau transaksi saham harus berada pada hari kerja (Senin - Jumat) dengan jam perdagangan sebagai berikut (sekali lagi kita hanya berbicara di ruang lingkup Pasar Reguler) :

Sesi Pra-Pembukaan = 08:45 - 08:55
Sesi 1 = 09:00 - 12:00 (11:30 jika hari Jumat)
Sesi 2 = 13:30 (14:00 jika hari Jumat) - 15:49:59
Sesi Pra-Penutupan = 15:50 - 16:00
Sesi Pasca Penutupan = 16:05 - 16:15

Harga saham harian akan ditentukan oleh harga pada sesi pasca penutupan. Pada sesi pra-pembukaan dan pasca penutupan, layar di lantai bursa akan "blank" alias gelap. Tidak ada yang tahu transaksi apa yang sedang terjadi, apalagi di harga berapa saham diperdagangkan. Ini mengurangi kemungkinan sebuah harga saham "digoreng" oleh "bandar". Lebih lanjut tentang goreng-menggoreng saham, mungkin di tulisan berbeza.

Fraksi Harga Saham

Dalam proses tawar menawar harga saham, karena bersifat lelang, maka fraksi harga bervariasi mengikuti harga sahamnya. Contoh, bila saham memiliki harga Rp 3000 per share, maka proses lelang/tawar menawar harga hanya boleh terjadi di kelipatan Rp 25, yaitu 3025, 3050, 3075, dst.

Detail fraksi harga saham menurut harganya.

HargaFraksi Harga
Rp 50 - Rp 200Rp 1
Rp 200 - Rp 500Rp 5
Rp 500 - Rp 2000Rp 10
Rp 2000 - Rp 5000Rp 25
Rp 5000 ke atasRp 50

Kenaikan atau penurunan harga saham yang ideal adalah di bawah 10%, jika perubahannya lebih dari range 20% - 35%, maka JATS / system akan mereject order secara otomatis. Kenaikan dan penurunan harga saham yang tidak wajar (salah satunya karena sebab goreng menggoreng saham) dapat menyebabkan sebuah saham "halting" atau suspended atau dihentikan transaksinya oleh otoritas Bursa dan Bapepam.

Salah satu contoh perubahan harga saham yang tidak normal terjadi pada sahamnya "orang yang bentar lagi mau jadi calon presiden" (nggak udah disebut lagi siapa), waktu naik dari kisaran 300 perak sampai 8000 rupiah per saham hanya dalam hitungan hari. Nyang punya perusahaan langsung diinterogasi bursa.

Bagaimana Harga Saham Terbentuk?

Pembentukan harga saham bukan ditentukan oleh Bursa Efek Indonesia, Anggota Bursa atau Emiten. Namun didasari oleh permintaan dan penawaran pasar, yang diolah oleh komputer JATS, mempertemukan matched offer dan bid. Jika kita melihat iklan-iklan harga rumah, coba perhatikan, apa memang benar harganya sampai selangit itu? Jika dikatakan, "harga rumah di kawasan X sudah meningkat 10 kali lipat sejak 6 bulan lalu, menjadi 20 Milyar rupiah", pertanyaan besarnya apa benar telah terjadi proses transaksi di harga segitu??

Tidak semua order, baik jual maupun beli, akan menyebabkan terbentuknya harga. Contoh proses pembentukan harga saham bisa dilihat dari skenario berikut.

Investor A ingin membeli saham XYZ di harga 5000 (20 lot) dan Investor B ingin menjual saham yg sama di harga 5200 (10 lot).

LotBidOfferLot
 20 50005200 10

Pada kondisi saat ini, harga belum terbentuk karena tidak ada match / kesesuaian antara harga jual dan harga beli. Kemudian datanglah investor C, dengan harga 5100 dia jual 50 lot. Sesuai dengan price priority penjualan dan time priority, maka harga 5100 (harga paling murah yang tersedia di marker) ini adalah best offer, alias harga jual terbaik. Sehingga, harga 5100 akan muncul di kolom offer / jual paling atas.

LotBidOfferLot
 20 50005100 50
5200 10

Pada kondisi ini pun harga belum terbentuk, karena belum ada kesesuaian harga jual dan beli. Datang lagi investor D ingin beli di harga 4900 sebanyak 40 lot. Bid 4900 ini masih lebih murah daripada bid sebelumnya di 5000, oleh karena itu order investor D masuk di bawah kolom bid 5000. Hingga saat ini, harga 5000 disebut sebagai best bid atau harga beli terbaik untuk yang mau jual, karena harganya masih paling mahal.

LotBidOfferLot
 20 50005100 50
 40 49005200 10

Datang lagi investor E, yang ingin menjual sahamnya di harga 5100, sebanyak 15 lot. Karena sudah ada investor yang menjual saham di harga tersebut, maka jumlah lot saham yang memiliki harga Rp 5100 menjadi 65 lot (50 + 15 lot).

LotBidOfferLot
 20 50005100 65
 40 49005200 10

Datang lagi investor F yang ingin membeli di harga Rp 5100, sebanyak 10 lot. Maka, di sini terjadi matching atau pembentukan harga karena terjadi kesesuaian antara harga beli dan jual. Lalu, lot saham siapakah yang terjual ke investor F? Saham milik investor C (50 lot) atau investor E (15 lot)? Jawabannya adalah kepada investor C karena sistem telah mengurutkan antrian jual beli berdasarkan urutan waktu order. Yang order lebih dulu akan mendapat prioritas lebih dulu.

LotBidOfferLot
 20 50005100 55
 40 49005200 10

Tampak dari tabel di atas, jumlah saham yang ditawarkan di harga Rp 5100 sudah berkurang menjadi 55 lot.

Pada tulisan berikutnya, kita akan belajar melakukan order atau bertransaksi secara langsung menggunakan aplikasi DT Next G dari Bahana Securities.

Baca juga : Bertransaksi saham dengan aplikasi DT Next G dari Bahana Sekuritas

Pengalaman Sekolah Pasar Modal IDX (Bagian 3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari seri tulisan sebelumnya, Pengalaman Sekolah Pasar Modal IDX (Bagian 1) dan Bagian 2. Tentu saja seri tulisan ini hanya sekelumit dari pengalaman saya belajar, mohon koreksi pada kolom komentar supaya kita bisa saling berbagi ilmu.

Pada tulisan lalu kita sudah belajar beberapa hal dan karakteristik penting di dunia pasar modal. Kalau sekadar untuk menjadi investor pemula, penulis pikir sekolah pasar modal dari Bursa Efek Indonesia sudah lebih dari cukup dalam memberikan bekal. Dalam tulisan kali ini kita akan belajar sedikit tentang analisis fundamental, teknikal, dan terakhir terjun langsung dalam transaksi online alias mencoba menjual atau membeli saham tertentu di pasar reguler.

buku sekolah pasar modal

Analisis Fundamental

Dalam membeli saham, terdapat 2 pendekatan utama untuk mengetahui apakah sebuah saham pantas untuk diperdagangkan. Analisa itu adalah analisa fundamental dan teknikal. Analisa fundamental adalah suatu analisa yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui sifat-sifat dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan publik.

Beberapa ukuran aktivitas ekonomi yang dijadikan dasar untuk analisa fundamental antara lain PDB (Produk Domestik Bruto, atau GDP), inflasi, tingkat suku bunga, dan fluktuasi nilai tukar mata uang (lazimnya USD). Analisa industri mempelajari keadaan kompetitif dari suatu sektor industri dalam hubungannya dengan yang lain serta mengidentifikasi perusahaan yang mempunyai potensi pada suatu sektor industri tertentu. Indikatornya misalnya penjualan, laba, dividen, struktur modal, regulasi dan inovasi.

Selain itu analisa kualitatif turut mempengaruhi analisa fundamental, yaitu menilai prospek industri di masa yang akan datang seperti kinerja, historis, kebijakan pemerintah, dan perubahan struktural. Lahirlah "ekspektasi", yakni prospek industri apa yang kemungkinan besar membuat peningkatan laba.

Analisa keuangan perusahaan biasanya dilakukan dengan menggunakan analisa rasio :

Rasio Likuiditas

Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Ditunjukan oleh perbandingan antara aset dan liabilitas (kewajiban/hutang jangka pendek) yang besar.

Rasio Aktivitas

Kemampuan serta efisiensi perusahaan di dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya. Ditunjukkan oleh perbandingan net sales (penjualan) dan total aset rata-rata. Disebut juga total assets turnover.

Rasio Rentabilitas

Menunjukkan seberapa besar tingkat keberhasilan perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan. Net profit margin = EAT (earnings after taxes) / net sales.

Rasio Solvabilitas

Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau hutang jangka panjangnya , biasa disebut rasio leverage. Debt Ratio = total debts / total assets

Rasio Pasar atau market ratios

Menunjukkan informasi pentin dari perusahaan yang ditunjukkan dalam bentuk kinerja saham.

PBV = price per book value = price / book value per share.
PER = price / earning per share
EPS = earning per share = laba bersih / jumlah saham beredar

Analisa Teknikal

Selain analisa fundamental, pendekatan lain untuk bertransaksi di pasar modal adalah analisa teknikal. Karena "aliran" blog ini lebih pada analisa fundamental perusahaan, maka kita bahas sedikit saja soal analisa teknikal ini (selain karena penulis juga tidak terlalu tertarik dengan istilah "trading saham"). Analisa teknikal adalah pendekatan yang digunakan berdasarkan pergerakan harga saham (historical price), pola tertentu, dan trading system.

Analisa teknikal tidak peduli dengan fundamental (keadaan keuangan dari sebuah perusahaan) karena analisa teknikal mempercayai bahwa harga akan bergerak dalam trend tertentu hingga terjadi perubahan permintaan dan penawaran. Jika analisa fundamental lebih pada investasi jangka panjang, analisa teknikal bisa berdasarkan hitungan menit bahkan detik, ditunjukkan oleh pembacaan chart atau grafik.

Dalam analisa teknikal dikenal berbagai istilah, misalnya

Support Level

Batasan suatu harga saham akan dibeli. Ini biasanya dilakukan dengan menarik garis horizontal pada titik harga saham terendah.

Resistance Level

Kebalikan dari support level, ini menunjukkan batasan sebuah harga jual atau ketika harga saham sedang tinggi.

Moving Average 21

Merupakan teknik pembacaan grafik dengan menggunakan harga rata-rata dari saham per hari, selama 21 hari terakhir. Karena penulis tak terlalu memperhatikan pada saat dijelaskan, ya udahlah ya cari referensi dari website lain saja. :D

Berikutnya kita akan belajar menggunakan aplikasi Direct Trading dari Bahana Securities, broker tempat penulis menjadi nasabah.

Lanjutkan membaca Sekolah Pasar Modal Bagian 4

Pengalaman Sekolah Pasar Modal IDX 2013 (Bagian 2)

Tulisan ini melanjutkan postingan terdahulu dengan judul Pengalaman Sekolah Pasar Modal 2013 (Bagian 1). Sekolah pasar modal IDX bersifat gratis.

Disclaimer : saya hanya pemula, dan tulisan ini memang dikhususkan untuk belajar saja. Sekadar perkenalan buat pembaca yang ingin mulai berinvestasi di pasar modal. Mohon maaf bila terjadi kesalahan penulisan, dan mohon koreksi dari pembaca sekalian.

Sekolah Pasar Modal 2013

Di tulisan sebelumnya kita sudah belajar sedikit tentang dunia pasar modal dan saham. Berkaitan dengan IHSG, ada pula Indeks lain seperti sektoral, LQ45, Jakarta Islamic Index, Indeks Kompas 100, Indeks BISNIS-27, dan lain-lain. Sebenarnya indeks-indeks ini adalah indeks juga, tapi sahamnya merupakan saham pilihan, sesuai namanya, misal Kompas 100 adalah saham-saham pilihan dari Kompas. Indeks BISNIS-27 merupakan saham pilihan harian Bisnis Indonesia, terdiri dari 27 saham yang dipilih berdasarkan likuiditas dan kapitalisasi pasar.

Belajar saham selain di sekolah pasar modal IDX

Banyak sekali informasi yang bisa didapat soal perkembangan saham, seperti internet, media cetak ataupun elektronik. Berinvestasi di sektor saham merupakan potensi yang besar karena saat ini hanya 1 juta orang yang berinvestasi di Pasar modal Indonesia (termasuk Reksadana, ORI, dan Unit Link). Hanya sekitar 2,5 % saja dana kelolaan reksadana dibandingkan PDB. Coba bandingkan dengan 34,6% dana kelolaan Deposito. Kita boleh bangga juga karena Indonesia memiliki kelompok penduduk kelas menengah terbesar di Asia Tenggara.

Berinvestasi di pasar modal bukannya tak berbahaya. Sekitar 4 tahun lalu, dana nasabah raib senilai Rp 9 trilyun karena belum ada Rekening Dana Nasabah (RDN). RDN ini mirip tabungan. Dulu saat orang mau beli saham, nasabah akan melakukan top-up (setor) ke rekening perusahaan broker. Masalahnya, duit nasabah masih jadi satu dengan rekening broker. Akibatnya, kalau nasabah setor dan duitnya dibawa kabur sama broker, nggak ada yang jamin. Makanya sekarang ada RDN, ini akan memisahkan rekening broker dan rekening nasabah.

Belum lagi bila perusahaan di-delisting misalnya karena bangkrut. Yang harus pertama kali dibayar adalah pemerintah, misalnya pajak. Sedangkan pemegang saham akan dibayar TERAKHIR. Bisa dikatakan, saat perusahaan di-delisting dari bursa efek, pemegang saham nggak bakalan dapet apa-apa.

Prinsip-prinsip dasar berinvestasi di Pasar Modal

  • Gunakan dana lebih (excess fund)
  • Dapatkan informasi mengenai produk investasi sebelum mengambil keputusan.
  • Don't put your egges in one basket. Diversifikasi produk investasi.
  • Disiplin, baik saat TP (taking profit) ataupun cut loss (jual rugi).
  • Kenali perusahaan sekuritas di mana Anda berinvestasi.

Bagaimana caranya membeli saham?

Pada dasarnya ada 3 cara :
  • Via Pasar Perdana
    Membeli saham pada saat sebuah perusahaan go public atau penawaran umum (IPO).
  • Pasar Sekunder
    Membeli saham yang telah tercatat di bursa, artinya yang sudah diperdagangkan oleh sesama pemegang saham.
  • Reksadana
    Membeli saham melalui pembelian unit penyertaan Reksa Dana.

Enaknya membeli saham dari perusahaan yang akan go public adalah kita tidak dikenakan biaya transaksi, karena fee penjualan sudah ditanggung oleh Penjamin Emisi. Tidak semua perusahaan yang IPO sahamnya akan laku. Misalnya karena kinerja perusahaan tidak sebagus yang diperkirakan, sehingga publik akan menganggap harga IPO terlalu mahal. Terus jarang yang beli deh.

Membuka Rekening Efek

Prinsipnya sama saja dengan membuka rekening/tabungan biasa di bank. Kita harus memilih perusahaan broker atau sekuritas dulu. Pilihlah perusahaan yang sudah bonafid, misalnya karena pertimbangan berikut.
  1. BUMN
  2. Memiliki fasilitas transaksi via internet/telpon/aplikasi mobile.
  3. Memiliki rekomendasi saham harian yang terpercaya.
  4. Fee atas penjualan dan pembelian yang kompetitif. Untuk setiap transaksi beli atau jual saham, biasanya broker mengenakan biaya yang kisarannya 0.2%. Untuk transaksi jual, sering kali selisihnya lebih mahal 0.1% daripada transaksi beli, ini dikarenakan terdapat Pajak Transaksi yang nilainya 0.1% dari nilai transaksi.
  5. Kapitalisasi. Terlihat dari seberapa besar nilai transaksi yang pernah terjadi di broker tersebut, atau jumlah nasabahnya.
  6. Minimum deposit awal yang tak terlalu tinggi. Kemarin saat Sekolah Pasar Modal, ada broker yang juga jadi sponsor. Normalnya, deposit awal minimal Rp 5juta, namun saat SPM bisa membuka rekening efek dengan minimum deposit Rp 200ribu sahaja.

Mengenai Margin (Margin Call dan Force Sell)

Contoh kasus begini : Anda memiliki saham-saham oke yang nilainya Rp 100juta. Ada sebuah saham yang ingin Anda beli, namun cash on hand (jumlah uang yang tersedia di RDN) ternyata Rp 0. Bagaimana membeli saham tanpa uang? Kita pakai cara orang Amerika : hutang. Dari mana memperoleh hutang untuk membeli saham? Dari broker. Inilah yang disebut dengan margin. Secara sederhana, margin adalah dana talangan dari broker untuk investor. Hanya broker tertentu yang memiliki fitur ini karena tak semua broker memperoleh izin.

Katakan saya ingin menggunakan fitur margin ini, dengan membeli sebuah saham dengan nilai transaksi Rp 10 juta. Berapa nilai maksimal hutangan atau margin ini perhitungannya berbeda-beda untuk masing-masing broker. Bisa jadi bisa jadi (udah kayak eat bulaga aja), nilainya 80% dari total saham yang dimiliki. Perlu diingat bahwa fitur margin ini juga memiliki bunga! Jadi kalau Anda sehari dua hari nggak bayar mungkin broker nggak peduli, tapi T+3 kalau saya belum setor-setor juga, pihak broker akan mulai meneror via telepon, mirip-mirip debt collector.

Lalu, gimana kalau ternyata setelah berhari-hari saya juga tak kunjung membayar margin? Pihak broker akan "menjual paksa" atawa Force Sell saham-saham yang saya miliki. Kalau ternyata masih kurang juga, ya urusannya jadi perdata alias siap-siap nyanyiin "Tembok Derita"-nya Asmin Cayder ajah. Jadi, menggunakan fitur margin sangat-sangat tidak direkomendasikan.

Tulisan Selanjutnya...

Di tulisan selanjutnya kita akan belajar sedikit soal analisis fundamental, teknikal, dan praktek langsung transaksi jual beli saham via aplikasi online Direct Trading dari Bahana Securities (broker tempat saya menjadi nasabah).

Lanjutkan ke Pengalaman Sekolah Pasar Modal Bagian 3

Pengalaman Sekolah Pasar Modal (1)

Disclaimer : saya bukan pakar, dan seri tulisan di kategori saham hanyalah catatan pinggir proses saya belajar. Mohon saran dan masukannya pada kolom komentar.

Pengertian Sekolah Pasar Modal

Sekolah Pasar Modal 2013 adalah sebuah program dari IDX alias PT Bursa Efek Indonesia yang diperuntukkan sebagai edukasi bagi investor pemula di dunia pasar modal (saham dan turunannya). Program ini bersifat gratis dan memang sudah dimulai sejak tahun 2006. Tulisan ini adalah cuplikan pengalaman saya di Sekolah Pasar Modal 2013 yang lalu, untuk level 1 (awal April 2013) dan level 2 (awal Mei 2013). Bila Anda tertarik ikut di kelas Sekolah Pasar Modal kloter berikutnya, silakan langsung email sekolahpasarmodal at idx.co.id dengan menyertakan identitas lengkap dan nomor kontak yang bisa dihubungi.

Pasar modal (saham dan turunannya) menjadi alternatif lain portofolio investasi karena dinilai relatif lebih menguntungkan daripada produk investasi lain seperti reksadana, emas, atau deposito/tabungan berjangka. Kelas Sekolah Pasar Modal 2013 sendiri berlangsung selama total 3 hari (2 hari untuk level 1 dan sehari untuk level 2). Syaratnya untuk menjadi peserta di level 1 sebenarnya tidak ada, namun karena waktu pelaksanaannya selalu di hari kerja, Anda harus mengajukan cuti jauh2 hari sebelumnya. Untuk menjadi peserta di level 2, Anda perlu terdaftar sebagai nasabah di salah satu broker (sudah memiliki kartu Akses dari KSEI).

sekolah pasar modal

Apa saja materi di sekolah pasar modal?

Materi Sekolah Pasar Modal di Level 1 A (hari pertama)

  1. Pengenalan Pasar Modal
  2. Produk Investasi di Bursa Efek Indonesia
  3. Investasi di Pasar Modal
  4. Analisa Fundamental

Materi Sekolah Pasar Modal di Level 1 B (hari kedua)

  1. Mekanisme Transaksi Efek di Bursa Efek Indonesia
  2. Analisa Teknikal
  3. Pentingnya memiliki Kartu AKSes & SID
  4. Simulasi dan Market Update
Sedangkan di Level 2, materinya sedikit lebih advance (karena itu Anda diharuskan sudah menjadi nasabah salah satu broker atau perusahaan sekuritas sebagai syarat mendaftar).

Mater Sekolah Pasar Modal di Level 2

  1. Pengenalan Pasar Modal Syariah
  2. Pengenalan Produk Reksadana di Pasar Modal
  3. Pengenalan Produk Derivatif di Pasar Modal
  4. Instrument Fixed Income
Saran saya, bila Anda memang tidak tertarik di produk investasi selain saham, jangan mendaftar di Level 2 (saya akan jelaskan beberapa alasannya di tulisan selanjutnya (alias, kalau penulis nggak males ngetik, hehehehe)).

Pengenalan Pasar Modal

Alasan berinvestasi biasanya untuk melindungi aset dari gejolak inflasi (mempertahankan nilai aset) dan memperoleh keuntungan. Berinvestasi di Pasar Modal, sebenarnya bagian dari jenis financial investment atau Investasi Keuangan. Tentu, Anda bisa saja langsung berinvestasi di real property, tangible personal property, atau commodity investment (misal kelapa sawit).

Pasar Modal juga ada sebagai sarana edukasi pada masyarakat, supaya tidak tertarik dengan model investasi BODONG alias tepu-tepu yang merebak. Daripada menghamburkan uang di model investasi bodong, lebih baik berinvestasi di pasar modal.

Struktur tertinggi Pasar Modal Indonesia dipegang oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tugas utamanya membina, mengatur dan mengawasi kegiatan pasar modal. Di bawah OJK, terdapat Bursa Efek Indonesia yang tugasnya menyediakan sarana/sistem untuk perdagangan efek/saham.

Dulu, saham bersifat kertas atas unjuk. Kurang lebih seperti uang kertas biasa. Siapa pun yang memegang lembaran saham (bentuknya seperti sertifikat/ijazah), itu berarti pemiliknya. Oleh karena itu, istilah "lembar" pada saham kadang masih kita jumpai dalam dunia bursa saat ini.

Waktu berlalu, dan lantai bursa tak lagi terdapat komputer-komputer dan wajah-wajah frustrasi. Sebagai gantinya, saham sudah bersifat digital (tak dicetak di atas kertas), dan orang sudah bisa melakukan transaksi di balkon lantai 2 rumah masing-masing.

Analogi Bursa Efek Indonesia bisa disamakan dengan Perusahaan Pengelola Mall. Sebagai contoh, Mall Central Park, sebenarnya dikelola oleh PT Tiara Metropolitan Jaya, --sekarang berubah nama menjadi PT Agung Podomoro Land Tbk.

PT Agung Podomoro Land


  • Fasilitator : Menyediakan sarana prasarana aman di dalam mall (AC, parkir, toilet, musholla, dll)
  • Pedagang : Membuka kios sepatu, pakaian, elektronik, dll
  • Pembeli : pengunjung mall yang berbelanja

Bursa Efek Indonesia

  • Fasilitator : Menyediakan sistem agar perdagangan teratur wajar dan efisien
  • Pedagang : Anggota bursa atau perusahaan efek yang mejnadi broker jual beli saham
  • Pembeli : investor yang melakukan transaksi saham
Demikian sekilas tentang pasar modal.

Produk Investasi di Bursa Efek Indonesia

Seperti analogi mall di atas, terdapat banyak sekali produk investasi di BEI yang diperdagangkan, dan saham hanyalah salah satunya.
Saham adalah tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan
Porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan di perusahaan tersebut. Contoh, tetangga Anda, Haji Dji'un, ingin membuka bengkel service motor. Setelah dihitung-hitung, ternyata modalnya kurang Rp 75juta, dari total Rp 100juta (artinya Haji Dji'un hanya punya Rp 25juta). Sebagai tambahan modal, daripada ia meminjam ke Bank (riba), ia meminjam pada Anda, tetangganya yang baik hati. Nyatanya, Anda pun tak punya uang sebanyak itu, dan hanya punya, katakan Rp 25juta. Anda pun menelpon saya, teman Anda yang baik hati juga. Setelah melihat prospek Bengkel Motor Haji Dji'un, saya tertarik untuk melakukan penyertaan modal sebesar Rp 50juta.

Oke, deal. Semua surat perjanjian bermaterai 6000 perak sudah ditanda tangani. Sebagai pemilik, Haji Dji'un menanggung 60% dari kerugian, maupun keuntungan. Sedangkan sisanya yang 40%, dibagi menurut porsi kepemilikan modal antar investor. Saya yang menyertakan modal paling besar, Rp 50juta, mendapat porsi keuntungan 50juta/100juta dikali 40%, sedang Anda dan Haji Dji'un masing-masing mendapat Rp 25juta/Rp 100 juta dikali 40%. Ini adalah model investasi yang sederhana, aslinya jauh lebih rumit.

Nah, dalam saham kurang lebih juga demikian. Semakin besar porsi investasi yang kita berikan, maka semakin besar pula dividen atau kontrol yang Anda miliki pada arah kebijakan perusahaan. Karakteristik yuridis pemegang saham antara lain Limited Risk (bertanggung jawab sesuai jumlah yang disetorkan), Ultimate Control (secara kolektif ikut menentukan arah tujuan perusahaan), dan Residual Claim (mendapat pembagian hasil usaha yang paling akhir). Perkara Residual Claim ini, juga termasuk bila perusahaan tiba-tiba di-delisting (keluar) dari lantai bursa, entah karena bangkrut atau semua direksinya masuk penjara apa bagaimana lah.. Saham yang kita miliki pun lenyap.

Stock atau saham mudah dipelajari dan karakteristiknya lebih "reguler" daripada produk derivatif/turunannya. Kita bisa memperoleh keuntungan dari dividen (keuntungan perusahaan penerbit saham), dan capital gain (karena selisih harga saat Anda membeli dan menjual saham). Porsi investor asing di bursa efek saat ini (tahun 2013) adalah 58%, agak lebih kecil dari tahun 2008 yang sebesar 70%. Artinya, orang Indonesia sudah mulai beralih berinvestasi di pasar modal.

Cara Membeli Saham

Cara membeli saham ada 3 macam.
  1. Via Pasar Perdana (IPO / Initial Public Offering)
    Ini berarti Anda harus sudah menjadi nasabah di salah satu perusahaan sekuritas (broker). Contoh, saat IPO Baturaja nanti, ada 3 perusahaan sekuritas yang jualan : Bahana, Mandiri, dan Danareksa. Jika kita adalah nasabah dari salah satu broker tersebut, maka kita akan memperoleh "right issue" yaitu "hak untuk memesan saham duluan" dibanding nasabah sekuritas lain.

  2. Pasar Sekunder
    Kurang lebih seperti saat pasar perdana, kita membeli saham yang sudah tercatat dan beredar di bursa efek, via broker / perusahaan sekuritas.

  3. Reksadana
    Produk ini lebih murah dan untuk investor pemula, saya sarankan untuk memilih produk investasi ini saja sebelum terjun di dunia pasar modal. Buat belajar dikit-dikit.

Apa sih resiko berinvestasi pada saham?

Banyak! Layaknya jenis investasi keuangan, semakin besar gain / profit yang diharapkan, maka akan semakin besar pula resikonya. Misalnya saja, kita bisa saja tidak mendapat dividen (bagi hasil usaha), capital loss (tiba-tiba harga saham anjlok), perusahaan yang Anda beli sahamnya di delisting (misal karena bangkrut, direksinya bermasalah, dll), atau saham yang di-suspend.

Syarat-syarat perusahaan sebelum "Go Public"

Sebelum perusahaan "go public" atau listing di Bursa Efek Indonesia, ada syarat-syaratnya.
  1. Berbadan hukum Perseroan Terbatas (artinya perusahaan ecek-ecek yang asetnya di bawah 50 juta perak nggak bisa daftar).
  2. Minimal sudah beroperasi selama 3 tahun.
  3. Memiliki laporan keuangan yang diaudit 3 tahun.
  4. Memiliki opini Laporan Keuangan Wajar Tanpa Pengecualian 2 tahun (jadi nggak boleh ada transaksi mencurigakan seperti sogok/suap, korupsi pengadaan barang, dll).
  5. Punya aktiva >= Rp 100 miliar
  6. Jumlah minimum pemegang saham bukan pengendali >= Rp 100 juta saham atau 35% dari modal disetor.
  7. Jumlah pemegang saham minimal 1000 pemegang saham.
Hanya ada 400-an perusahaan yang listing di BEI. Jumlah ini terlampau sedikit, boleh jadi karena dua hal utama : syarat yang terlalu berat, dan pengetahuan pengelola perusahaan di Indonesia yang terlampau dangkal di dunia pasar modal. Coba bandingkan dengan bursa saham di Cina atau Taiwan.

Di Indonesia menghafal kode saham masih bisa karena Telkom ya jadi TLKM, Astra International jadi ASII, Adaro Energy jadi ADRO, dsb. Tapi di Cina, saking banyaknya perusahaan yang listing di bursa (sampai-sampai bengkel tambal panci bocor pun mungkin bisa masuk bursa), kita harus bawa-bawa buku setebal Yellow Pages ke mana-mana karena kode saham perusahaan sudah dengan angka.

Contoh Perusahaan Go Private

Ada pula perusahaan keluarga yang nggak mau dijadikan perusahaan terbuka. Atau ada pula perusahaan yang sudah masuk ke bursa, tapi buy back (membeli kembali semua saham yang sudah terlanjur beredar di pasar modal) dan menjadi go private (kebalikan go public). Contoh, AQUA di tahun 2010, menawarkan buy back Rp 150rebu per saham. Nggak ada yang mau jual. Dinaikin jadi Rp 250.000, sama juga. Sepi. Saat harganya naik menjadi Rp 500ribu per saham, kuorum tercapai, dan PT Aqua Golden Mississipi Tbk pun resmi menjadi perusahaan tertutup, setelah lebih kurang 20 tahun listing di bursa.

Cara Menghitung IHSG

Salah satu indikator pergerakan harga saham ditunjukkan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Cara menghitung IHSG sederhana saja.

perhitungan IHSG

Di mana
p = harga saham di pasar reguler
x = jumlah saham
d = nilai dasar

Angka 100 menunjukkan nilai IHSG pada hari dasar (ditetapkan tanggal 10 Agustus 1982). Untuk saham-saham yang baru IPO setelah tanggal tersebut, maka nilai dasarnya adalah nilai pada hari / tanggal IPO, alias harga perdananya. Bisa kita simpulkan, selama kurang lebih 30 tahun sejak 1982, nilai IHSG sudah meningkat kurang lebih menjadi 47 kali lipat, atau 4700%. Bandingkan kalau Anda nabung di celengan semar dari tahun 1980-an, setelah 30 tahun cuma jadi makanan rayap.

Anda bisa melihat sejarah pasar modal di Indonesia dengan mengunjungi langsung gedung Bursa Efek Indonesia tower 1, Jalan Jend. Sudirman Kav 52-53, Jakarta.