Skip to main content

Menyikapi Suap Dalam Dunia Bisnis

Sebagai seorang mantan (atau calon, karena sebentar lagi saya akan berhenti dari status pegawai) pengusaha, saya ingin berbagi sedikit cerita tatkala saya memulai bisnis kira-kira 3 tahun yang lalu. Cerita tentang ketidakberesan sebuah sistem birokrasi negeri ini, yang semoga dapat dengan cepat segera kita selesaikan bersama-sama.

suap

Ceritanya untuk mendapatkan akses internet, hanya ada satu penyedia jasa internet di kampung saya. ISP (Internet Service Provider) tersebut adalah bagian dari sebuah perusahaan plat merah. Perusahaan lainnya tidak ada yang berani bersanding, mungkin karena kondisi pasar yang kurang menguntungkan (maklum kondisi geografis adalah kendala besar). Saya mulai untuk bernegosiasi dengan "kepala naga", yaitu orang yang menjadi manager di region saya.

Negosiasi sungguh alot, sejak saya mulai menapaki jalur "konvensional", alias via telpon, datang ke customer service, mengisi formulir, dlsb. Pada akhirnya, setelah kurang lebih menunggu selama 3 bulan (bayangkan 3 bulan hanya untuk mengurusi internet), saya masih ingat pembicaraan saya dengan manager tersebut, kira-kira seperti berikut.

"Pak Prabowo, saya paham kondisi Bapak, tapi saya tidak bisa melakukan apa-apa. Silakan Pak Prabowo kontak nomor ini (-sambil menulis kombinasi nomor handphone CDMA di secarik kertas), dengan Pak X. Beliau bisa bantu Bapak, tapi Bapak harus mengerti ya Pak..."

Sejenak saya berpikir. Kalau diingat-ingat, itu adalah pengalaman pertama saya melakukan praktek yang agak "kotor" dalam dunia usaha. Dengan kata lain, Pak Manager menyuruh saya memberikan sedikit uang lelah pada Pak X untuk mengurusi jaringan internet ke rumah. Setelah saya hubungi, Pak X datang ke rumah, sedikit melakukan setting sana-sini, dan singkat cerita, saya masih ingat, pada akhirnya saya berikan 300 ribu rupiah di dalam amplop untuk Pak X. Semua itu tak sampai 3 hari.

Ada adegan lucu ketika itu. "Nanti setelah prosesnya selesai, Bapak silakan datang lagi ke kantor kami untuk mengurusi dokumen ini dan itu (saya sungguh tidak paham kala itu, tapi saya mengiyakan saja), " Pak X menjelaskan. Mungkin karena Pak X tidak mengetahui jumlah yang saya masukkan dalam amplop (sebelumnya dia *hanya* minta 150 ribu rupiah, dan saya memberikan 2 kali lipatnya), dia agak ketus. Tapi tak lama setelah dia pulang (dan mungkin melihat isi amplop), telpon saya berbunyi.

"Pak Prabowo, besok bapak tidak usah datang ke kantor kami, biar saya uruskan semuanya, mulai dari dokumen ini dan itu, dan anu juga.." Pak X berbicara, yang saya duga sambil tersenyum sumringah. :D
***

Suap dalam dunia bisnis memang sudah seperti borok yang terlanjur besar dan jadi tumor ganas. Menurut pengetahuan saya yang dangkal, praktek suap atau apapun sebutan lainnya (uang pelicin, timbal balik, duit rokok, sogok, dll) dalam dunia bisnis sudah tidak bisa kita hindari. Dalam Islam pun hukum suap menyuap ini sudah jelas keharamannya (semoga Allah Mengampuni saya). Namun ada hal yang menyebabkan suap menjadi halal (diperbolehkan), seperti karena terpaksa, misalnya seseorang tidak akan mendapatkan haknya bila tidak ada uang tambahan dari yang sudah ditetapkan. Semoga contoh kisah saya termasuk ke dalam suap yang halal. Wallahu a'lam.

Apakah Anda punya kisah serupa?

Comments

Tulisan Terpopuler

Cara Menggadaikan Barang di Pegadaian

Sebetulnya cara menggadaikan barang di pegadaian boleh dibilang lebih mudah daripada yang selama ini kita duga. Berikut saya ceritakan pengalaman saya menggadaikan emas (barang yang paling umum digadaikan di pegadaian) di Pegadaian Negeri Slipi Petamburan, Jakarta.
Mengapa memilih Pegadaian? Pegadaian adalah salah satu BUMN yang pernah mau masuk ke bursa saham. Pegadaian memang memiliki aset yang banyak, sehingga dulu Dahlan Iskan berencana membuat PT Pegadaian IPO. Ada banyak sekali barang "sekolahan" yang nggak ditebus sama pemiliknya. Karena nilai pinjaman selalu lebih rendah (atau minimal sama dengan) nilai taksiran barang, otomatis pegadaian jarang merugi.

Menurut saya, setidaknya ada 2 alasan utama mengapa orang lebih senang ke Pegadaian. Pertama, bunga yang ditawarkan Pegadaian lebih rendah daripada rentenir. Pegadaian juga lebih terpercaya karena merupakan perusahaan plat merah. Kedua, prosesnya relatif cepat untuk sekadar mengejar likuiditas. Hampir apa saja bisa di…

Pengalaman Membuat Kartu Kredit

Kalau ada pertanyaan, apa sih yang membuat aplikasi kartu kredit kita diterima atau ditolak oleh bank? Jawaban sebenarnya adalah, tidak ada yang tahu pasti. Katanya harus bekerja minimal setahun, katanya lagi minimal penghasilan harus sekian juta sebulan, katanya lagi mesti ada saldo terendap sekian rupiah di tabungan. Semua serba katanya dan katanya. Bahkan pegawai bank sendiri tidak bisa memberi Anda alasan bila aplikasi kartu kredit Anda ternyata REJECTED.
Namun yang saya tahu, memang ada beberapa hal yang "memperkuat" kemungkinan aplikasi Anda diterima oleh Bank. Beberapa alasan tersebut adalah Bukan tipikal nasabah yang bermasalah Tahukah Anda bahwa sebetulnya data kita di Bank Indonesia memiliki rapor tersendiri. Katakan kita sudah terlanjur mencicil apartemen, dan tercatat beberapa kali menunggak atau telat bayar. Di mata Bank Indonesia, nilai kita sudah minus. Rapor tersebut dikenal dengan sebutan BI Checking, dan laporan ini bisa diakses oleh semua bank dan lembaga…

Mengapa Anda Sebaiknya Tidak Beli Asuransi

Asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi investasi, dan berbagai macam model asuransi lainnya, semakin berkembang sejak tahun 1998 di negeri ini. Mengapa? Karena sejak peristiwa kerusuhan Mei, orang mulai sedikit cemas. Bagaimana mengamankan aset yang sudah diraih, atau memastikan apa yang akan dicapai dalam waktu sekian tahun mendatang? Pendidikan anak saya siapa yang jamin? Kalau mobil saya kenapa-kenapa, duit siapa buat bayar bengkel? Kalau saya satu-satunya tulang punggung keluarga dan mati kena serangan jantung/stroke, siapa yang ngasih makan istri dan anak?



Semua pertanyaan-pertanyaan yang solusinya tidak pasti, seolah-olah bisa dijawab dengan asuransi. Bukannya saya nggak seneng sama asuransi, tapi kalau pertanyaannya adalah "Apakah kita membutuhkan asuransi?" mungkin jawaban sebenarnya adalah "belum tentu". Contoh saja, kalau umur Anda 25 tahun, masih segar bugar, tidak punya tanggungan siapa-siapa (hidup sendiri alias masih single), agak mengherankan ap…

Syarat KPR BTN Syariah (Seri 1)

Syarat KPR BTN Syariah mirip dengan pengajuan KPR di Bank Syariah lainnya. Prosesnya pun relatif panjang, mulai dari kelengkapan berkas, proses wawancara hingga survey lokasi rumah. Mari kita bahas satu per satu.
Tentang KPR BTN Platinum iB Produk KPR di BTN Syariah pembiayaannya ada berbagai macam. Salah satunya adalah KPR BTN Platinum iB. KPR BTN Platinum iB adalah produk pembiayaan dalam rangka pembelian rumah, ruko, rukan, rusun, atau apartemen bagi nasabah perorangan dengan akad murabahah atau jual beli. Banyak sekali bank yang tidak lagi menalangi pembiayaan, dalam artian rumahnya belum berdiri tapi bank sudah bayar dulu ke developer. Ingat bahwa Bank bukan lembaga sosial dan harus ada untung. Jangan sampai bermunculan developer yang modal dengkul saja, membangun rumah dari uang nasabah dan uang bank.


Keuntungan KPR BTN iB Seperti bank syariah lain, cicilan dari pengembalian pinjaman akan terus tetap nilainya hingga akhir jangka waktu pembiayaan. Kalau sebulan sudah dipatok 1 ju…

Apa Itu Opportunity Cost?

Secara sederhana, opportunity cost atau biaya peluang adalah biaya yang timbul karena memilih sebuah kegiatan bisnis tertentu dibanding kegiatan bisnis yang lain. Katakanlah Anda memiliki modal bisnis tambahan sebesar Rp 100juta. Dengan uang Rp 100juta tersebut, Anda memilih untuk menambah jumlah mesin, daripada menyewa ruko baru untuk ekspansi regional.

Kegiatan bisnis A : menambah jumlah mesin, menghabiskan dana yang sama dengan kegiatan bisnis B (menyewa ruko baru). Padahal, bila dihitung dan dilakukan riset sedikit, Anda bisa mengetahui bahwa menambah jumlah mesin baru tidak menghasilkan keuntungan yang sebanding bila Anda memilih untuk menyewa ruko baru untuk penetrasi pasar. Keputusan Anda untuk memilih kegiatan bisnis A, berakibat adanya opportunity cost (biaya peluang) Anda tidak bisa menghasilkan keuntungan sebesar ketika Anda memilih kegiatan bisnis B.
Opportunity cost bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat Anda menunggu bis. Ada yang menghabiskan waktu de…