Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Kisah Sukses Sandiaga Uno, Dari Korban PHK Hingga Aset Rp 3 T

Ia memiliki nama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno, seorang politisi yang sebelumnya adalah pengusaha. Berdarah Gorontalo, ia lahir di Riau, 47 tahun lalu. Ayahnya bernama Razif Halik Uno (Henk Uno), yang juga merupakan keturunan dari Mufti Guru Uno, salah satu keturunan raja Gorontalo. Ibunya, Mien Rachman Uno (nama aslinya adalah Rachmini Rachman), adalah pendiri Lembaga Pendidikan Duta Bangsa dan Mien R Uno Foundation. Mien Uno juga merupakan kakak dari salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Prof. Arief Rachman.


Masa Sekolah Sandiaga Uno

Menurut Sandiaga Uno, benang merah yang mendefinisikan kerja keras adalah disiplin waktu. Ia duduk paling depan ketika masa sekolah. Ibunya mendidik secara keras yang tak bisa dijelaskan sekarang, karena akan masuk kategori KDRT. Sabetan tali pinggang sudah menjadi sarapan rutin. Akan ada hukuman untuk bangun pagi yang tak tepat waktu dan nilai jelek di sekolah. Dari didikan ibunya inilah, etos kerja keras Sandiaga Uno bertumbuh.

Setelah menamatkan kuliah di Wichita State University dengan predikat summa cum laude, ia bekerja sebagai karyawan di Bank Summa pada tahun 1990. Tak butuh waktu lama, prestasinya membawa ia menuju beasiswa di George Washington University. Etos kerja keras terus dibawanya saat mengambil S2. Ketika libur akhir pekan, Sandiaga Uno harus melawan cuaca dingin dan menusuk tulang, berjalan kaki 15-20 menit dari asrama ke perpustakaan, karena ketika libur tak ada bis yang mengantar. Ia merasa diberi kesempatan istimewa : sekolah di luar negeri, diberi beasiswa, dan didukung oleh orang tua. Ia ingin memberikan ikhtiar 100 persen. Tak heran, ia lulus dengan IPK 4,00.

Etos kerja keras itu pun berlanjut hingga ia menjadi profesional dan pengusaha. Ia berusaha untuk datang paling awal, seringnya bersamaan dengan office boy, dan jengah ketika ada karyawan yang masuk kerja jam 10-11 siang.

Salah satu hobinya yang lain adalah membaca buku. Saat ini kacamatanya minus 1,5. Sebelum dioperasi, matanya pernah mencapai minus 11. Itu karena kegemarannya membaca. Kategori buku yang ia sukai adalah buku yang menginspirasi dan memotivasi. Ia menyempatkan membaca buku 1 jam setiap hari.

Menjadi Korban PHK dan (Terpaksa) Berwirausaha

Pada tahun 1997, karir Sandiaga Uno harus kandas karena krisis ekonomi. Ia sempat bekerja tanpa gaji. Perusahaan tempat ia bekerja akhirnya bangkrut dan memecat sejumlah karyawan. Tabungannya pun sudah habis karena diinvestasikan di pasar modal. Dengan berat hati ia memilih untuk kembali pulang ke tanah air bersama istrinya (yang pada waktu itu sedang hamil anak pertama), dengan predikat pengangguran.

Justru keterpurukan itulah yang membuat Sandiaga Uno berpindah haluan untuk menjadi seorang pengusaha. Bersama teman dekatnya kala SMA, Rosan Roeslani, ia membangun PT Recapital Advisors, sebuah perusahaan konsultasi keuangan. Kantor yang mereka sewa pun ala kadarnya saja, dengan karpet warna merah muda dan banyak cermin di dinding. Itu semua karena dulunya kantor tersebut adalah salon dan agensi model. Malu dengan kondisi tersebut, ia dan Rosan sering melakukan rapat dengan calon klien di luar kantor.

Perjalanan bisnis PT Recapital pun bukan tanpa hambatan. Walau karyawannya hanya 3 orang, Sandi mengaku sering kesulitan memberikan gaji. Berjibaku dengan proposal, menunggu berjam-jam di lobi kantor calon klien bersama dengan belasan pengantri yang lain, sudah menjadi rutinitas harian. Pernah suatu kali karena tak ada uang untuk membeli susu anaknya, Sandi berniat meminjam uang pada Rosan. Tak disangka, Rosan pun juga tak punya uang dan berniat meminjam uang ke Sandi.

Klien pertama Sandiaga Uno adalah Jawa Pos Group. Sandi sudah menunggu lama, sebelum CEO Jawa Pos Group akhirnya keluar. Namun, Dahlan Iskan, tak punya waktu untuk menyimak penawaran Sandi secara lengkap. Jadilah, penyampaian Sandi dilakukan di dalam lift. The Power of Elevator Pitch. Penawaran super singkat tersebut akhirnya disetujui Dahlan.

Rejeki Yang Tak Disangka-sangka

Di balik kesuksesan bisnis tiap pengusaha, selalu ada seorang mentor. Mentor bisnis Sandiaga Uno adalah William Soeryadjaya, pendiri Astra. Perkenalan pertama Sandi dengan Om William bermula sejak karirnya menanjak di Bank Summa. Om William menyediakan waktu makan siang bersama Sandi, setiap pekan, hari Sabtu. Mentoring bisnis inilah yang membuat kepercayaan dirinya bangkit setelah di-PHK, sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya perusahaan Sandiaga Uno kedua, PT Saratoga Investama Sedaya, yang bergerak di bidang investasi usaha pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Saratoga, di awal masa bertumbuhnya, juga memiliki sebuah kisah unik. Suatu kali ada klien yang menolak membayar jasa konsultasi Recapital. Tak ingin memperpanjang urusan dengan mengajukan gugatan ke pengadilan, Sandi harus rela menerima pembayaran dalam bentuk saham perusahaan klien, yang ketika itu berharga murah. Tak disangka, 3 bulan kemudian, nilai saham tersebut naik terus hingga melebihi hutang klien. Inilah yang membuat Saratoga terinspirasi mengembangkan usahanya ke berbagai investasi di banyak perusahaan.

Kejeniusan Sandiaga Uno kembali ditunjukkan dengan lahirnya Tower Bersama. Ia terinspirasi oleh Sakti Wahyu Trenggono, pemilik Indonesia Tower. Pak Trenggono berpendapat, perusahaan telekomunikasi pada akhirnya akan berhenti membangun menara. Alih-alih membuat sendiri menara telekomunikasi dengan biaya mahal, perusahaan akan menyewa dari perusahaan lain. Peluang ini ditangkap oleh Sandiaga Uno, sedemikian sehingga Tower Bersama meroket menjadi perusahaan besar di bawah bendera Saratoga, selain Adaro Energy.

Perjuangan bisnis Sandiaga Uno dimulai dari sebuah kesulitan. Dimulai dari krisis, pemutusan hubungan kerja, memulai usaha, dan akhirnya memiliki lebih kurang 50 ribu karyawan. Dengan semangat "Kerja 4 As" : Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, dan Kerja Ikhlas, ia berhasil membangun banyak perusahaan yang pada akhirnya menumbuhkan asetnya. Hasilnya, pada tahun 2011, ia masuk menjadi orang terkaya nomor 37 di Indonesia, dengan estimasi total aset senilai USD 660 juta, atau sekitar Rp 7 T kala itu.

Saat melaporkan kekayaannya ke KPK dalam rangka menjadi calon wakil gubernur DKI Jakarta, ia memiliki aset Rp 3 T. Sebuah jumlah yang fenomenal untuk ukuran seorang pengusaha asli Indonesia. Ia sering berkeliling ke kampus-kampus untuk menyebarkan semangat kewirausahaan kepada para mahasiswa, dan mengharapkan ada banyak pengusaha baru lahir.

Orang Islam Dilarang Miskin (2)

Di tulisan pertama, Orang Islam Dilarang Miskin, kita sudah belajar alasan mengapa orang Islam itu tidak boleh miskin. Ruang lingkup "orang Islam" dalam tulisan ini pun boleh jadi lebih dikhususkan pada "orang Islam yang tinggal di Indonesia", karena toh banyak sekali orang Islam di Arab Saudi, Asia Tengah, bahkan tetangga kita Malaysia, yang tajir-tajir. Jadi yang salah itu sebenarnya bukan "orang Islam" secara umum, tapi orang Islam negeri ini. Apa sih yang salah? Mengapa mayoritas kita miskin?

Pemahaman agama yang salah

Kita mengaku orang Islam tapi kita tak tahu apa-apa soal agama ini. We have no idea what we believe in. Sejak SD kita diajari untuk zuhud, dan percaya bahwa zuhud itu adalah anti pada kemapanan dan menolak kehidupan duniawi. Padahal pada zaman Rasulullah, sahabat-sahabat beliau seperti Utsman bin Affan, Az-Zubayr, dan Abdurrahman bin 'Auf, semuanya kaya raya. Mereka memiliki kebun yang banyak, hewan ternak, dan uang berlimpah. Apakah mereka tidak zuhud?


pemukiman kumuh

Tentu saja para sahabat zuhud. Zuhud itu dunia datang pada kita, lalu kita merasa qona'ah (cukup) dan berinfak untuk dakwahnya jauh lebih besar. Misal dapet untung Rp 10 milyar, nyumbang Rp 9 milyar. Masih sisa banyak, Rp 1 milyar, tetep disebut kaya. Sedangkan kita penghasilan pas-pasan buat makan, lebihnya dikit, kalau Jumatan nyumbangnya koinan aja. Terus kalau ditagih zakat rasanya berat, padahal setahun sekali.

Pas ditanya, kenapa kok tetep miskin, "iya kan hidup ane zuhud". Ini sih zuhud kelas gembel bin salah kaprah. Udah nanggung miskinnya pol jadi ngaku-ngaku zuhud aja biar agak kerenan dikit. Kita ini sabar menjadi miskin, tapi dengki kalau melihat orang lain berkelimpahan harta. Kalau lihat ustad jadi kaya kita protes, kok ustad hidupnya mewah. Padahal kita tak tahu, boleh jadi ustad itu habiskan hartanya lebih banyak untuk kemanusiaan.

Kalau antum tahu itu di area Blok M ada mall lumayan besar, di lantai 5 nya ada masjid yang juga luas. Coba kalau yang punya mall orang kafir, mana mau dia ada masjid di dalam pusat perbelanjaan. Mending disewain untuk toko. Itulah bedanya harta di tangan orang sholeh dan di tangan orang kafir. Kalau sekelas kita tiba-tiba dapet rejeki mendadak pasti mikirnya cuma sekadar jalan-jalan ke Eropa atau beli mobil. Visinya hanya sekadar nafsu pribadi dan tidak peduli dengan dakwah. Jelas saja Tuhan males ngasih kita harta banyak-banyak. Mungkin Ia tahu kita ini makhluk tak tahu diri.

Tidak berorientasi menjadi orang kaya

Rata-rata kita berkarakter orang miskin. Saat kita lihat orang kaya punya helikopter pribadi, kita merasa kita tidak mungkin punya hal yang sama. Padahal kalau terjadi bencana kita bisa langsung angkat telepon ke pilot helikopter, kirim bantuan via udara lebih cepat daripada dari darat. Saat kita lihat rumah yang bagus, kita tak berani bermimpi. Saking tak ada duit, atap rumah kita bocor tidak dibetulkan, jadi kalau jam 3 pagi ada hujan kita bangun buat ngepel dan menadah air pakai ember, padahal harusnya muslim bangun jam 3 pagi ya sholat malam biar surganya nanti agak tinggian dikit.

Saya pernah masuk lobi Hotel Indonesia K*mpinski, karena ada teman (orang kaya) minta tolong pesankan kamar. Karena miskin ya penampilan saya apa adanya. Oleh security saya ditanya macam-macam, mungkin disangka teroris dan bawa-bawa ransel isinya bom. Masya Allah, pikir saya. Itulah akibatnya kalau jadi miskin, baju dekil dandanan kumuh. Saya lihat pria wanita lalu lalang bajunya bagus dan wangi. Itulah enaknya jadi orang kaya, tidak dicurigai sebagai orang jahat.

Malas, Boros, Pengeluh

Kita lihat orang Cina mengapa hidupnya berkecukupan, karena mereka pekerja keras. Boleh jadi mereka tak percaya ada kehidupan setelah kematian. Tidak percaya surga. Jadi satu-satunya tempat untuk bahagia hanya di dunia. Mereka bangun pagi jam 4 atau 5 subuh pergi ke pasar, lebih awal dari kita. Padahal kita ini punya kewajiban untuk ibadah. Orang Cina juga hemat. Hari ini untung Rp 10 ribu buat makan Rp 5 ribu. Besok untung Rp 20 ribu buat makan tetap Rp 5 ribu.

Kita orang Islam itu sudah penghasilan tak seberapa, pengeluarannya banyak yang tak penting. Rela kredit mobil tapi rumah masih mengontrak di gang sempit banyak nyamuk kalau hujan dikit air masuk ke dalam. Mengeluh biaya sekolah mahal tapi tiap hari habis 2 bungkus rokok sehari. Karena miskin makanannya tak jauh-jauh dari ikan asin, jadilah semakin darah tinggi dan ngomel-ngomel setiap mau tidur.

Tidak melek finansial

Menurut OJK, hanya sekitar seperlima dari penduduk Indonesia yang melek finansial, artinya memiliki pengetahuan tentang keuangan yang cukup. Dengan melek finansial, kita bisa mengambil keputusan yang tepat terkait keadaan keuangan pribadi. Jika menikah tahun ini, dan punya anak setahun atau dua tahun kemudian, berapa dana yang harus disisihkan untuk biaya persalinan? Dana untuk sekolah anak diambil dari mana? Pilih sekolah negeri atau swasta? Jika ada kelebihan uang, diinvestasikan ke mana? Boro-boro bisa jawab, besok bisa makan aja udah sukur.

Yang juga jadi masalah, mayoritas kita tidak paham berbisnis.

Abdurrahman bin 'Auf adalah salah satu sahabat nabi yang jago berbisnis. Ketika berhijrah (beliau berusia 10 tahun lebih muda dari Rasul, berarti saat hijrah usianya sekitar 42-43) beliau tak membawa apa-apa. Semua asetnya disumbangkan. Ia dipersaudarakan dengan Sa'ad dari Madinah (termasuk kalangan orang kaya juga). Sa'ad menawari separuh kebun/harta pada beliau. Tapi Abdurrahman bin 'Auf menolak, dan cuma bilang, "Tunjukkan aku di mana pasar".

Ketika meninggal, beliau meninggalkan 100 ribu dinar (menurut riwayat Ibn Katsir 80ribu dinar) pada masing-masing istrinya. Istrinya ada 4, jadi total 400ribu dinar. Karena istri menurut hukum waris mendapat bagian seperdelapan (kalau ada anak), maka aset keseluruhannya adalah 400ribu dikali 8 = 3,2juta dinar. Kalau 1 dinar sama dengan 4,25 gram emas, dan segram emas = Rp 480ribu, maka total kekayaannya adalah sekitar 6,5 trilyun rupiah. Ini belum termasuk wasiat beliau, 40 ribu dinar untuk 100 peserta perang Badr.

Jadi, sejak hijrah di umur 43 sampai wafatnya umur 73, atau selama 30 tahun, kita bisa bayangkan berapa banyak yang beliau kumpulkan. Seandainya Abdurrahman bin 'Auf ikut The Apprentice jaman sekarang, mungkin nggak ada yang bisa ngelawan beliau.

Ingin Berhemat? Cobalah Berhenti Merokok

Jika berhenti merokok dengan alasan kesehatan sudah tak mempan lagi, apakah alasan finansial bisa menyadarkan orang? Tahukah Anda, bila uang membeli 3 bungkus rokok sehari diinvestasikan seluruhnya (berikut devidennya) di perusahaan Philip Morris selama 46 tahun, maka nilai sahamnya akan menjadi lebih dari US$ 2 juta!

rokok dan uang logam

Korporasi rokok tetap ada karena konsumennya sudah ketagihan. Mereka tidak membuat rokok demi memajukan pertanian tembakau, membuat foundation atau beasiswa sebanyak-banyaknya, atau agar ekonomi kita tetap berjalan. Mereka semua (para konglomerat yang hidup dari industri rokok), menjalankan bisnisnya hanya demi uang. Tahukah Anda dari daftar 50 orang terkaya di negeri ini, pentolannya hidup dari berjualan rokok?

Asuransi untuk penderita rokok, mungkinkah?

Baiklah, jika memang benar bahwa merokok dapat menimbulkan segala macam masalah kesehatan seperti yang disebutkan di label peringatan pada bungkus rokok, apakah tidak ada cara untuk menanggulangi dampak dari penyakit akibat rokok? Sebetulnya kalau memang benar perusahaan rokok kebanyakan duit, model bisnisnya (yang saya bisa pikirkan) diubah saja mirip dengan penjualan tiket pesawat terbang atau sarana transportasi lainnya. Dari harga tiket, sebagian disisihkan sebagai premi asuransi.

Demikian pula pada rokok. Dari harga sebungkus rokok yang (misalnya) Rp 12ribu, diambil Rp 500 saja untuk premi asuransi. Tentu ini membutuhkan "premium membership", jadi semua data perokok tercatat dengan baik di sisi perusahaan rokok. Seandainya si perokok ini sakit kanker paru-paru, uang premi yang Rp 500 tadi itulah yang akan membayar semua biaya perawatan pesakit di rumah sakit. Cukup fair, menurut saya. Tapi, apakah perusahaan rokok sudi melakukan hal itu?

Merokok agar terlihat macho?

Ketika rokok terbukti menjadi biang dari impotensi, penyakit jantung, atau masalah paru-paru, masihkah ia menjadi simbol maskulinitas? Padahal filter pada rokok pernah dibuat berwarna merah muda, supaya menyamarkan warna lipstik pada rokok. Artinya, rokok pernah dibuat untuk wanita. Coba tanya cewek-cewek jaman sekarang, apakah lebih senang punya cowok yang perokok berat (dengan gigi yang kuning dan terbatuk-batuk separuh bengek kalau disuruh main futsal 15 menit saja), atau yang tidak merokok?

Mengapa sulit sekali mengalahkan industri rokok?

Ini pertanyaan yang tidak akan habis dijawab dalam semalam renungan. Sebetulnya semua bermula dari pendapatan negara yang berasal dari cukai rokok. Bayangkan saja, untuk tahun 2013, pendapatan negara dari cukai mencapai Rp 108 trilyun dan Rp 105 trilyun (atau sekitar 97%) berasal dari cukai rokok dan tembakau. Luar biasa bukan uang yang bisa dihasilkan dari industri rokok?

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, industri rokok adalah industri yang menghasilkan uang paling banyak di dunia, nomor 2 setelah industri minyak dan gas. Dari dulu nilai cukai rokok tidak pernah naik drastis. Rata-rata nilai cukai yang sekitar Rp 375-380 per batang itu adalah 38 persen dari harga rokok per bungkus. Artinya, kemurahan Gan! Apalagi ada banyak sekali pedagang eceran yang menjual rokok secara keteng atau satuan. Amboi, punya uang seribu perak pun sudah bisa ketepas-ketepus.

Kembali lagi ke pertanyaan mengapa Pemerintah gagal mengendalikan industri ini. Jawabannya sebetulnya kita semua sudah tahu. Memangnya, apa di negeri ini yang tidak bisa disuap?

Benarkah sulit sekali untuk berhenti merokok?

Rokok yang paling populer adalah rokok filter (saat ini), setelah bos rokok dunia membeli salah satu perusahaan rokok Indonesia (rokok kretek lambat laun akan dihilangkan dari peredaran). Bahan-bahan rokok filter meliputi tembakau, cengkeh, kertas rokok, filternya, dan beberapa zat tambahan untuk meningkatkan aroma dan rasa. Rokok bersifat adiktif karena kandungan nikotinnya. Nikotin yang dihisap lewat rokok, akan masuk ke dalam darah dan secara langsung berefek "fly" atau menenangkan. Namun ini hanya sementara. Ketika sudah tidak merokok, efek ini akan hilang.

Nikotin juga memiliki efek agar badan menghasilkan endorfin lebih banyak, yang gunanya memberikan rasa bahagia. Hormon ini (endorfin) sebetulnya tak berbahaya, karena hormon ini juga dihasilkan ketika kita berolahraga (yang mana jauh lebih sehat berolahraga dibandingkan merokok 2 bungkus per hari). Nikotin inilah yang membuat seseorang amat sangat sulit berhenti merokok, karena ketika asupan nikotinnya tidak ada, seseorang yang sudah merasa ketergantungan akan merasa marah, cemas, dan mengalami stress dalam bekerja.

Sebetulnya tak sulit untuk berhenti merokok. Saya memang belum pernah sampai ke tingkat kecanduan merokok, tapi dulu Ayah adalah seorang perokok berat (karena pekerjaan yang berat). Beliau berniat kuat untuk mengubah kebiasaannya merokok, karena ketika ikut dalam acara Fun Bike (sepeda santai), ia mengalami sesak nafas. Dukungan keluarga dan orang terdekat amat penting di saat seperti itu. Alhamdulillah beliau berhasil berhenti hingga sekarang.

Tidak adakah yang berusaha melawan korporasi rokok?

Banyak. Salah satu ceritanya pernah saya tulis dalam artikel berbeda, tentang "Sex, Lies, and Cigarettes". Karena bisnis rokok juga tergantung pada konsumen yang loyal, yang merokok hingga bertahun-tahun, maka mereka memulainya dengan menyasar konsumen paling riskan untuk mencoba hal baru : anak-anak dan remaja. Itulah sebabnya, iklan rokok disamarkan menjadi ajang olahraga, festival musik, dan sponsor-sponsor yang masuk di berbagai kegiatan sekolah. Sales rokok memang orang-orang marketing yang skill-nya sudah pinandhita.

Pesan terakhir untuk berhenti merokok

Korporasi rokok, menjual rokok demi uang. They take your money. They take your life. And they take you from the ones who love you the most. Keluaga Anda, teman, dan semua orang di sekeliling Anda. Korporasi rokok jahat. Dan salah satu cara untuk melawan raksasa super ini adalah dengan mematikan Tuhan Sembilan Senti di tangan Anda. Mulai hari ini.

The Billionaire, Kisah Sukses Top Ittipat

The Billionaire bercerita tentang pengalaman hidup Tob Aitthipat (atau Top Ittipat, nama asli Aitthipat Kulapongvanich), seorang pemuda asal Thailand yang pada akhirnya menjadi milyuner karena berbisnis makanan ringan berbahan rumput laut dengan merek Tao Kae Noi. Film ini didasarkan pada kisah nyata Top berjuang membangun kerajaan bisnisnya.

Biografi Top Ittipat (Tob Aitthipat)

Top Ittipat (nama aslinya adalah Aitthipat Kulapongvanich) atau biasa dipanggil Top saja adalah keturunan Chinese yang lahir di Thailand pada tahun 1984, atau sekitar 30 tahun lalu. Layaknya remaja Thailand pada umumnya, masa SMA Top dihabiskan untuk bermain game online. Ia bahkan mendapatkan banyak sekali uang dari menjual senjata dan item ke gamer lainnya. Tentu saja ini ilegal. Uang hasil penjualan tersebut dihabiskannya untuk membeli mobil, PlayStation 2, dan barang lainnya. Pada akhirnya sumber "uang panas" Top berakhir karena account-nya di-suspend.

the billionaire top ittipat
Gambar diambil dari http://ezymata.com
Top terkenal malas belajar di sekolah. Dengan hasil ujian sekolah yang pas-pasan, Top sulit mendaftar ke perguruan tinggi pilihan. Di sisi lain, orang tua Top mengalami masalah finansial sehingga mereka berencana pindah ke China dan melanjutkan hidup di sana. Top tak ingin pindah dan bersikeras untuk tetap berada di Thailand. Dengan sisa uang yang ada, Top ingin menunjukkan bahwa ia bisa berbisnis.

Berjualan DVD Player

Dengan sisa uang yang ada, Top berjualan DVD Player. Malangnya, ternyata kualitas DVD Player yang dibelinya memang sepadan dengan harganya yang amat murah. DVD Player sampah ini pun hendak dikembalikan ke pedagangnya semula. Namun karena tak ada garansi, Top merugi. Di sinilah Top menyadari bahwa dunia bisnis dan usaha amat keras. Namun ia belum menyerah. Untuk membayar uang kuliahnya (Top harus masuk perguruan tinggi swasta yang biayanya mahal), Top harus menggadaikan jimat Ayahnya. Tentu saja secara diam-diam. Pada akhirnya Top tahu, ia juga kena tipu pedagang jimat.

Berjualan Kastanya (kacang / chesnut)

Top melihat pedagang kacang dan mulai proses dalam bisnis yang populer : ATM = Amati, Tiru, Modifikasi. Ia pada akhirnya belajar, bahwa cara terbaik untuk menggoreng chesnut adalah dengan terus mengaduknya dalam penggorengan berisi kerikil dengan suhu yang ideal. Ia berani menyewa alat penggoreng chesnut, dan membuka counter di sebuah pusat perbelanjaan dibantu pamannya. Pemuda lain seusia Top bisa jalan-jalan di mall sambil menenteng iPod dan gadget mahal, sedang Top berpeluh memikul berkarung-karung kacang. Kegigihan Top patut diacungi jempol.

Sayang sekali, bisnis ini pun gagal karena tak banyak pembeli, plus Top punya masalah dengan manajemen mall. Asap dari proses penggorengan kacang mengotori langit-langit mall, dan Top harus mengecatnya, ditemani Ibunya. Top diberi waktu hingga pukul 12 malam, namun ia tak bisa menyelesaikannya. Satpam sudah mengusirnya. Top meminta waktu tambahan, dan berusaha menyogok satpam. Satpam itu melihat Ibu Top sebentar, lalu berkata "Ibu, ini anakmu? Tolong didik ia dengan benar," sambil mengembalikan uang dari Top.

Tipping Point : Snack Rumput Laut

Pacar Top pun khawatir akan keadaan Top. Rumahnya sudah disegel oleh pihak bank, dan orang tuanya sudah berangkat ke Cina. Keluarga Top memiliki hutang senilai 40 juta Baht. Sebuah beban yang besar bagi Top. Sebetulnya Top sudah akan menyerah. Namun di saat frustasi itulah, di dalam mobil (yang ia beli seharga 600 ribu Baht dari penghasilan game online), bersama pacarnya yang hendak pulang, Top mencicipi snack rumput laut yang enak, dan memutuskan untuk berbisnis kembali.

Top mempertaruhkan segalanya. Nyali, rasa malu, uang yang tersisa (dari hasil menjual barang-barang miliknya). Ia membeli bahan mentah untuk snack rumput laut dan mencoba menggorengnya sendiri. Top berkali-kali gagal. Ia tidak bisa mendapatkan rasa yang sama dengan snack rumput laut yang dimakannya. Pamannya masuk rumah sakit karena kelelahan.

Bahan mentah untuk snack rumput laut tinggal satu kotak lagi. Untungnya, pertaruhan terakhir Top akhirnya berbuah juga. Ia berhasil.

Tao Kae Noi Lahir

Top memutuskan untuk memasarkan produknya dengan merek "Tao Kae Noi" yang berarti "Little Boss" atau semacam "Pengusaha Muda". Ia mulai mendekati 7-Eleven dan mempresentasikan beberapa sampel. Tak dinyana, pihak 7-Eleven tertarik dan menawarkan draft kontrak dengan Top. Namun, masalah baru timbul. Usaha Top harus berjalan dengan nama perusahaan aktif, dan pabriknya akan disurvei oleh pihak 7-Eleven. Ia tak mungkin menunjukkan dapur rumahnya yang amburadul ke pihak 7-Eleven. Di sinilah nyali Top diuji lagi.

Mengajukan Kredit ke Bank

Pegawai Bank yang terpesona mendengar cerita Top, pada akhirnya menyetujui proses pengajuan pinjaman. Top mulai berbenah di "pabrik"-nya yang baru. Yang disebut "pabrik" oleh Top sebenarnya hanyalah sebuah gudang yang disulap di sana-sini sehingga bisa memproduksi Tao Kae Noi dalam jumlah besar, sesuai dengan yang diminta pihak 7-Eleven. Pada saat pegawai 7-Eleven melakukan survei, banyak sekali kekurangan yang disampaikan. Paman Top tak yakin pabriknya akan lolos seleksi, dan menyarankan Top untuk melakukan suap. Namun Top tak mau mengulang kejadian di pusat perbelanjaan saat menjual kacang dahulu.

Beberapa jam kemudian, sebuah faks datang dari pihak 7-Eleven. Tak disangka, pabrik Top lolos proses survei! Kini ia tinggal fokus pada proses produksi. Top bekerja siang hingga malam hari, dan berusaha mengantarkan semua produknya tepat waktu.

Tao Kae Noi Kini, dan film The Billionaire

Terbukti bahwa hutang membuat kreativitas Top meningkat. The Power of Kepepet. Kini Tao Kae Noi bukan hanya penghasil snack rumput laut yang termasyhur di dunia, namun penginspirasi semua orang untuk mengikuti jejak Top Ittipat. Kerja keras, pantang menyerah, dan berani mengambil resiko. Perusahaan Top saat ini memiliki lebih dari 2500 pekerja, 30 cabang, mengekspor ke lebih dari 27 negara (termasuk Indonesia), dan penghasilan rata-rata 1.5 milyar Baht per tahun (atau sekitar Rp 555 milyar). Top juga memiliki perkebunan rumput laut khusus di Korea Selatan. Top Ittipat pada akhirnya menikahi Mint Prapatsorn, seorang mantan model majalah FHM.

5 Tips Percaya Pada Apa Yang Agan Jual

Terkadang kita melihat keberhasilan orang lain sebagai hambatan kita untuk maju. Tetangga kita selalu memiliki kebon yang lebih hijau, istri yang lebih bahenol, dan anak-anak yang lebih lucu. Tuhan Menciptakan kita dengan rasa iri, dan itu normal. Hal serupa berlaku untuk barang dagangan. Kadang kita iri karena barang dagangan orang lain lebih laku daripada barang dagangan kita sendiri. Dan ini pun, menurut penulis, normal-normal sahaja.

perempuan melompati tebing

Karena rasa iri dan bimbang itulah, biasanya kita jadi tidak percaya diri produk alias barang dagangan bakal laris manis di pasaran. Kita galau. Misal kita udah dikenal sebagai pedagang tahu. Lapak lagi sepi. Cuma karena satu calon pembeli yang nanyain kelapa parut, apakah kita mau pindah banting setir jadi pedagang kelapa parut?

Pasar boleh sepi, tapi lapak jangan sampe tutup

Adalah hal yang biasa bila sehari dua hari tidak ada penjualan. Tapi ini bukan berarti kita harus tutup toko. Pertama, karena kita nggak tahu rejeki datengnya kapan. Kedua, kalau ada yang beli dan ngelihat lapak tutup, bisa jadi calon pelanggan sudah terlanjur kecewa, dan nggak mau ambil barang di kita lagi.

Jadi pedagang kecap nomor 1 di dunia

Tidak ada kecap yang mengaku-aku jadi pemilik kualitas nomor 2. Semuanya nomor 1. Demikian pula, seharusnya kita menjadi pedagang yang yakin akan kualitas barang yang kita jual. Jangan sampai menyerah kalah dengan brand sebelah. Our product is the best of its kind that available on the market right now. Agan harus percaya pada apa yang agan jual.

Gunakan produk sendiri

Mungkin kualitas baju yang kita jual memang aslinya tak seberapa bagus dibandingkan dengan produk lapak sebelah. Tapi setiap kali kita bertemu orang, apa iya kita menggunakan hasil karya orang? Apa kata calon pelanggan setia kita kalau kita ketahuan memakai produk merek lain? Di mana rasa bangga menggunakan karya sendiri?

Fokus pada satu macam produk

Jangan gamang bin rambang. Sekali lihat orang lain laku jualan nasi uduk, ikut-ikutan deh jualan nasi uduk. Eh, sekali dicoba kok sepi pembeli. Lihat lagi orang lain bikin warung nasi kuning, ganti pula jualan nasi kuning. Eh, sepi lagi soalnya jarang yang ulang tahun pesen nasi kuning. Lalu menyesal kenapa tidak tetap berjualan nasi uduk. Begitu seterusnya. Bila terlalu banyak pelaku pasar yang berjualan barang yang sama, bisa jadi pasar akan jenuh, dan harga bisa jatuh bebas.

Try to sell a condom to a monk

Oke, mungkin kita memilih barang yang salah untuk dijual. Mungkin market memang tidak siap (atau belum siap) untuk sebuah produk yang benar-benar baru, inovatif, belum ada yang jual sebelumnya. Mungkin konsumennya memang tidak tepat, entah punya daya beli yang rendah atau ternyata produknya kemahalan. Hey, tapi kita harus ingat bahwa kita adalah salesman terbaik dunia, yang bisa menjual apa saja pada siapa saja. Entah itu orang lagi butuh atau nggak. Contoh saja pengusaha rokok, mereka tak selalu suka merokok. Tapi revenue dari rokok selalu meroket. Mengapa? Ini karena perusahaan rokok memiliki salesman yang percaya mereka selalu bisa menjual, apapun barangnya. Jadilah seperti salesman.

Pentingnya Belajar Main Poker

Beberapa waktu lalu, saya sempat menulis di blog pribadi tentang Delivering Happiness, sebuah buku bagus karya Tony Hsieh. Ia termasuk pengusaha ternama yang hidup dari berjualan (mayoritas) sepatu via sebuah website bernama Zappos dot Com. Di sela waktu luangnya, Tony memulai ketertarikannya dengan poker. Menurut Tony, banyak sekali kesamaan antara strategi dalam bisnis, dan strategi pada permainan poker. Semuanya bukan melulu soal keberuntungan, menggertak, dan membaca raut muka. Poker adalah matematika dan statistik. Mengapa belajar main poker jadi penting untuk bisnis?
pentingnya belajar main poker

Memang pada awalnya Tony berpikir bahwa permainan poker tidaklah terlalu populer karena tak banyak stasiun televisi yang menayangkan pertandingan poker (khususnya jenis Limit Hold'em), jadi ia bermain untuk kesenangan semata. Namun, itu terjadi pada tahun 1999. Di dalam poker, permainan akan selalu pemain melawan pemain, bukan pemain melawan kasino. Jadi, keterampilan dan pengalaman bermain akan sangat mempengaruhi hasil akhir.

Memahami matematika di balik permainan poker menjadi kunci utama Tony untuk menjadi "master" poker, setidaknya di lingkungan tempat ia tinggal. Poker adalah tentang keberanian menerapkan disiplin diri dalam memilah mana yang termasuk individual outcome dan mana yang termasuk the right decision.

Contoh sederhana, mengharap individual outcome itu seperti menebak angka togel lewat buku tafsir mimpi, atau melakukan kalkulasi yang sok-sokan dianggap nyambung padahal nggak pernah kena juga. Sedangkan the right decision adalah membuat keputusan yang benar walaupun hasilnya tak baik. Ingat, bahwa poker adalah sebuah long-term game. Berikut persamaan strategi pada poker dan strategi di bisnis menurut Tony.

Evaluasi Pasar

  • Memilih meja adalah pengambilan keputusan paling penting
  • Adalah wajar berpindah meja bila kita merasa meja tempat kita bermain sekarang bikin susah menang.
  • Jangan bermain satu meja dengan terlalu banyak orang. Sering kali kebanyakan mereka tidak rasional (terlalu spekulatif) dan tak berpengalaman.

Marketing dan Branding

  • Berlaku lemah saat sedang kuat, dan sebaliknya. Ketahuilah saat paling tepat untuk menggertak / bluffing.
  • Brand atau apa yang dikatakan orang lain terhadap Anda itu penting.
  • Arahkan cerita dan gosip orang lain tentang Anda, sesuai dengan yang Anda mau.

Finansial

  • Selalu siapkan diri untuk skenario paling buruk.
  • Orang yang sering memiliki kartu bagus atau yang tidak pernah kalah, belum tentu orang yang menghasilkan uang paling banyak.
  • Kejar nilai positif, bukan apa yang beresiko.
  • Pastikan saldo lebih dari cukup untuk bermain di meja saat ini, dan kemungkinan resikonya.
  • Bermainlah dengan jumlah uang yang Anda relakan untuk hilang!
  • Ingat bahwa ini adalah permainan jangka panjang. Kita sesekali kalah atau menang, tapi yang terjadi dari awal hingga akhir jauh lebih penting.

Strategi

  • Jangan memainkan permainan yang tak Anda mengerti, walaupun kelihatannya banyak sekali orang yang menghasilkan uang darinya
  • Pelajari permainannya ketika taruhannya tak terlalu besar.
  • Jangan curang. Cheaters never win in the long run.
  • Tetaplah pada prinsip yang Anda pegang.
  • Jadilah fleksibel. Gaya bermain mungkin akan berubah-ubah dalam semalam.
  • Sabar. Dan selalu berpikir jangka panjang.
  • Pemain dengan stamina dan fokus paling baik, biasanya menang.
  • Bedakan diri. Jadilah orang yang melawan arus, lakukan apa yang orang semeja tak lakukan, dan sebaliknya.
  • Sekadar "berharap" tak termasuk rencana yang bagus
  • Jangan lelah. Sesekali tinggalkan meja, dan keluar dari ruangan.

Pembelajaran Berkelanjutan

  • Teruslah mengedukasi diri. Baca buku. Pelajari orang-orang yang sudah mencoba sebelumnya.
  • Learn by doing. Teori memang perlu, tapi tak ada yang mengalahkan pengalaman sebenarnya.
  • Belajar dengan cara berkumpul dengan pemain-pemain bertalenta.
  • Menang sekali bukan berarti Anda hebat dan tak perlu belajar lagi. Mungkin Anda sedang mujur saja.
  • Jangan takut meminta saran.

Kultur

  • Cintai apa yang Anda kerjakan. Live it. Sleep it.
  • Jangan arogan. Jangan congkak. Selalu saja ada orang yang lebih baik dari kita.
  • Berlaku baik dan cari banyak teman. Ini adalah sebuah komunitas kecil.
  • Berbagi apa yang sudah Anda pelajari kepada orang lain.
  • Cari kesempatan di luar permainan. Mungkin teman baru, atau partner bisnis.
  • Have fun. Pada akhirnya ini semua bukan tentang uang.

Kisah Sukses: Bisnis Ayam Potong di Jakarta

Bisnis ayam potong saat ini cukup menjanjikan. Terbukti dengan salah satu kisah inspiratif untuk Anda, langsung dari pemilik bisnis ayamkarkas.com, Mas Angga Andhikka, yang saya rangkum dalam tulisan sederhana ini. Mas Angga ini dulunya adalah teman kerja saya, namun memutuskan untuk full berbisnis ayam potong dengan sasaran pasar di Jakarta dan sekitarnya.

ayam karkas

Bisa diceritakan sedikit tentang diri Mas Angga, misal tentang pendidikan, atau keluarga?

Saya merupakan keturunan Jawa dan Sunda yang lahir di Banten, Tangerang tepatnya, saya adalah anak pertama dari dua bersaudara, dan saya sudah berkeluarga serta dikaruniai dua orang putri. Saya merupakan lulusan sarjana hukum dari Universitas Parahyangan (UNPAR) Bandung, tapi dari awal saya berkarir tahun 2002 hingga pekerjaan saya yang terakhir sebelum memulai usaha, selalu di bidang marketing dan IT, dan belum pernah bekerja di bidang hukum, diawali dari bekerja sebagai PR di sebuah event organizer di Bandung hingga menjadi Online Marketing Manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta.

Jadi arti pendidikan bagi saya berdasarkan pengalaman adalah 30% wawasan, 70% pembentukan pola pikir, sudut pandang dan membantu membangun karakter, tentunya hal ini berbeda bagi setiap orang khususnya mereka yang memiliki profesi, seperti contohnya dokter, programmer dll.

Mas Angga kan sudah bekerja setelah sekian lama, apa yang akhirnya membuat Mas Angga memutuskan untuk memulai bisnis sendiri?

Sederhana saja, saya merasa selama ini sudah sedikitnya membantu orang lain untuk mewujudkan mimpi dan cita-cita mereka (pemilik perusahaan / bos) sekarang saatnya saya mewujudkan mimpi dan cita-cita saya. Memang tidak mudah untuk memulai usaha, tapi kalau tidak dimulai, selalu khawatir dan berangan-angan semua yang dicita-citakan hanya akan menjadi buah tidur saja. Jadi memulai usaha merupakan perjalanan hidup yang harus saya lalui karena menurut saya mimpinya sudah sempurna, sekarang saatnya membuat mimpi tersebut menjadi kenyataan.Selain itu, saya ingin memberikan bekal untuk semua keturunan saya nantinya, dengan mewariskan bisnis yang telah saya bersama istri rintis dan bangun ini, sehingga pada jamannya mereka nanti hanya tinggal memetik "buah"-nya tanpa harus bekerja keras seperti yang saya jalani sekarang ini.

Dari siapa Mas memperoleh dukungan? Apa tanggapan keluarga saat Mas Angga memutuskan untuk full time menjadi pengusaha?

Ridhollah fi ridhol walidain wa sukhtullah fi shukhtil walidain (Ridho Allah terletak pada ridho kedua orangtua kemurkaan Allah terletak pada kemarahan kedua orangtua). Sebelum memutuskan untuk full time menjadi pengusaha, tentunya ridho dan restu orang tua yang saya mohon, karena insyaallah dengan doa orang tua lah segala sesuatunya menjadi lancar. Sedangkan anggota keluarga lainnya mendukung penuh usaha saya dan istri saya ini di bawah bendera UD Griyam Makmur Lestari, yang terpenting insya Allah halal dan berkah.

Bisa diceritakan awal lahirnya UD Griyam Makmur Lestari?

UD. Griyam Makmur Lestari merupakan nama dari badan usaha untuk usaha ayam karkas / ayam potong yang saya dan istri jalani, nama tersebut diberikan oleh Ayah Mertua saya yang memiliki arti GRIya aYAM yang MAKMUR dan bertahan selamanya (LESTARI)

Kendala apa yang Mas Angga hadapi di awal memulai bisnis ini? Apakah bisnis ayam potong membutuhkan modal yang besar?

Ya semua bisnis memerlukan modal! Tapi modal uang bukan yang utama, sekarang banyak cara untuk mendapatkan modal uang, seperti pinjaman dari keluarga, teman, koperasi atau Bank, bisa berupa KTA, kredit usaha mikro hingga kartu kredit pun bisa dijadikan modal uang, atau bisa juga dengan cara mencari investor. Selama kita yakin dengan usaha yang akan kita jalankan, modal uang bukan suatu masalah. Modal utama dan yang paling besar untuk memulai usaha adalah BERANI KELUAR DARI ZONA NYAMAN dan BUANG GENGSI, siapa bilang usaha itu lebih enak dari bekerja kantoran, lebih nyaman dari bekerja kantoran.

Bayangkan saja seluruh hidup kita ada di tangan kita sendiri, mulai dari menentukan mau usaha apa, modal uang sebesar apa, bagaimana menjualnya, berapa banyak waktu yang harus disediakan dan seterusnya. Silahkan bayangkan dan renungkan, kendala terbesar seseorang untuk memulai usaha bukan modal uang, tapi keberanian untuk masuk ke "hutan belantara" dimana jalan dan tujuannya kita tentukan sendiri, bagaimana mencari dana, bagaimana memasarkan produk, bagaimana mengatur cash flow.

Modal uang tidak terlalu besar, dengan modal ±Rp. 250.000 kita sudah bisa mulai usaha ayam potong. Contoh:Tukang sayur, membeli ayam dari supplier ayam potong ±Rp. 25.000 per-kg dengan ukuran per ekor 1kg, kemudian dijual kembali menjadi ±Rp. 30.000 hingga ± Rp. 35.000.Misal sehari bisa jual 10kg x Rp. 5.000 (margin) = Rp. 50.000 (keuntungan bersih per hari), dalam 1 bulan atau ± 25 hari keuntungan yang bisa di dapat sebesar Rp. 1.250.000, itu hanya dari 1 perumahan dan hanya dari ayam saja, bagaimana dengan keuntungan dari sayuran, ikan, daging, tahu tempe yang dia jual?

Belum lagi ilustrasi dari usaha ayam bakar yang saya dapat dari pelanggan saya, dimulai dari gerobak kaki lima modal Rp. 1.000.000, hingga dalam 1 tahun sudah berkembang dan memiliki 10 cabang di ruko dan mall. Mungkin di lain kesempatan saya bagi cerita ini.

Apakah issue flu burung sempat mengganggu omset bisnis ayam potong? Bagaimana kiat Mas Angga untuk menghadapi issue ini?

Produk ayam karkas kami dilengkapi sertifikasi lengkap seperti sertifikat halal, KESMAVET untuk hasil uji laboratorium dan sertifikasi lainnya, produk kami rutin di uji oleh dinas peternakan, untuk menjamin terbebas dari flu burung, formalin dan zat berbahaya lainnya. Jadi insya Allah aman untuk dikonsumsi.

Apa suka duka Mas Angga sejak pertama kali berbisnis ayam potong? Sempat nggak, misalnya, dimaki-maki sama pembeli?

"If you love your job you never have to work a day" Alhamdulillah kalau sampai dimaki-maki belum pernah, tapi ditipu, diusir, diketusin, dikasih muka kusut, difitnah sudah pernah, tapi itu bukan hal yang mengecilkan hati, semua itu saya nikmati dan menjadi bagian dari usaha yang harus saya lalui, karena suatu saat semua yang pernah saya alami akan menjadi sebuah rangkaian cerita yang indah untuk saya ceritakan kepada anak dan cucu saya nantinya. Jadi kesimpulannya ya saya anggap suka semua tanpa duka hahahaha, keep positive! Tidak ada gunanya merajuk.

Apa yang membuat usaha Mas Angga berbeda dengan pesaing Mas Angga? Tips-tipsnya dong dalam menjaga pelanggan dan menjaga kualitas...

Kenali SWOT produk kita, utamakan silaturahmi, senantiasa bersyukur, sabar kemudian layani pelanggan dengan sepenuh hati dan ikhlas.

Terakhir nih Mas.. Apa pesan Mas Angga untuk para pembaca blog ini, misalnya ada yang ingin mengikuti kisah sukses Mas dalam berbisnis ayam potong dan karkas ayam?

Carilah mitra bisnis yang tepat, jangan semata mengejar keuntungan, utamakan lebih kepada menjaga silaturahmi, nanti rejeki akan mengikuti dengan sendirinya.Tidak pernah berhenti berdoa, bersyukur, sabar dan ikhlas. Karena tidak semua orang bisa jadi pengusaha. Salah satu unsur paling penting dari pengusaha adalah selalu bersyukur dengan semua yang ada, sabar dan yang paling penting adalah keikhlasan. Ikhlas bahwa hari ini bisa untung besok bisa rugi. Ikhlas tidak ada jaminan kestabilan ekonomi per akhir bulan: sudah fix mendapatkan penghasilan berapa sehingga tahu harus belanja berapa, kurang istirahat, serta Ikhlas tidak memiliki jam kerja atau dengan kata lain jam kerja lebih banyak daripada jadi pegawai dan tidak ada libur.

Pengusaha Harus Punya "Biji"

Dalam bahasa Inggris ada istilah "balls" yang arti sebenarnya memang skrotum alias "biji". Biji di sini tentu hanya dimiliki lelaki, sehingga kalau kita dikatain "You've got no balls" artinya kita tidak gentle, nggak punya nyali. Ciut.


Sebagai seorang pengusaha, penting punya nyali, daripada punya skill bisnis yang mumpuni. Karena menurut saya..
Pengambilan keputusan yang cepat, jauh lebih penting daripada mengambil keputusan yang benar tapi kelamaan
Contoh saja teman saya si Indra yang murni jadi pengusaha, ketika meminjam uang untuk usaha besar pertamanya, sebuah hotspot center. Tak tanggung-tanggung, dana pinjamannya mencapai puluhan juta rupiah. Jika mau dipikir dengan akal manusia yang waras, tentu jumlah tersebut sangat-sangat besar untuk ukuran seorang mahasiswa. Tapi, bermimpi besar, dan start action, itulah yang menjadi pembeda.

Nyali Besar dan Wanita Cantik

Tak heran, bila kebanyakan wanita yang menjadi istri pengusaha biasanya cantik-cantik. Menurut penelitian, percaya diri menjadi salah satu karakter yang digemari perempuan. Pengusaha semuanya pede-pede, walau kadang skill sales tak seberapa, yang pasti mereka berani. Berani ini modelnya macam-macam, termasuk berani mengambil resiko, berani berhutang, berani membangun relasi dengan siapapun, dan berani memulai sesuatu yang tak terpikirkan oleh kebanyakan orang. Pengusaha harus punya keberanian.

Tak jarang, dari keberanian tersebut, lahir keputusan atau inovasi yang mendunia. Prinsipnya sederhana saja, kalau belum ada yang coba sebelumnya, berarti bisa booming booming sekalian, atau bangkrut-bangkrut sekalian. Tidak ada di tengah-tengah.

Keberanian dan Kegagalan

Keberanian itu biasanya juga berbentuk keberanian untuk gagal. Gagal dalam artian kita jatuh tapi masih ada safety net, gagal yang masih bisa diperhitungkan. Kalau pengamannya saja jebol, ya itu sudah menjadi resiko. Berani bangkrut, sampai-sampai berakhir dengan hutang yang besar. Masih untung kalau cuma rugi modal nggak balik, bisa jadi bangkrut itu sampai minus berminus-minus.

Saya pernah membaca sebuah artikel di Tempo tentang seorang pengusaha ayam yang bangkrut sebangkrut-bangkrutnya hingga punya hutang hingga 300 juta rupiah. Namun dengan integritas yang tinggi, akhirnya pengusaha tersebut berhasil membalikkan keadaan dan menjadi salah satu pengusaha yang menerima penghargaan dari sebuah bank nasional.

Yang membuat ia selalu yakin adalah Ayahnya selalu memberikan support. Saat ia jarang pulang karena takut dikejar-kejar tukang tagih, Ayahnya mulai meyakinkannya untuk bangkit, membayar hutang-hutangnya, rupiah demi rupiah, hingga lunas.

Salah satu fase yang dilalui pengusaha sebelum benar-benar sukses biasanya adalah nilai asetnya akan fluktuatif. Di suatu waktu bisa makan enak sampe buncit, di kali yang lain dia benar-benar harus menahan lapar atau pake lauk cuma ikan asin. Pas ada duit bisa hidup enak, pas nggak ada duit bener-bener nggak ada duit. Pagi untung, malem miringin kopiah, semacam orang yang sedang berjudi. Ini normal, dan bisa kita lihat dari pergerakan nilai kekayaan para hartawan yang sering dimuat di Forbes.

8 Tips Membangun Relasi Bisnis

Di jaman sekarang ini, kalau nggak punya koneksi atau membangun relasi bisnis, kata orang mau usaha apa saja jadi susah. Jangankan hanya sekadar bisnis sampingan, yang menjadikan usaha atau bisnis sebagai lahan utama pekerjaan saja masih sering kebingungan. Tentu ini bisa disiasati dengan rajin-rajin mendapatkan kenalan, baik itu dari keluarga, teman, tetangga kanan-kiri (tidak pakai "oke"), atau bahkan dari komunitas di mana kita sering ngumpul. Yup, relasi bisnis dimulai dari mengakrabkan diri ke lebih banyak orang.
Membangun relasi bisnis dimulai dari mengakrabkan diri ke lebih banyak orang
Berikut tips saya dalam menjalin kenalan atau rekanan bisnis dengan siapa saja, bahkan termasuk petinggi-petinggi di pemerintahan.

jabat tangan

Jangan malu, takut, segan, antipati untuk berteman dengan siapa saja

Jaman sekarang kita nggak tahu kita ditakdirkan akan menjalin keeratan hubungan dengan siapa, jadi saat memiliki peluang untuk "melebur" ke dalam lingkungan yang agak asing, lakukan saja! Selalulah punya anggapan bahwa siapapun, walau berbeda keyakinan/agama/ras/dll, bisa saja menguntungkan di masa depan. Bukalah diri pada dunia yang lebih luas. Walau Anda benci dengan petugas pemerintahan, tapi nggak semua orang pemerintahan jahat kan?

Menjadi pribadi yang menyenangkan

Berusahalah ramah pada siapa saja, jangan pasang muka kusut dan preman, nanti orang kira kita ini preman betulan atau orang jahat. Di kereta, di perjalanan panjang, berusahalah mengenal orang yang duduk di sebelah kita. Misalnya dia pakai jas mahal, oh ini pasti orang tajir. Tapi kalau dia pakai baju biasa-biasa saja, oh mungkin PNS yang lagi dinas. Cari tahu, dan cari bahan pembicaraan.

Cukup 1 (satu) nomer handphone baru setiap minggu

Membangun relasi bisnis bisa dimulai dengan menambah jumlah phone book di hape Anda. Ini adalah aturan tak tertulis penulis. Setiap minggu, saya harus berhasil mendapatkan nomer kontak baru, untuk dimasukkan ke dalam phone book handphone. Oya, handphone kalau bisa yang agak kerenan dikit, jangan kayak orang susah untuk soal beginian. Pilih handphone yang kapasitas phone book besar, tangguh, dan kalau dikeluarin dari kantong nggak malu-maluin banget.

Berani malu!

Apa sih kemungkinan terburuk dari tanggapan orang yang baru Anda temui? Dilecehkan? Dimaki-maki karena sok akrab? Nggak mungkin seburuk itu, dan nggak mungkin bikin kita mati juga. Jadi, ikutilah pedoman agen asuransi dalam memikat nasabah baru : kalau saya nggak dapet nasabah baru, artinya saya nggak bisa makan besok!

Sering-sering ikut dalam seminar MLM

"Ih, MLM kan haram? Money game money game gitu kok malah dideketin?" Yang haram MLM-nya. Tapi seminar gratisnya nggak. Jadi kalau ada temen atau siapa saja yang mengajak Anda ikut MLM, iyakan saja! Toh gratis ini. Di seminar MLM Anda bisa belajar banyak hal. Misal cara berpenampilan, cara bicara, cerita unik, yang tentu nggak bakal bikin rugi. Tapi nanti kalau sudah diprospek lebih jauh, bilang aja "NGGAK TERTARIK!" sambil buang muka. Hehehehe.

Hapalkan 1 saja (ya, cukup 1 saja) HAL UNIK dari seseorang

Misal Anda tahu Tukang Ojek di depan gang ternyata anaknya jadi guru di Indonesia Mengajar. Sekali waktu, kalau ketemu, tanya saja "Gimana anaknya Pak, masih jadi guru di Lombok?". Atau, misal pak RT ternyata istrinya buka restoran gado-gado di Soekarno Hatta. Tanya saja "Yang bantuin Bu RT di kantin Bandara sehari-hari siapa Pak?". HAL UNIK ini bisa apa saja, dan harus bener-bener "berbeda" supaya mudah diingat. Ini menimbulkan kesan Anda perhatian banget sama tuh orang, sehingga hubungan bisa makin akrab.

The Power of "Mengapa"

Saat bercakap-cakap pada orang yang baru dikenal, misal di dalam pesawat, hindari pertanyaan seperti "Sudah berkeluarga, Pak?" atau "Tinggalnya di mana?". Pertanyaan ini selain sudah basi, agak rawan juga karena sensitif banget (misal tiba-tiba Anda ketemu orang yang ternyata umur udah 40 tapi nggak kawin-kawin). Daripada begitu, tanya saja "Kok keluarga nggak ikut Pak?" atau "Tumben ya, cewek kok ambil Teknik Mesin. Kenapa tertarik di situ?"

Nama. Nama. Nama.

Tidak ada kata yang lebih indah didengar seseorang, selain namanya sendiri. Karena itulah, di customer service bank manapun di dunia ini, nama Anda akan disebut minimal sebanyak 5 kali. Ya, benar. Minimal lima kali dalam sebuah percakapan!

"Selamat siang Pak Prabowo. Ada yang bisa saya bantu untuk Pak Prabowo? Oh.. Begitu ya Pak, baik.. Jadi Pak Prabowo ingin meminjam dana sebanyak Rp 5 milyar. Kalau boleh tahu, saat ini Pak Prabowo memiliki usaha apa saja ya Pak? Oh, usaha kerupuk udang? Bagus sekali itu Pak.. Tapi, mohon maaf ya Pak Prabowo, saat ini kami belum bisa memberikan pinjaman lagi, karena pinjaman Pak Prabowo senilai Rp 300 trilyun belum selesai masa pelunasannya. Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Prabowo?"

Sering-seringlah menyebut nama orang yang sedang jadi lawan bicara kita. Tatap matanya lekat-lekat. Jadilah pendengar yang baik.

Itu saja tips untuk memperbanyak kenalan, semoga bermanfaat.

Strategy for Business : Simple Approach

When people start thinking about running a great company, most of time they just overthink. They start comparing their plan with the existing ones such as Microsoft, Google, Oracle, or others. The more they think about the giants, the more difficult they take a little baby step. They think they need more money to build their business. They think that the tension of competition is high. They think they will not have enough luck in the long run. They think they will end up as a loser, just like the others.

light bulb

Don't overthink. Don't make it perfect.

The problem of thinking too much is that you will make your vision more vague. Your business is not started yet, but you already made some delusive possibilities. You block your own way to the freedom, to be successful.

When people see you start a very new and rare kind of business, they will say "Gosh, I guarantee you will fail. Nobody wants to buy a bloody pink hat in graduation ceremony". But if you try to mimic the Coca Cola, of Kentucky Fried Chicken, you will hear another sound saying "You're not going to make it. People are loyal to some popular brands". The solution of this case is simple : be dull of hearing. Do what you need to do.

Start it. And start it now.

My coworker has a story. His brother told him that he wanted to start a very successful business, as brilliant as an idea of selling the roasted peanuts (in Indonesia, there is an idiom for a product that gets a very high demand = "laris manis seperti kacang goreng" = in high demand just like roasted peanuts). "So, what do you sell?" my co-worker asked. "Damn sure, roasted peanuts!!" Don't think such a complicated solution. There should be a quick fix to get the problem solved.

Another clownish story, still by the same person. He made an online store with "acrylic" as the part key of the domain name. Unfortunately, we stumbled on another domain contains "akrilik" (note the letter "i"), the more familiar word in Indonesia. We, as people who sit more than 10-hours sucking screen and write software codes, then "whois" that domain so we can grasp the owner's name. From the whois information, we were riffing through another dull outmoded archaic online shops he owned.

Then, we came to a conclusion that the person is not so tech savvy. But heck, the online shops are running. He sells! Look, we spent most of our entire lives learning HTML / CSS / JavaScript / PHP, you named it.. Yet we still have one and only online shop powered by the most convincing e-commerce framework, but with big header says "UNDER CONSTRUCTION"?

The moral of the story is that you should start with the "Simple Approach".

What is "Simple Approach" and how come this can be a powerful strategy for our business?

The "Simple Approach" just some phrase that stumbled and crossed my mind, but you probably found it easily elsewhere. The approach believes that every single problem should be solved using the very least and minimum effort. 
Every single problem should be solved using the very least and minimum effort
In practice, we just don't give much sweat to a business challenge, and we should act like we know nothing. We should be dumb and oafish. We should forget that we hold some titles from BSc, MBA, PhD, whatever. We should forget what the text-book said. We should ask ourselves these kind of simple questions :

"How do I fix this broken roof, if I'm not getting a bachelor degree of engineering from Oxford University?"
"He doesn't even go to school. How come he could own more than 100 companies?"
"I spent 4 years studying and reading billions of reference of car machines. A trashman comes with a hammer, knock some part of my hood, and fvck... It's just fixed"

Wanna sell your cookies? Start bake it. Don't worry if it tastes like a shit. Sell it anyway.

Menghargai Uang, Seberapapun Kecilnya

Ketika Everton bertanding melawan Liverpool di Liga Inggris, ada sebuah kejadian menarik yang melibatkan penyerang Liverpool, Luis Suarez. Om Suarez ini memang penuh dengan kontroversi, baik di Liga Inggris bersama Liverpool (misalnya saat ia diputuskan bersalah karena kasus rasisme terhadap Patrice Evra, pemain Manchester United), atau saat bersama tim negara asalnya, Uruguay (saat ia dengan sengaja melakukan hands ball di kotak pinalti untuk mencegah Uruguay kemasukan gol saat berhadapan dengan Ghana dalam Piala Dunia).


Saat salah seorang fans Everton berusaha mencederai pemain Liverpool dengan cara melempar koin, Suarez memungut koin tersebut, menunjukkannya sebentar pada wasit, dan menyimpannya di dalam sepatunya. Banyak sekali cerita mengenai kejadian itu, namun yang saya suka hadir seperti yang muncul di account Twitter Footy_jokes (dan beberapa blog yang membahas Liga Inggris lainnya).
When Everton fans threw coin at Suarez, he took them and kept that safe in his shoe, because he was once an 11-year-old kid on the streets of Montevideo playing football barefoot not knowing if there'd be food when he returned home. He know the value of money even if it's just a penny. You'd know better than to throw coins at him
Terlepas dari "hoax" tidaknya cerita tersebut, saya yakin kita sama-sama bisa mengambil hikmah. Hikmah bahwa seharusnya kita bisa belajar untuk lebih menghargai uang, seberapapun kecilnya. Dan karena rata-rata negara di Amerika Latin memang tidak terlalu kaya, boleh jadi Suarez pun sempat mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Masa-masa bingung antara bisa makan atau tidak besok hari, di saat kebanyakan orang di luar sana menyombongkan apa yang mereka makan via Instagram.

Pengusaha-pengusaha yang baik, yang kekayaannya bukan datang begitu saja dari langit, atau warisan orang tuanya, tahu benar cara menghargai uang. Salah seorang pengusaha (yang kabarnya bakal maju menjadi Presiden di 2014. Oya, tentu blog ini tidak berafiliasi dengan Partai Politik atau brand mana pun :D), bahkan berkisah saat ia berusaha meminjam uang Rp 16juta dari Ayahnya, ia diberi uang dalam bentuk uang kertas (tunai) di dalam karung, hingga sulit dibawa-bawa. Saat ditanya, "Mengapa caranya mesti seperti ini?" Ayahnya menjawab, "Itu agar kamu tahu sebanyak apa uang Rp 16juta itu, agar kamu berhati-hati menggunakannya."

Jadilah seperti Paman Gober, yang kalau lihat uang walau recehan, pasti dipungut. Buktinya gudang uangnya semakin lama semakin penuh dengan uang, bahkan ia mandi pagi dengan berenang di tumpukan uang. Hehehehe. Jika kita ingin belajar menjadi pengusaha besar, ada baiknya kita juga belajar menghargai uang dengan cara memanfaatkan dengan benar setiap rupiah yang kita dapatkan dari berbisnis. Ada kalanya memang usaha sedang ramai, tapi boleh jadi lebih sering masa-masa paceklik mendera, yang mengakibatkan kita dililit hutang yang sangat besar, yang membuat kita bahkan lebih miskin dari pengemis, karena saldo pengemis nol, sedang saldo kita minus. Di saat kita lagi gembel-gembelnya, uang senilai 500 perak pun sungguh-sungguh berharga.

Uttare Daikichi (Daikichi's Salesmanship), Komik Inspirasi Bisnis

Terus terang, penulis tidak terlalu suka (bukannya tidak suka sama sekali) dengan buku-buku kisah sukses yang sering kita temui sebagai "best seller" dan dipajang di rak-rak buku toko-toko buku ternama seperti Gramedia. Biasanya, buku tersebut hanya bercerita tentang narsisme si penulis (karena covernya hanya foto penulis pakai jas dan terlihat keren), dan kurang praktikal (alias kurang bisa diterapkan).

daikichi's salesmanship

Maka dari itu, saat pertama kali tahu ada komik dengan judul Uttare Daikichi (diterjemahkan sebagai Daikichi's Salesmanship) dengan tema bisnis oleh anak-anak, ini saya rasa cukup menarik, karena jarang sekali tema-tema seperti ini muncul di dalam komik. Komik lain yang agak menjurus ke bisnis yang pernah saya tahu adalah Money Maker yang isinya tentang investasi di saham oleh (lagi-lagi) seorang anak kecil. Ada lagi komik lain berjudul Kurosagi (diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi The Black Swindler) yang bercerita tentang bentuk-bentuk penipuan dalam bisnis.

Alur Cerita Uttare Daikichi

Dikisahkan dalam Uttare Daikichi, seorang anak bernama Daikichi Sagano yang punya mimpi tak tanggung-tanggung: menjadi pedagang nomer 1 di dunia! Ayah Daikichi memang seorang penjual takoyaki dan sedang berjualan keliling dunia. Secara kebetulan, Daikichi bertemu dengan kucing keramat yang dapat berbicara. Kucing yang dinamai Neko-sensei (neko = kucing, sensei = guru) ini ternyata adalah kucing berusia ratusan tahun yang punya kemampuan pinandhita dalam berbisnis, diduga karena merupakan titisan Dewa Dagang.

Dimulailah petualangan Daikichi bersama Neko-sensei, misalnya dalam menyelamatkan warung mainan tradisional nenek yang akan bangkrut, menjadi juara dalam porseni sekolah yang unggul dalam jumlah pengunjung dan kepuasan pembeli, hingga pada akhirnya bertemu dengan kompetisi dari taipun bisnis bernama Shochiku dengan hadiah 30 milyar yen. Di sela-sela petualangannya, guru kucing selalu memberi tips-tips bisnis yang berguna untuk Daikichi yang masih hijau dalam urusan berdagang. Guru kucing pun berharap bahwa kemampuan Daikichi akan semakin terasah, dan pada waktunya nanti akan mendatangkan keuntungan pula baginya.

Salah satu tips display content (penempatan items yang dijual di toko) yang diberikan guru kucing adalah soal memberikan "rasa aman" pada calon pembeli untuk sebuah merek spray rambut yang baru. Pada dasarnya sebuah produk baru boleh jadi memiliki keunggulan seperti harga yang lebih murah, tampilan lebih menarik, dll. Tapi, konsumen yang sudah terlanjur loyal dengan produk-produk yang terkenal duluan, akan susah dibujuk untuk sekadar mencoba. Hal ini disadari Daikichi tatkala melihat dua buah box plester luka yang berbeda merek. Merek A box-nya masih berisi full (misalnya 24 package yang lebih kecil), sedang box merek B hanya berisi sedikit package.

Kelihatannya, plaster merek A sulit sekali laku, dan produk B yang cepat laku. Pada kenyataannya, justru sebaliknya! Plester merek A sudah terjual pada box ketiga bulan ini, sedang produk B belum sampai 1 box terjual. Ini membuat Daikichi mengambil beberapa spray pada box display spray rambut merek baru, dan pembeli pun akan merasa "Oh, merek ini sudah banyak yang beli" atau "Wah, udah mau habis aja, kalau nggak ambil nanti kehabisan". Tips-tips sederhana seperti ini banyak sekali dijumpai di sepanjang perjalanan bisnis Daikichi.

Salah satu cerita lain adalah penjelasan guru kucing untuk pembagian model pembeli sesuai perilakunya yang mirip ikan koi dan ikan ayu. Karena perilakunya berbeda, maka "cara memancing"-nya juga berbeda. Pembeli model ikan koi, adalah pembeli yang mesti dibaik-baikin dulu, disapa ramah, dilayani sedemikian rupa, sampai nanti akhirnya membeli. Tapi, kebanyakan pembeli adalah pembeli model ikan ayu. Justru kalau semakin disapa, ditegur, ditanyain lagi cari apa, justru semakin risih dan akhirnya kabur.

Ada lagi cerita lain soal porseni sekolah. SMP Daikichi setiap tahun mengadakan porseni di mana masing-masing tim yang terdiri dari 4 murid membuat stand. Stand bisa saja restoran, warung kecil, pameran foto, kolam pancing, rumah hantu, apa saja. Penghargaan Most Valuable Stand akan diberikan pada stand yang berkriteria: profit paling besar, dikunjungi paling banyak, dan mendapat vote dari kebanyakan pengunjung porseni. Melihat histori Daikichi yang selalu saja gagal di 2 kali porseni sebelumnya, tak heran tak ada satu murid pun yang ingin bergabung bersama Daikichi.

Tersebutlah Makoto, teman Daikichi sedari kecil, yang dahulu pernah berjanji untuk membuat perusahaan bersama. Makoto juga tak mau menjadi teman satu tim Daikichi. Faktanya, Makoto bekerja keras setiap pagi menjadi pengantar koran. Yang tak diketahui Daikichi, Makoto selalu berangkat subuh-subuh, dan terpaksa berdagang koran karena orang tuanya bercerai, sedangkan ia memerlukan biaya besar untuk sekolah dan adiknya yang masih kecil. Waktunya habis untuk bekerja. Makoto beranggapan bahwa dagang yang ada hanya susah, dan sekeras apapun berusaha, hidup tak akan jadi lebih baik. Sesulit apapun melayani pelanggan-pelanggan korannya, yang ia dapatkan hanya muka masam di pagi hari.

Daikichi diam-diam membuntuti Makoto keesokan paginya dan mengambil alih tugas Makoto mengantar koran. Sambil membagikan koran ke pelanggan-pelanggan Makoto, Daikichi selalu tersenyum dan mengucapkan terima kasih, tak peduli mau diberi respon tak enak, atau dibalas dengan muka kecut. Ternyata, seorang Bapak tua yang menjadi pelanggan Makoto, untuk pertama kalinya selama Makoto berjualan, membalas pula dengan sebuah senyuman. Cara pandang Daikichi tentang berjualan, telah membuat Makoto berubah pikiran. Bahwa ternyata apa yang dikatakan Daikichi benar (yang saya ambil menjadi tagline blog ini), bahwa kita berdagang bukan demi profit semata, tapi berdang demi sebanyak mungkin senyum. Akhirnya Makoto bergabung bersama tim Daikichi, serta Azuki dan Sawai (teman baik Daikichi).
Kita berdagang bukan demi profit semata, tapi berdang demi sebanyak mungkin senyum
Secara umum memang ceritanya kurang masuk akal, plus agak terlalu singkat (Daikichi's Salesmanship hanya berseri hingga 4 buku). Namun kalau untuk referensi alternatif dan seru-seruan, seri komik ini patut untuk dijadikan koleksi tambahan. Seperti apa kisah selengkapnya Daikichi bersama impiannya menjadi pedagang nomer 1 dunia? Akankah tim Daikichi bisa merebut trofi Most Valuable Stand yang selama 2 tahun berturut-turut dipegang Raionji, anak orang kaya dengan koneksi tak terbatas? Trik bisnis apa lagi yang diajarkan guru kucing? Bagaimana cara Daikichi bersaing melawan trik-trik kotor bisnis Tojo, dan menjadi pemenang di proyek Shochiku bernilai 30 milyar yen?

Anda bisa baca sendiri di komik Daikichi's Salesmanship terbitan Elex Media Komputindo.

Kata Lain Diskon

Berikut kata-kata yang biasanya digunakan pihak marketer dalam memasarkan barang konsumsi. Biasanya memang untuk event-event tertentu seperti di dalam pusat perbelanjaan, kita (calon pembeli) sudah dikondisikan untuk "menelan" segala macam bentuk promosi dari pihak mall atau counter atau outlet.
discount


Sebagai contoh, misalnya soal arsitektur mall yang memukau (terkesan kalau belanja di mall meningkatkan gengsi dan "prestige"), posisi tangga otomatis (eskalator) yang dibuat supaya kita berjalan memutar dan melihat semua counter (tidak ada counter yang tidak dilewati pengunjung), sampai interior gedung yang membuat kita bingung dan tersesat. Bila kita terlalu lama berjalan melewati sekian banyak counter, dan akhirnya capek sendiri, mau tidak mau kita akan mencari food court atau masuk ke counter yang menyediakan tempat duduk.

Diskon atau potongan harga, menjadi salah satu sarana marketing dalam mempromosikan produk perusahaan, juga semakin lama semakin "berevolusi" gayanya. Kita sering melihat bentuk-bentuk diskon dengan kata-kata yang berbeda. Berikut kata lain diskon atawa potongan harga yang saya bisa kumpulkan.

Beli 1 gratis 1

Pada dasarnya ini adalah diskon 50%. Bedanya, penjual akan meningkatkan jumlah sales dengan "menghabiskan" barang dagangannya. Model diskon seperti ini biasanya untuk meningkatkan turn over (dibahas dalam tulisan berbeda) atau sekadar "cuci gudang".

Diskon 50% + 20%

Pada awalnya saya berpikir ini diskon yang sama dengan diskon 70%. Tapi ternyata ini proses terpisah, setelah didiskon 50% baru barang dikurang lagi dengan diskon 20%. Jika X adalah harga awal, diskon pertama adalah a dan diskon kedua adalah b, maka yang dimaksud dengan kalimat marketing di atas adalah diskon total = aX + b(X-aX) = aX + bX - abX = aX + bX(1-a). Atau dengan contoh di atas, diskon total menjadi 50% + 20%(1-50%) = 60% alias lebih kecil daripada 70%.

Voucher 100ribu

Mengapa rata-rata memberi voucher bukan sekadar uang tunai saja? Karena pada dasarnya nilai intrinsik sebuah voucher tidak akan lebih daripada nominalnya. Jadi, voucher senilai Rp 100ribu pasti nilainya lebih kecil daripada uang tunai senilai Rp 100ribu.

Bayar 12 bulan gratis 1 bulan

Loyalitas itu penting dan perlu bagi pedagang, oleh sebab itu untuk kelas jasa, biasanya bayar 12 bulan lebih murah (per bulannya) daripada bayar 6 bulanan atau per bulan. Konsumen dituntut untuk lebih loyal dan sebagai hadiahnya harganya bisa turun sedikit daripada yang seharusnya. Misalkan harga berlangganan koran sebulan 50ribu. Namun bila ikut 10 bulan, biayanya jadi Rp 450ribu. Menghemat Rp 50ribu atau 10%. Tapi, bagaimana kalau kalimat marketingnya diubah menjadi "bayar 10 bulan dan tambahan gratis sebulan"? Kita lihat, bayar 10 bulan = Rp 500.000, yang seharusnya Rp 550.000 (11 bulan kali Rp 50ribu). Ini tidak sama (alias lebih kecil) daripada diskon 10%, karena jumlah potongan (Rp 50ribu) dibagi total Rp 550ribu, hanya 9.09% saja.

Up To

Ini sih sudah basi, tapi masih sering dipakai untuk menyasar konsumen yang gila diskon. "Up To" mengindikasikan nilai maksimum yang mungkin. Jadi kalau ada minimal 1 item pakaian saja yang didiskon 90%, sedangkan sisanya hanya diberi diskon 20%, promo ini tidak bohong, hanya mengelabui pikiran bawah sadar kita.

CashBack

Pada dasarnya ini juga adalah potongan harga. Bedanya, cashback adalah semacam pengembalian potongan dalam bentuk tunai namun setelah kita melakukan pembayaran. Cashback ini ada yang bisa dinikmati langsung (seperti promo baju batik di Pasaraya Grande baru-baru ini), atau dinikmati setelah periode tertentu (seperti mileage atau poin kartu kredit). Dengan adanya cashback, penjual biasanya juga bermaksud untuk membedakan kelas pembeli (yang mampu dan separuh mampu) dan juga "menunda" pemberian diskon.

***

Sebenarnya masih banyak lagi kalimat-kalimat marketing yang gunanya untuk "menipu" pemikiran kita tentang harga. Kita, sebagai konsumen, akan berusaha mencari cara untuk berhemat, namun tidak ingin pula dibodohi kata-kata marketing yang menyesatkan. Semoga bermanfaat.

Benarkah Pembeli Adalah Raja?

Dalam salah satu episode di serial bagus "Around The World in 80 Trades", Conor Woodman terlihat bodoh di ganasnya pasar unta Sudan. Buat yang belum pernah nonton, sekilas tentang serial ini: Conor adalah seorang market analyst dengan pengalaman hidup nyaman di London. Ia menjual tempat tinggalnya, dan dengan bekal senilai £25000 ia mulai berkelana ke 4 benua untuk melakukan perdagangan yang sebenarnya. Bertemu pedagang sesungguhnya, dan melakukan transaksi demi transaksi, membeli sesuatu dan menjualnya di tempat lain dengan tambahan profit.


Pasar unta sebenarnya terbilang menguntungkan. Rencananya adalah membawa 6-10 ekor unta ke Egypt (Mesir) dari Sudan dengan truk. Dengan capital senilai £2500, ia mengharapkan profit sebesar 100%. Malang tak dapat ditolak, saat ia mencoba bernegosiasi dengan market owner (semacam bandar kongsi) di Sudan, ia tidak mendapat simpati karena menawar terlalu rendah. Walhasil, semua pedagang sudah terintimidasi untuk tidak bertransaksi dengannya. Andai saja ia mencoba untuk melunak, mungkin ia tidak akan mendapat perlakuan demikian.


Seringkali, kita mendapatkan pembeli yang kurang memahami arti "Pembeli adalah Raja". Mungkin mereka pikir ketika menjadi raja, maka mereka bebas melakukan apa saja, termasuk mengabaikan manner dan etika bisnis. Sebagai seorang penjual, kita sebaiknya hati-hati dengan tipikal pembeli seperti demikian, karena di samping akan merusak pasar (baik harga maupun kompetisi antar pedagang dengan komiditi sejenis), berdampak pula pada kehilangan kepercayaan pelanggan lain (mempengaruhi sales).

Contoh-contoh perilaku pembeli (atau calon pembeli) yang patut diwaspadai antara lain sebagai berikut :

Menawar dengan harga yang tidak masuk akal.

Pembeli model ini biasanya adalah pembeli yang tidak serius menawar atau menginginkan barang. "Kalau dikasih ya syukur, tapi kalau enggak ya sudah.." mungkin begitu pikir mereka. Atau boleh jadi mereka memang punya budget yang sedemikian terbatas, sehingga angkanya bisa hanya 20% dari harga awal, yang bahkan tidak bisa membuat penjual balik modal.

Merendahkan kualitas produk dagangan, lebih parah di depan (calon) pembeli yang lain.

Pembeli model ini akan berusaha membuat produk terlihat berkualitas remeh, dengan harapan penjual akan menurunkan harga. Biasanya pembeli model ini akan mirip seperti pembeli model sebelumnya : menawar dengan harga yang tidak masuk akal. Hati-hati bila pasar ramai, kredibilitas Anda dipertaruhkan di sini, karena sekali "tebakan" mereka benar tentang kualitas produk Anda yang sebenarnya, pembeli lain akan sekonyong-konyong ikut menjauh. Contoh kalimat yang terlontar kira-kira "Ih, di toko B sana bahannya sama kok, harga setengah dari punya situ!" Nah loh..

Lihat-lihat, nggak punya duit, tapi banyak tanya, terus ujung2nya nggak jadi beli.

Gelagatnya bisa kita tangkap sejak awal. Jadi kalau pertanyaannya sudah terlampau banyak untuk ukuran barang yang sudah jelas-jelas nggak perlu ditanya-tanya lagi, lebih baik sudahi percakapan dan beralih ke urusan lain yang lebih penting. Saya pernah makan di warung. Tak lama seorang pembeli bertanya macam-macam soal lauk-lauk dan sayur yang ada di meja. Yaelah, ribet amat mau makan di warteg. Terus ujung-ujungnya ngutang :))

Kelakuan penjual yang lain.

Terkadang barang kita dibuat "mati" alias nggak bisa dijual karena "ditahan" oleh pembeli yang sebenarnya spekulan. Boleh jadi dengan uang muka tertentu yang nominalnya kecil, atau diberi harapan palsu bahwa barang akan dibeli dalam jumlah besar. Di satu sisi kita terus mendapat order dari orang lain, tapi stock sudah terlanjur "dipesan", namun di sisi lain kita "digantung" dan tak kunjung dapat kepastian. Contoh lain yang nyata adalah saat salah satu media cetak terbesar di negeri ini oplahnya dibeli oleh lapak sejenis.

Meminta bonus atau barang gratisan yang nilainya tinggi

Di pasar buah misalnya, akan terlihat mana orang yang benar-benar ingin membeli buah, mana yang hanya mengharap icip-icip buah gratis. Harga sekilo nggak sampe ceban (Rp 10.000), tapi beli cuma seperempat kilo dengan sesi icip-icip habis 3 biji, itu pun pake acara nawar harga lagi. Model begini sebaiknya dihindari, karena untung tak seberapa, yang ada malah ngasih gratisan lebih besar.

Alasan Salah Kaprah : Saya Tidak Punya Bakat Bisnis

Salah satu alasan yang sering dijadikan orang saat ditanya mengapa tidak terjun menjadi pengusaha adalah
Saya tidak punya bakat bisnis...
Alasan ini sedemikian ngetop sehingga dijadikan pembenaran bagi banyak sekali orang. Kalau kita cermati lagi, sebenarnya bisa atau tidaknya seseorang berbisnis tidak ada kaitannya dengan gen, keturunan, atau skill bawaan lahir. Jadi, celetukan "Ah, dia kan nurun dari orang tuanya yang pengusaha, wajar saja lah.." agak aneh di telinga saya.


Kita tidak pernah mendengar orang berkomentar, "Dia kan anak karyawan, jadi besarnya juga jadi karyawan". Menjadi karyawan, sama seperti menjadi pengusaha, juga bukan bakat atau sifat lahir. Ketika ada pengusaha yang kebenaran orang tuanya adalah juga pengusaha, boleh jadi "dilatih" untuk menjadi pengusaha sejak kecil. Misalnya, karena sering melihat orang tuanya jaga toko, melihat berbagai macam model transaksi, dll.

Skill bisnis, layaknya skill-skill profesi lainnya, sebenarnya bisa dilatih dan dipelajari. Saya ulangi, keahlian berbisnis bisa dipelajari. Mengabaikan rasa malu saat berjualan, kemampuan komunikasi verbal, memahami perbedaan dan spesifikasi produk, semua hal itu sebenarnya bisa dipelajari sambil jalan. Hanya memang perlu waktu, layaknya kita belajar hal-hal lain di dunia ini.

Bila diandaikan, saya ingin membandingkan belajar bisnis dengan belajar naik sepeda. Pertama kali, kita melihat teman kita jago sekali naik sepeda. Pakai tangan satu, lepas kedua tangan, berbagai macam gaya mereka bisa praktekkan. Pada awalnya kita takut jatuh. Ada rasa malu kalau mau belajar. Tapi, berangsur-angsur kita ingin segera bisa. Kita mulai belajar mengayuh. Pada awalnya pelan, goyang-goyang, tidak seimbang. Besok kita coba lagi. Belakangan kita paham, kalau kita semakin pelan, kita akan makin mudah jatuh. Esoknya kita coba lagi.

Lambat laun, kita semakin jago. Waktu menjawab. Dan kita, tanpa disadari, merasakan titik di mana rasa percaya diri kita makin tinggi. Kita semakin lancar bersepeda. Kita bisa.

Demikian pula saat belajar berbisnis. Misalnya kita memutuskan untuk berjualan baju anak-anak. Kita beli sekodi dari pabrikan atau pedagang grosir. Simpel saja : ambil dengan harga Rp X, jual dengan harga Rp X ditambah keuntungan.

Beberapa hari kita lalui. Tapi ternyata lapak kurang laris, dan produk yang terjual tidak seberapa. Di tahap ini kita sebenarnya sudah belajar banyak. Pertama, soal keberanian memulai (penting). Kedua, bagaimana membaca arah pasar. Mungkin produk yang sedang tren di pasar adalah merek-merek tertentu, atau baju dengan model tertentu. Lain kali kita ke pedagang grosir, kita jadi paham seberapa banyak baju dengan model tertentu yang harus kita beli.

Lapak kembali mulai ramai. Beberapa calon pelanggan (yang biasanya cuma lihat-lihat tanpa beli) mulai cerewet dan tanya-tanya. "Bedanya model A dan model B apa ya, sis? Harganya selisih jauh sekali" dan kita pun membisu. Bingung tidak menjawab. Di sini kita belajar cara berkomunikasi dan dituntut mendalami keunggulan produk yang kita jual. Sering kan kita ke pameran atau expo, tapi begitu bertanya dengan SPG, jawabannya kurang memuaskan. Ini karena mereka memang hanya lebih fokus pada make up dan pakaian seksi, bukan memahami barang dagangan secara utuh.

Setelah itu, kita tahu ternyata ada pedagang lain yang menjual barang serupa. Di sini kita belajar berkompetisi, dan memahami etika bisnis. Jangan sekali-sekali melakukan tindakan tak sportif demi meraup keuntungan nan tak seberapa. Berjualan itu lebih ke arah menggapai berkah sebanyak-banyaknya daripada sekadar uang. Mungkin kita bisa berkolaborasi. Joinan istilah lainnya. Siapa tahu dengan bersinergi pelanggannya semakin banyak.

Bisa dilihat, hal-hal di atas sebenarnya hal-hal biasa yang lama-lama akan membuat kita semakin tangguh di dunia bisnis. Masih banyak lagi kemampuan yang harus kita kembangkan. Misalnya kemampuan negosiasi, tawar-menawar, memilah jenis-jenis pelanggan (sewot, berisik, sabar, banyak duit, kalo nawar kejam, ramah, sering kasih tip, dll), membaca harga pasar, melihat bahasa tubuh atau gerak mata, dan sebagainya. Ini pasti kita akan bisa pelajari. Sedikit, pelan-pelan.

Semoga tulisan ini berguna untuk kita semua. Salam.

Pentingnya Dukungan Orang Sekitar

Sering kali kita mengalami penurunan semangat, hanya karena selentingan atawa komentar yang bernada negatif. Berapa kali kita menerima celetukan seperti berikut:
Ah, mana mungkin kamu bisa, kan kamu tidak punya bakat dagang?
Kalau mau bisnis dan berhasil, harus punya modal yang besar!
Saya ragu bisnis seperti itu akan sukses...
Banyak loh yang sudah gagal sebelumnya
skydiving

Dan sejuta macam komentar bernada sindiran lainnya. Inilah pentingnya memiliki keluarga, teman, atau lingkungan yang selalu mendukung. Salah satu caranya adalah dengan bergabung dalam komunitas dengan hobi sejenis. Bila kita cenderung bergaul dengan orang-orang yang selalu berpikiran buruk, plus tidak ada semangat hidup, otomatis auranya akan turut serta. Potensi kita yang sebenarnya besar, tertimbun oleh pesimisme orang-orang yang bahkan sering tidak mengenal kita.

Yang kita perlukan adalah seseorang yang mendorong kita dari belakang. Yang tidak menertawakan kita saat kita jatuh. Yang senantiasa memotivasi, dan melihat segala hal dengan kacamata yang jernih. Orang tersebut boleh jadi orang tua, bahkan tetangga kita yang punya angkot 6, usaha jual beli furnitur, atau yang berangkat haji berkali-kali dari bisnis sapi perah.

Yang tidak patut kita jadikan teladan dan teman baik adalah orang-orang yang malas, dan berusaha "mencari kawan" untuk menemani kemalasan mereka. Mereka-mereka ini senang bila ada makin banyak orang seperti mereka: gagal, tak mau mencoba, enggan bekerja keras. Berteman dengan pandai besi terciprat bara, namun bergaul dengan pedagang minyak wangi juga ikut-ikutan harum.

Bangkit Dari Rasa Sakit Hati Karena Penipuan (Dagang)

Mungkin dalam dunia usaha, kita sering berkenalan, komunikasi, atau dikenalkan teman, dengan seorang yang cukup meyakinkan. Meyakinkan dalam arti ia memiliki skill verbal yang mantap, sehingga ketika berbicara sangat persuasif. Insan bisnis yang baru kita saja kita kenal ini, membuat kita tertarik untuk melakukan kerjasama dengannya.


bangkit dari penipuan bisnis


Waktu berlalu, namun tidak ada tanda-tanda kehidupan dari "bisnis" yang kata "rekanan" kita itu menguntungkan. Kita coba kirim SMS ke sang "rekanan". Tidak dibalas. Kita coba telpon, ternyata tidak tersambung. Hati kita mulai cemas. Uang yang kita "investasikan" untuk "bisnis" dari sang "rekanan" cukup besar dan lumayan jumlahnya. Namun kita masih optimis, kita tunggu sehari dua hari.

Masih juga tak ada kabar. Kita coba langsung menuju alamat yang pernah ia beri, yang tertunjuk di kartu nama yang kita duga hanya menghabiskan 25ribu rupiah untuk 100 lembar kartu nama. Setelah sampai di alamat dimaksud, kita menganga. Kosong. Alamat tersebut palsu. Langsung saja kita terdiam lama, dan hampir menyanyikan lagunya Ayu Ting Ting.

Kita ditipu mentah-mentah. Ludes sudah uang hasil keringat selama ini.

***

Pernahkah Anda mengalami kejadian yang kurang lebih sama? Bagaimana menyikapi penipuan? Sebelum melanjutkan, ada baiknya kita cermati dulu soal konsep rizki dari Allah SWT. Rejeki kita itu tidak selamanya berbentuk uang atau materi. Kesehatan, keluarga, dan ketenangan hidup, adalah rejeki pula. Bahkan kemampuan kita untuk menghirup segarnya udara pagi hari, sambil mendengarkan adzan shubuh atau kokok ayam, perlu kita syukuri.

Kita juga perlu mahfum bahwa rejeki kita itu sudah dijamin sama Allah. Kita tidak perlu terlalu bernafsu karena semua sudah ada jatahnya. Boleh jadi, uang yang hilang memang bukan rejeki kita. Sabar, dan banyak-banyak beristighfar. Insya Allah akan ada "kembaliannya" dalam bentuk yang jauh lebih baik. Aamiin.

Menyikapi rizki yang hilang sebagai "uang kursus"

Saya selalu merasa bahwa quote atau kata-kata mutiara dari Full Metal Alchemist berikut ada benarnya
Humankind cannot gain anything without first giving something in return. To obtain, something of equal value must be lost. That is alchemy's first law of Equivalent Exchange. In those days, we really believed that to be the world's one, and only truth
Artinya, untuk mendapatkan sesuatu, kita perlu mengorbankan sesuatu yang nilainya setara. Saat Anda kehilangan Rp 1 juta, anggap saja itu "Uang Kursus" demi mendapatkan pengalaman bisnis. Saat kehilangna Rp 10 juta, Rp 20 juta, Rp 100 juta, anggap saja itu sebagai HARGA YANG HARUS DIBAYAR untuk mendapatkan pengalaman yang nilainya sama.

Percayalah, uang tersebut tidak ada artinya bila dibandingkan dengan pertambahan rasa bijak Anda pada hidup. Uang Anda bukannya hilang, tapi hanya sekadar berubah wujud menjadi hal lain yang bukan materi. Tidak ada gunanya meratapi hal yang sudah terjadi, bahkan Anda harus jadikan itu sebagai obat untuk melanjutkan peraihan ilmu dari alam semesta ini.

Semoga Anda dapat segera bangkit dari keterpurukan, tidak banyak menangis, dan tetap semangat!

Modal Bisnis Yang Sebenarnya

Dalam sebuah mata kuliah kewirausahaan di sebuah Universitas ternama di Yogyakarta, seorang dosen bertanya pada semua mahasiswanya, sebuah pertanyaan klasik sebenarnya.
Mengapa orang tidak terjun ke bisnis?
"Karena tidak ada modal, Pak!" salah seorang mahasiswa menjawab. Sang dosen pun mengeluarkan dompetnya, mengambil beberapa lembar uang pecahan 100 ribu rupiah, dan menantang balik sang mahasiswa. "Oke, ini ada 2 juta rupiah. Kalau kamu butuh lebih banyak dari ini, akan saya sediakan. Butuh berapa, 5 juta, 10 juta, 20 juta, 100 juta? Akan saya sediakan"

ilustrasi uang di dalam koper


Mahasiswa tersebut terdiam dan kebingungan. "Kalian bisa lihat, sebenarnya kapital, uang, bukanlah modal utama untuk memulai sebuah bisnis. Modal bisnis yang sebenarnya ada pada hati setiap insan entrepreneur. Modal bisnis yang sebenarnya adalah attitude". Kebanyakan kita juga sering salah kaprah tentang ini. Dikiranya uang adalah segalanya.

Justru pertanyaan yang harus dijawab sebelum memulai usaha, apapun jenisnya, adalah kemampuan kita untuk bersikap layaknya seorang pengusaha. Mandiri, percaya diri, pandai mengambil resiko, jujur dan amanah. Pantang menyerah, disiplin, tetap rendah hati, ulet, tidak mudah puas, menghargai orang lain. Keahlian-keahlian lain seperti pandai berkomunikasi, skill verbal yang dominan, dan lain-lain, lama kelamaan akan terbentuk dengan sendirinya.


Yang perlu dipupuk pertama kali bukanlah target-target yang nilainya mutlak seperti harus menghasilkan profit sekian juta, harus bisa menjual sekian banyak produk, bukan. Walaupun target-target seperti demikian dapat membantu kita menyemangati diri sendiri, target-target seperti itu bukanlah hal utama. Justru sikap positif lah yang harus pertama kali tercipta.


Apakah Anda siap dengan ketidakpastian dunia usaha? Siap dengan perubahan? Siap bermigrasi dan banting setir bila keadaan cenderung memburuk? Tahan terhadap tekanan keluarga dan lingkungan yang mencibir profesi? Seberapa tangguh Anda didera kegagalan? Do you will do what ever it takes to be a successful entrepreneur?