Skip to main content

Pengalaman Sekolah Pasar Modal IDX (Bagian 3)

Tulisan ini merupakan lanjutan dari seri tulisan sebelumnya, Pengalaman Sekolah Pasar Modal IDX (Bagian 1) dan Bagian 2. Tentu saja seri tulisan ini hanya sekelumit dari pengalaman saya belajar, mohon koreksi pada kolom komentar supaya kita bisa saling berbagi ilmu.

Pada tulisan lalu kita sudah belajar beberapa hal dan karakteristik penting di dunia pasar modal. Kalau sekadar untuk menjadi investor pemula, penulis pikir sekolah pasar modal dari Bursa Efek Indonesia sudah lebih dari cukup dalam memberikan bekal. Dalam tulisan kali ini kita akan belajar sedikit tentang analisis fundamental, teknikal, dan terakhir terjun langsung dalam transaksi online alias mencoba menjual atau membeli saham tertentu di pasar reguler.

buku sekolah pasar modal

Analisis Fundamental

Dalam membeli saham, terdapat 2 pendekatan utama untuk mengetahui apakah sebuah saham pantas untuk diperdagangkan. Analisa itu adalah analisa fundamental dan teknikal. Analisa fundamental adalah suatu analisa yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan dengan tujuan untuk mengetahui sifat-sifat dasar dan karakteristik operasional dari perusahaan publik.

Beberapa ukuran aktivitas ekonomi yang dijadikan dasar untuk analisa fundamental antara lain PDB (Produk Domestik Bruto, atau GDP), inflasi, tingkat suku bunga, dan fluktuasi nilai tukar mata uang (lazimnya USD). Analisa industri mempelajari keadaan kompetitif dari suatu sektor industri dalam hubungannya dengan yang lain serta mengidentifikasi perusahaan yang mempunyai potensi pada suatu sektor industri tertentu. Indikatornya misalnya penjualan, laba, dividen, struktur modal, regulasi dan inovasi.

Selain itu analisa kualitatif turut mempengaruhi analisa fundamental, yaitu menilai prospek industri di masa yang akan datang seperti kinerja, historis, kebijakan pemerintah, dan perubahan struktural. Lahirlah "ekspektasi", yakni prospek industri apa yang kemungkinan besar membuat peningkatan laba.

Analisa keuangan perusahaan biasanya dilakukan dengan menggunakan analisa rasio :

Rasio Likuiditas

Kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek. Ditunjukan oleh perbandingan antara aset dan liabilitas (kewajiban/hutang jangka pendek) yang besar.

Rasio Aktivitas

Kemampuan serta efisiensi perusahaan di dalam memanfaatkan aset yang dimilikinya. Ditunjukkan oleh perbandingan net sales (penjualan) dan total aset rata-rata. Disebut juga total assets turnover.

Rasio Rentabilitas

Menunjukkan seberapa besar tingkat keberhasilan perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan. Net profit margin = EAT (earnings after taxes) / net sales.

Rasio Solvabilitas

Kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau hutang jangka panjangnya , biasa disebut rasio leverage. Debt Ratio = total debts / total assets

Rasio Pasar atau market ratios

Menunjukkan informasi pentin dari perusahaan yang ditunjukkan dalam bentuk kinerja saham.

PBV = price per book value = price / book value per share.
PER = price / earning per share
EPS = earning per share = laba bersih / jumlah saham beredar

Analisa Teknikal

Selain analisa fundamental, pendekatan lain untuk bertransaksi di pasar modal adalah analisa teknikal. Karena "aliran" blog ini lebih pada analisa fundamental perusahaan, maka kita bahas sedikit saja soal analisa teknikal ini (selain karena penulis juga tidak terlalu tertarik dengan istilah "trading saham"). Analisa teknikal adalah pendekatan yang digunakan berdasarkan pergerakan harga saham (historical price), pola tertentu, dan trading system.

Analisa teknikal tidak peduli dengan fundamental (keadaan keuangan dari sebuah perusahaan) karena analisa teknikal mempercayai bahwa harga akan bergerak dalam trend tertentu hingga terjadi perubahan permintaan dan penawaran. Jika analisa fundamental lebih pada investasi jangka panjang, analisa teknikal bisa berdasarkan hitungan menit bahkan detik, ditunjukkan oleh pembacaan chart atau grafik.

Dalam analisa teknikal dikenal berbagai istilah, misalnya

Support Level

Batasan suatu harga saham akan dibeli. Ini biasanya dilakukan dengan menarik garis horizontal pada titik harga saham terendah.

Resistance Level

Kebalikan dari support level, ini menunjukkan batasan sebuah harga jual atau ketika harga saham sedang tinggi.

Moving Average 21

Merupakan teknik pembacaan grafik dengan menggunakan harga rata-rata dari saham per hari, selama 21 hari terakhir. Karena penulis tak terlalu memperhatikan pada saat dijelaskan, ya udahlah ya cari referensi dari website lain saja. :D

Berikutnya kita akan belajar menggunakan aplikasi Direct Trading dari Bahana Securities, broker tempat penulis menjadi nasabah.

Lanjutkan membaca Sekolah Pasar Modal Bagian 4

Comments

  1. Ada.gak.buku.panduan tentang.jualbeli.saham.online..kalo.ada.saya.minta.copiannya.donk..ntar.hbis.berapa.q.ganti..mohon.bantuan.nya.trimakasih..

    ReplyDelete
  2. Halo Bung Faba,

    Sayang sekali buku tersebut sudah lama saya berikan kepada orang lain. Menurut saya, isinya sudah saya tuliskan pada artikel bersambung di blog ini. Bung bisa search "Sekolah Pasar Modal" pada kategori saham. Cara lain, Bung bisa kontak Sekolah Pasar Modal langsung di sekolahpasarmodal@idx.co.id

    ReplyDelete
  3. […] Lanjutkan ke Pengalaman Sekolah Pasar Modal Bagian 3 […]

    ReplyDelete
  4. terima kasih atas pencerahanny.. Saya yang tdi ny maw pergi ke sekolah BEI,karena ketemu nih website g jdi pergi. Mending belajar dari sini ketimbang ke sana langsung. Thx u bro

    ReplyDelete
  5. Terima kasih kembali, Bung Jhon. Salam kenal.

    ReplyDelete

Post a Comment

Tulisan Terpopuler

Cara Menggadaikan Barang di Pegadaian

Sebetulnya cara menggadaikan barang di pegadaian boleh dibilang lebih mudah daripada yang selama ini kita duga. Berikut saya ceritakan pengalaman saya menggadaikan emas (barang yang paling umum digadaikan di pegadaian) di Pegadaian Negeri Slipi Petamburan, Jakarta.
Mengapa memilih Pegadaian? Pegadaian adalah salah satu BUMN yang pernah mau masuk ke bursa saham. Pegadaian memang memiliki aset yang banyak, sehingga dulu Dahlan Iskan berencana membuat PT Pegadaian IPO. Ada banyak sekali barang "sekolahan" yang nggak ditebus sama pemiliknya. Karena nilai pinjaman selalu lebih rendah (atau minimal sama dengan) nilai taksiran barang, otomatis pegadaian jarang merugi.

Menurut saya, setidaknya ada 2 alasan utama mengapa orang lebih senang ke Pegadaian. Pertama, bunga yang ditawarkan Pegadaian lebih rendah daripada rentenir. Pegadaian juga lebih terpercaya karena merupakan perusahaan plat merah. Kedua, prosesnya relatif cepat untuk sekadar mengejar likuiditas. Hampir apa saja bisa di…

Syarat KPR BTN Syariah (Seri 1)

Syarat KPR BTN Syariah mirip dengan pengajuan KPR di Bank Syariah lainnya. Prosesnya pun relatif panjang, mulai dari kelengkapan berkas, proses wawancara hingga survey lokasi rumah. Mari kita bahas satu per satu.
Tentang KPR BTN Platinum iB Produk KPR di BTN Syariah pembiayaannya ada berbagai macam. Salah satunya adalah KPR BTN Platinum iB. KPR BTN Platinum iB adalah produk pembiayaan dalam rangka pembelian rumah, ruko, rukan, rusun, atau apartemen bagi nasabah perorangan dengan akad murabahah atau jual beli. Banyak sekali bank yang tidak lagi menalangi pembiayaan, dalam artian rumahnya belum berdiri tapi bank sudah bayar dulu ke developer. Ingat bahwa Bank bukan lembaga sosial dan harus ada untung. Jangan sampai bermunculan developer yang modal dengkul saja, membangun rumah dari uang nasabah dan uang bank.


Keuntungan KPR BTN iB Seperti bank syariah lain, cicilan dari pengembalian pinjaman akan terus tetap nilainya hingga akhir jangka waktu pembiayaan. Kalau sebulan sudah dipatok 1 ju…

Apa Itu Opportunity Cost?

Secara sederhana, opportunity cost atau biaya peluang adalah biaya yang timbul karena memilih sebuah kegiatan bisnis tertentu dibanding kegiatan bisnis yang lain. Katakanlah Anda memiliki modal bisnis tambahan sebesar Rp 100juta. Dengan uang Rp 100juta tersebut, Anda memilih untuk menambah jumlah mesin, daripada menyewa ruko baru untuk ekspansi regional.

Kegiatan bisnis A : menambah jumlah mesin, menghabiskan dana yang sama dengan kegiatan bisnis B (menyewa ruko baru). Padahal, bila dihitung dan dilakukan riset sedikit, Anda bisa mengetahui bahwa menambah jumlah mesin baru tidak menghasilkan keuntungan yang sebanding bila Anda memilih untuk menyewa ruko baru untuk penetrasi pasar. Keputusan Anda untuk memilih kegiatan bisnis A, berakibat adanya opportunity cost (biaya peluang) Anda tidak bisa menghasilkan keuntungan sebesar ketika Anda memilih kegiatan bisnis B.
Opportunity cost bisa dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya saat Anda menunggu bis. Ada yang menghabiskan waktu de…

Mengapa Anda Sebaiknya Tidak Beli Asuransi

Asuransi kesehatan, asuransi jiwa, asuransi investasi, dan berbagai macam model asuransi lainnya, semakin berkembang sejak tahun 1998 di negeri ini. Mengapa? Karena sejak peristiwa kerusuhan Mei, orang mulai sedikit cemas. Bagaimana mengamankan aset yang sudah diraih, atau memastikan apa yang akan dicapai dalam waktu sekian tahun mendatang? Pendidikan anak saya siapa yang jamin? Kalau mobil saya kenapa-kenapa, duit siapa buat bayar bengkel? Kalau saya satu-satunya tulang punggung keluarga dan mati kena serangan jantung/stroke, siapa yang ngasih makan istri dan anak?



Semua pertanyaan-pertanyaan yang solusinya tidak pasti, seolah-olah bisa dijawab dengan asuransi. Bukannya saya nggak seneng sama asuransi, tapi kalau pertanyaannya adalah "Apakah kita membutuhkan asuransi?" mungkin jawaban sebenarnya adalah "belum tentu". Contoh saja, kalau umur Anda 25 tahun, masih segar bugar, tidak punya tanggungan siapa-siapa (hidup sendiri alias masih single), agak mengherankan ap…