Tampilkan postingan dengan label strategy for business. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label strategy for business. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Bisnis Warnet (Bagian 2)

Baca tulisan sebelumnya : Pengalaman Bisnis Warnet (Bagian 1). Persiapan awal seperti lokasi, modal, dan (yang terpenting) nyali sudah tersedia, maka selanjutnya tinggal menjalankannya saja.

warnet

Penyedia jasa internet apa yang cocok untuk warnet?

Di kampung kami, tidak ada pilihan lain selain menggunakan Telkom Speedy. Untungnya, untuk pemakaian 3 bulan pertama, masih ada diskon dan modem diberi gratis. Kami memakai paket Office dengan kecepatan 1Mbps yang dibagi ke 6 PC saja. Jadi paket ini lebih dari cukup. Jika jumlah PC lebih dari itu, gunakan paket yang lebih mumpuni.

Billing software yang digunakan di Warnet

Kami dulu menggunakan gBilling yang dibuat oleh Ardhan Madras (kunjungi websitenya di gbilling.sourceforge.net). Billing software ini bersifat free dan open source. Kami memberikan donasi, dan sebagai gantinya, nama kami ada di dalam daftar donatur. Sayangnya, sejak 2011 belum ada versi gBilling yang lebih baru. Billing software ini relatif mudah digunakan, dan yang terpenting adalah dapat dipasang di sistem operasi Windows dan Linux.

Berapa tarif yang ideal untuk warnet?

Tarif atau harga sewa per jam untuk sebuah warnet memang tergantung dari banyak hal. Yang terpenting, kita harus mendapatkan profit. Cara paling mudah adalah, lihat saja warnet sebelah pasang berapa per jam, lalu ikuti saja. Cara lain, kita hitung semua pengeluaran per bulan, seperti listrik, internet, gaji karyawan, dan sewa tempat (bila ada). Katakan sehari buka dari jam 7 pagi hingga 9 malam, berarti 14 jam, dikali jumlah PC dikali 50% (angka ini bisa lebih tinggi bila kita optimis warnet bakal rame sepanjang waktu, tapi untuk jaga-jaga, gunakan 50-60 persen saja). Dari angka ini, kita bisa simpulkan berapa harga yang pantas untuk meraih profit.

Desain warnet ideal seperti apa?

Kami sering melihat warnet (di banyak tempat) menggunakan model bilik-bilik yang semi tertutup. Semua monitor menghadap ke arah dinding, jadi nggak kelihatan orang yang di dalem lagi browsing apa. Belum lagi kalau ada pasangan muda-mudi yang dateng. Ini warnet apa tempat paling kondusif untuk bermesum ria?? Didasari kekhawatiran seperti itulah, desain warnet kami tidak menggunakan bilik, tapi meja yang terbuka. Meja berukuran tinggi 70 cm, lebar 80 cm, dan panjang ke belakang sekitar 60 cm. Monitor menggunakan LCD ukuran 17 inch, dan case PC diletakkan di rak di atas monitor. Semuanya terbuka. Simple approach. Nggak perlu software khusus semacam remote desktop untuk mengetahui kegiatan client.

Apa yang paling banyak dibutuhkan konsumen warnet?

Dulu orang ke warnet nggak jauh-jauh dari browsing-browsing di Facebook, ngerjain tugas, main game. Cuma itu saja. Jadi sebetulnya operator warnet tak mesti yang jago-jago amat. Jangan lupa, kita sebagai pemilik bisnis juga punya tanggung jawab moral dan memiliki beban psikologis kalau konsumen kita masih anak sekolah. Kalau masih pakai baju seragam, disuruh pulang dulu. Kalau main kelamaan, disuruh pulang juga. Ajari juga mereka hal-hal yang berguna seperti menggunakan email, mesin pencari, dan situs-situs pendidikan untuk belajar.

Cross-selling di warnet?

Cross-selling di warnet bisa dilakukan dengan menjual layanan lain seperti jasa ketik, cetak dokumen, edit dan cetak foto, menjual makanan dan minuman, dan lain-lain. Namun yang terpenting, jika warnet sedang sepi (benar-benar nggak ada pengunjung), yang paling sering kami lakukan adalah fokus pada bisnis yang lain, karena dulu kami juga jualan toples, panci, karpet, sembako, sampe mobil second. Kalau memang ada waktu lebih, gunakan untuk istirahat.

Apa untungnya punya bisnis warnet?

Jika mau jujur, untung secara nominal dari bisnis warnet sebetulnya tidak terlalu besar. Yang benar-benar kami syukuri adalah hal-hal lain yang tidak terukur. Contoh saja, kesempatan untuk lebih banyak waktu luang bersama keluarga (karena toh buka warung di samping rumah), lebih ada waktu untuk sholat berjamaah di masjid, dan yang terpenting, berlatih terjun menjadi pebisnis sebenarnya : benar-benar punya usaha/lapak, benar-benar memberikan senyum terbaik dan keramahan pada pelanggan yang loyal. Itu adalah pengalaman yang sukar dinilai dengan uang.

Masalah yang sering dijumpai di bisnis warnet?

Hm.. Banyak. Paling umum, pelanggan benar-benar awam dengan komputer. Masalah kedua yang tak kalah krusial : listrik. Karena kami di kampung, ketersediaan listrik tidak begitu meyakinkan. Terkadang jika terjadi pemadaman, kami harus menunggu hingga 5-6 jam. Suka-suka PLN. Mau bagaimana lagi. Nasib. Kalau Malaysia jual listrik, mungkin beli dari Malaysia saja. Jika di warnet lain, mungkin masalah terletak pada kepiawaian operator warnet melayani pelanggan. Kalau nggak jago cari orang, siap-siap saja kena sumpah serapah.

Bagaimana prospek warnet jangka panjang?


Prospek warnet sebetulnya masih menjanjikan, walaupun internet sudah merambah hingga ke rumah-rumah, atau orang kini lebih menyukai browsing via smartphone. Di kampung, yang infrastrukturnya masih terbatas, harga sewa per jam untuk warnet bisa mencapai 20ribu rupiah, karena akses internet sukar sekali. Untuk saat ini, ketika memilih untuk terjun dalam bisnis warnet, orang akan punya lebih banyak pertimbangan daripada dulu ketika warnet masih jarang. Pada akhirnya, kami pun berhenti, bukan karena warnet sepi pengunjung (dulu malah sedang rame-ramenya terus tiba-tiba tutup), tapi karena kecapekan. Inginnya hanya fokus di bisnis-bisnis tertentu saja, dan warnet harus jadi yang ditinggalkan. Mohon maaf ya para pelanggan.

Kesan dan Pesan

  1. Bisnis warnet masih menjanjikan. Nyali lebih penting daripada modal.

  2. Hitung semua cost terlebih dahulu sebelum memulai. Gunakan angka paling pesimis. Jika masuk hitungan, bismillah, berangkat cap cus cin.

  3. Kejar pengalaman bisnis, pembelajaran hidup, relasi sosial. Jangan mengejar uang. Semua pengusaha warnet yang saya kenal, toh hidupnya nggak tajir-tajir banget. Punya bisnis warnet nggak bakal bikin kaya.

  4. Sedekah semampunya.

  5. Lakukan yang menurut Anda benar, jangan yang kebanyakan orang lakukan.

  6. Nikmati hidup. Syukuri kerugian hari ini sebagaimana kita mensyukuri untung kemarin.

  7. Udah gitu doang.

Pengalaman Bisnis Warnet (Bagian 1)

Berikut adalah pengalaman saya menjalankan bisnis warnet kecil-kecilan di depan rumah orang tua. Karena usaha warnet kini sudah banyak tergantikan dengan akses langganan internet yang masuk ke rumah-rumah, kemungkinan besar beberapa tips sudah tidak relevan lagi. Di kampung, bisnis warnet sebetulnya masih dibilang menjanjikan karena infrastruktur yang tak sebagus di kota besar.

bisnis warnet

Sebelum menjalankan bisnis warnet, sebaiknya kita memiliki keberanian untuk mencoba dan tak gentar akan kegagalan. Ini penting, karena sebenarnya bisnis warnet tak sesulit yang kita bayangkan. Sesuai apa yang Ibu saya bilang, "Kalau cuma bikin warnet, lulusan SMA pun bisa!" Saya pun sempat terinspirasi salah seorang di kampung yang dulu pernah buka usaha warnet, dan dinamakan Warnet Istiqomah. Koneksinya cuma pakai modem 56K dari TelkomNet Instan yang sejamnya 9000 perak. Istiqomah bener itu warnet pokoknya.

Nyali sudah kumpul, doa restu orang tua sudah, apa lagi yang dibutuhkan untuk memulai usaha warnet?

Modal

Ya. Memang tak semua modal berbentuk uang, tapi kalau untuk usaha warnet, duit memang penting juga. Tapi jangan khawatir, untuk di awal buka usaha dulu, komputer kami cuma ada 3. Apaan tuh warnet kok komputernya cuma 3?! Ya tapi itu kenyataan yang harus dihadapi. Pelan-pelan saja, sembari mencari pelanggan, sisihkan uang untuk menambah jumlah komputer. Total modal yang harus disiapkan kira-kira 50 juta rupiah saja. Uang ini dipakai untuk membeli PC, perangkat jaringan, renovasi tempat, dan izin usaha dari pemerintah setempat (berbeda-beda untuk masing-masing daerah, tapi biasanya kalau usaha kecil nggak akan dipersulit). Rincian detailnya untuk belanja warnet misalnya :

PC dengan spesifikasi standar @ Rp 3.000.000 dikali 5 unit = Rp 15.000.000
Peralatan jaringan berupa kabel LAN, RJ-45, router, Rp 1.000.000 (jangan yang mahal-mahal, modem bakal dikasih gratis dari internet provider)
Meja kursi untuk pelanggan dan operator Rp 4.000.000
Software (bila perlu) @ Rp 1.500.000 x 5 = Rp 7.500.000
Pasang internet di awal periode Rp 800.000
Pasang listrik Rp 2.000.000

Sepertinya untuk start awal, modal di atas tak sampai Rp 50juta. Karena saya ambil tempat di samping garasi, jadi biaya untuk tempat kita anggap saja pakai sisanya. Perjalanan kita masih panjang. Sisihkan dulu sisanya.

Pengetahuan Dasar Komputer yang Diperlukan

Pengetahuan dasar tentang komputer mutlak diperlukan, minimal ada teknisi jaringan dan ngerti hardware dikit. Yang saya amati, warnet-warnet yang sukses dan ramai adalah warnet yang operatornya bisa diandalkan. Artinya bukan hanya sekadar terima uang sewa, tetapi juga memuaskan pelayanannya.

Contoh beberapa skill operator warnet yang wajib dimiliki :
  1. Mengoperasikan komputer.
  2. Bikin email. Termasuk bikinin account Facebook.
  3. Edit foto (buat yang narsis)
  4. Cetak gambar atau dokumen dengan printer.
  5. Troubleshooting, alias bisa jawab pertanyaan orang awam seperti "Kok error nih Bang?"
  6. Jujur, gemar senyum dan memberi keramahan.

Memilih Lokasi Warnet

Gampang-gampang susah, karena kebutuhan ini bukan seperti minuman dingin yang orang kalau butuh di tengah jalan bisa mampir di warung. Yang saya lihat, lokasi warnet nggak harus di tepi jalan. Lokasi warnet bisa dibilang bagus bila dekat dengan sumber-sumber keramaian seperti tempat kursus, sekolah, kampus / universitas, kantor pemerintahan, komplek yang ramai. Lokasi kami pun masuk ke dalam gang, tidak ada papan nama, dan nggak wow-wow banget. Slogan warnet kami adalah "Warnet Muhajirin Dotnet, laboratorium samping garasi". Sekali orang tahu warnet Anda bagus, orang nggak peduli lokasinya lagi. Pasti disamperin, tenang saja.

Kalau semua sudah, berarti tinggal buka lapak. Nantikan tulisan tentang usaha warnet kami di bagian selanjutnya.

Tulisan ini berlanjut ke Pengalaman Bisnis Warnet Bagian 2

Strategy for Business : Simple Approach

When people start thinking about running a great company, most of time they just overthink. They start comparing their plan with the existing ones such as Microsoft, Google, Oracle, or others. The more they think about the giants, the more difficult they take a little baby step. They think they need more money to build their business. They think that the tension of competition is high. They think they will not have enough luck in the long run. They think they will end up as a loser, just like the others.

light bulb

Don't overthink. Don't make it perfect.

The problem of thinking too much is that you will make your vision more vague. Your business is not started yet, but you already made some delusive possibilities. You block your own way to the freedom, to be successful.

When people see you start a very new and rare kind of business, they will say "Gosh, I guarantee you will fail. Nobody wants to buy a bloody pink hat in graduation ceremony". But if you try to mimic the Coca Cola, of Kentucky Fried Chicken, you will hear another sound saying "You're not going to make it. People are loyal to some popular brands". The solution of this case is simple : be dull of hearing. Do what you need to do.

Start it. And start it now.

My coworker has a story. His brother told him that he wanted to start a very successful business, as brilliant as an idea of selling the roasted peanuts (in Indonesia, there is an idiom for a product that gets a very high demand = "laris manis seperti kacang goreng" = in high demand just like roasted peanuts). "So, what do you sell?" my co-worker asked. "Damn sure, roasted peanuts!!" Don't think such a complicated solution. There should be a quick fix to get the problem solved.

Another clownish story, still by the same person. He made an online store with "acrylic" as the part key of the domain name. Unfortunately, we stumbled on another domain contains "akrilik" (note the letter "i"), the more familiar word in Indonesia. We, as people who sit more than 10-hours sucking screen and write software codes, then "whois" that domain so we can grasp the owner's name. From the whois information, we were riffing through another dull outmoded archaic online shops he owned.

Then, we came to a conclusion that the person is not so tech savvy. But heck, the online shops are running. He sells! Look, we spent most of our entire lives learning HTML / CSS / JavaScript / PHP, you named it.. Yet we still have one and only online shop powered by the most convincing e-commerce framework, but with big header says "UNDER CONSTRUCTION"?

The moral of the story is that you should start with the "Simple Approach".

What is "Simple Approach" and how come this can be a powerful strategy for our business?

The "Simple Approach" just some phrase that stumbled and crossed my mind, but you probably found it easily elsewhere. The approach believes that every single problem should be solved using the very least and minimum effort. 
Every single problem should be solved using the very least and minimum effort
In practice, we just don't give much sweat to a business challenge, and we should act like we know nothing. We should be dumb and oafish. We should forget that we hold some titles from BSc, MBA, PhD, whatever. We should forget what the text-book said. We should ask ourselves these kind of simple questions :

"How do I fix this broken roof, if I'm not getting a bachelor degree of engineering from Oxford University?"
"He doesn't even go to school. How come he could own more than 100 companies?"
"I spent 4 years studying and reading billions of reference of car machines. A trashman comes with a hammer, knock some part of my hood, and fvck... It's just fixed"

Wanna sell your cookies? Start bake it. Don't worry if it tastes like a shit. Sell it anyway.