Meningkatkan Performa Karyawan

Mungkin karyawan perlu diingatkan lagi tentang peran pentingnya dari sisi perusahaan. Mari kita analogikan sebuah kumpeni sebagai sebuah kapal bajak laut. Dia punya cause. Dia punya alasan terombang-ambing di tengah laut. Walaupun terkadang kapal itu sedang dalam posisi yang nggak tahu mau ke mana karena badai, seorang kapten masih bisa mempertahankan performa masing-masing kru. Yang jadi koki ya tetap masak, yang jadi petugas kebersihan geladak kapal ya tetap ngepel, dan seterusnya. Sampai ada perintah selanjutnya.

The Cause

Dalam sebuah eksperimen, seseorang diminta untuk mengerjakan sebuah task sederhana. Ia diminta unuk mengurutkan beberapa lembar kertas, sedemikian sehingga kertas-kertas ini terurut berdasarkan angka atau karakteristik tertentu yang diminta oleh si empunya eksperimen. Di percobaan kali pertama, officer masih memeriksa validitas pekerjaan orang tersebut. Masih dicek, apakah benar atau keliru. Untuk setiap percobaan yang selesai, objek eksperimen akan dibayar sejumlah uang, terlepas dari benar tidaknya hasil pekerjaan.

Di percobaan kali kedua, hasil pekerjaan masih diperiksa, namun dengan waktu yang lebih singkat. Random sampling saja begitu. Di kali ketiga, officer sudah tidak memeriksa pekerjaan lagi. Lebih parah, di kali percobaan ke sekian, hasil pekerjaan dimasukkan ke dalam amplop, lalu digunting-gunting tepat di depan objek eksperimen.

Dapat diduga, performa objek eksperimen akan menurun seiring waktu. Ia tidak lagi dapat menerima bahwa hasil pekerjaannya, akan diepelekan. Ia tidak lagi menemukan cause dari apa yang dia kerjakan. Mengambang tanpa arah. Disorientasi.



Dalam bukunya, "A Whole New Mind, Why Right-Brainers Will Rule The Future", Daniel Pink menyebutkan,
'Dangling a very big carrot, led to poorer performance'
Menurutnya, justru memberi insentif yang terlampau besar akan menyebabkan performa menurun. Karena di satu titik tertentu, bukan malah jadi penambah semangat, tapi justru membuat produktivitas menjadi berkurang.

Implementasi

Di dalam kapal, harus jelas hirarki kekuasaan dan ruang lingkup pekerjaan berdasarkan skill dan kapabilitas masing-masing. Bahkan kalau kapten kapal meninggal, ada mekanisme untuk peralihan kepemimpinan. Apalagi kalau yg tercebur ke laut hanya sekelas juru pegang tali layar. Pasti ada mekanismenya. Pasti ada caranya.

Pertama, masing-masing kru kapal harus disadarkan dengan role atawa perannya. Title-nya. Dia ini juru kemudi kah, tukang baca peta kah, mualim kah? Ruang lingkup pekerjaannya apa saja? Kedua, dijelaskan tentang posisinya di dalam hirarki kekuasaan. Dia ini bertanggung jawab kepada siapa. Powernya sekuat apa. Punya bawahan atau tidak? Dalam skema organisasi perusahaan, mungkin jauh lebih kompleks daripada hirarki kapal bajak laut yang kecenderungannya otoriter. Kapten kapal berada di atas semuanya.

Sedangkan di perusahaan, seorang CEO bisa dicopot oleh board. Dalam konteks negara, seorang presiden bisa saja terguling oleh legislatif (seperti yang pernah terjadi di era Abdurahman Wahid). Begitu pula seorang Kapten kapal bisa saja dikhianati dan ditusuk dari belakang.




I work as a web programmer. I like to read and write. If you have any question, feel free to submit a comment, or email me : prabowo.murti at gmail dot com. Have a nice day.

Silakan berkomentar, insya Allah akan kami jawab. Terima kasih