Mengapa Anda Sebaiknya Tidak Beli Asuransi

Asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi investasi, dan berbagai macam model asuransi lainnya, semakin berkembang sejak tahun 1998 di negeri ini. Mengapa? Karena sejak peristiwa kerusuhan Mei, orang mulai sedikit cemas. Bagaimana mengamankan aset yang sudah diraih, atau memastikan apa yang akan dicapai dalam waktu sekian tahun mendatang? Pendidikan anak saya siapa yang jamin? Kalau mobil saya kenapa-kenapa, duit siapa buat bayar bengkel? Kalau saya satu-satunya tulang punggung keluarga dan mati kena serangan jantung/stroke, siapa yang ngasih makan istri dan anak?

ilustrasi perhitungan asuransi


Semua pertanyaan-pertanyaan yang solusinya tidak pasti, seolah-olah bisa dijawab dengan asuransi. Bukannya saya nggak seneng sama asuransi, tapi kalau pertanyaannya adalah "Apakah kita membutuhkan asuransi?" mungkin jawaban sebenarnya adalah "belum tentu". Contoh saja, kalau umur Anda 25 tahun, masih segar bugar, tidak punya tanggungan siapa-siapa (hidup sendiri alias masih single), agak mengherankan apabila Anda ikut asuransi jiwa. Ini sama saja mengatakan, Anda cenderung buang-buang uang, untuk sesuatu yang kemungkinannya kecil sekali, plus dampak finansialnya juga kecil.

Alasan sederhana paling umum ketika orang membeli produk asuransi bisa dipersingkat menjadi "saya nggak mau jatoh miskin, saat (pilih salah satu) : mobil saya nabrak, anak saya mau sekolah, rumah saya kebakar, atau saya sakit parah/operasi". Dengan kata lain, asuransi hanya berfungsi sebagai pengurang dampak finansial dari resiko. Jadi, salah kaprah kalau penghasilan Anda 100 juta sebulan, tapi ikut asuransi kesehatan yang uang pertanggungannya cuma sejuta perak. Ngapain? Anda udah terlalu tajir untuk ikut asuransi ecek-ecek!

Pesan 1 : kalau udah kelewat tajir, nggak usah beli asuransi

Tapi kan, saya ikut asuransi investasi, nanti duitnya setelah 5-10 tahun, bakal jadi semilyar?

Begini, sebagai sebuah bidang usaha yang mengelola dana nasabah (dalam hal ini nasabah asuransi), tentu agen asuransi akan mengiming-imingi keuntungan yang nilainya "kudu dibilang wow gituh". Padahal, ada cost perusahaan, ada profit yang harus dibukukan, ada karyawan/agen asuransi yang harus digaji. Artinya, sebenernya dana yang Anda pakai untuk beli produk insurance, kalau tidak dipotong biaya-biaya tadi, akan menghasilkan profit yang jauh lebih besar bila diinvestasikan langsung ke produk investasi, bukan via asuransi investasi atau unit link (campuran).

Pesan 2 : beli asuransi investasi lebih merugikan dibanding invest langsung di produk investasi murni

Tapi kan, ini sama aja kayak nabung?

Tidak. Anda ikut asuransi investasi nggak sama kayak nabung. Kalau kita nabung Pak/Bu, duitnya bisa kita ambil kapan aja. Duit kita likuid, alias gampang cair. Nunggu selama 10 tahun makan waktu. Iya kalau perusahaan asuransinya nggak bangkrut, iya kalau di tengah jalan kita nggak butuh duit. Kalau kita ambil di misalnya 5 tahun pertama, tentu kita kena biaya tambahan.

Pesan 3 : kalau ada hajat yang masih lama (5-20 tahun), mending nyicil beli emas, saham, atau tanah saja, terkait likuiditas dan potensi profit

Sesuai judul, saya tidak menyarankan Anda "beli" produk insurance. Tapi kalau sudah disediakan kantor/perusahaan tempat kita kerja, ambil aja! :D

CATATAN PINGGIR

Mengingat cukup banyak komentar di tulisan ini yang berasal dari agen asuransi, saya rasa akan sangat-sangat fair bila agen tersebut langsung saja menyebutkan berasal dari perusahaan asuransi mana, produknya apa saja, premi berapa, dan bila perlu kontak ke yang bersangkutan bila ada pembaca blog ini yang tertarik bergabung menjadi nasabah. Tidak perlu malu dan sungkan, karena saya tidak akan memoderasi komentar yang berbau promosi kecuali sudah tidak sopan (dengan menyerang secara langsung produk/perusahaan asuransi lain, menggunakan bahasa yang kasar, dll). Cukup adil, bukan?

A web programmer living in Indonesia. More

602 komentar

«Terlama   ‹Lebih tua   601 – 602 dari 602   Lebih baru›   Terbaru»

Terima kasih atas komentarnya Bapak/Ibu.

Teman2,
Riba tidak ada dalam asuransi Syariah karena Akadnya saling menolong dan melindungi.jadi tidak merugikan pihak manapun.
Klu ada klaim itu diambil dari dana tabarru' ( dana sosial).
Setiap bulan peserta membayar kontribusi yang didalamnya sdh ada dana sosialnya.

Asuransi syariah adalah perkara muamalah yang mana selagi tidak ada dalil melarang , itu diperbolehkan. Beda dg perkara ibadah. Spt semua orang tidak ada berselisih shalat subuh 2 rakaat, dsb.

Gharar adalah ketidakjelasan. Diasuransi syariah, yg gharar adalah dari segi waktu...kapan akan meninggal. Tapi semua pasti meninggal.

Tidak ada unsur maysir (untung2an/perjudian) di asuransi syariah. Karena kalau tidak untung pasti rugi salah satu pihak itu tidak ada. Karena prinsipnya untung bersama dan rugi bersama. Ada surplus underwriting untuk nasabah.

Yg jelas ini produk perlindungan....
Bersama dipikul. Karena Allah menciptakan berpasangan, senang susah, siang malam, tua muda bumi langit dll. Suatu saat pasti mengalami cobaan.

Dan ini bukan produk investasi karena investasi hanya bonus , ya walau kadang2 bonusnya sangat besar, bisa juga kecil.

Dan di tempat kami UP nya bisa diwakafkan 1/3nya sesuai fatwa MUI, sebagai amal jariah yg akan tetap mengalir yg akan membantu kita setelah berpulang nantinya. Beda dg sedekah biasa atau zakat( memang wajib).
Dana wakaf ini lah dikelola mitra asuransi syariah/ nazhir yg ikut membangun fasilitas sosial seperti hospital (rumah sehat terpadu di Parung Bogor, pesantren,dll).

Yg jelas klu kita kaya kita berkesempatan membantu orang lain ikhlas setiap waktu dari akad tadi. Klu kita yg tertimpa keluarga tidak khawatir dari segi financial.
Manusia yg beruntung adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Husniati mukhtar

«Terlama   ‹Lebih tua   601 – 602 dari 602   Lebih baru›   Terbaru»

Silakan berkomentar, insya Allah akan kami jawab. Terima kasih