Kopdar Saudagar Nusantara, Berdaya di Negeri Sendiri

Kopdar Saudagar Nusantara, disingkat KSN adalah sebuah event bagi pebisnis di seluruh Indonesia. Perhelatan ini dibagi menjadi beberapa agenda besar, antara lain Konferensi Saudagar Nusantara (KSN), dan Festival Saudagar Nusantara (FSN).

Kopdar Saudagar Nusantara
Gambar diambil dari website kopdarsaudagar.com

Skema Ponzi dan Cara Mewaspadainya

Baru-baru ini kita dikejutkan dengan kasus bangkrutnya sebuah biro umrah yang terkesan profesional, namun pada akhirnya harus ditebus dengan perkara di pengadilan. Kasus "penipuan" seperti ini memang banyak macamnya, namun yang paling sering dijumpai adalah yang menggunakan skema ponzi.
uang tumbuh

Skema Ponzi

Skema Ponzi dibuat oleh Charles Ponzi (nama aslinya adalah Carlo Pietro Giovanni Guglielmo Tebaldo Ponzi), pada tahun 1900-an. Ponzi adalah seorang yang berkarakter pemimpi bin penghayal. Yang ia cita-citakan adalah bagaimana meraup kekayaan dalam waktu sesingkat mungkin. Ia pun beberapa kali berurusan dengan penjara karena kasus penipuan dan semacamnya.

Ia bermigrasi dari Italia ke US, dengan bekal hanya USD 2.5, namun ia selalu bermimpi meraup 1 juta dollar. Dalam keadaan bangkrut tersebut, ia berpindah-pindah pekerjaan mulai dari pegawai pos, tukang cuci piring, perawat di tenda pertambangan, dan sebagainya. Dalam keadaan tak berpunya itulah, skema ponzi lahir.

Suatu hari, mungkin terinspirasi dari surat-surat berisi bualan tentang kehidupan hartawan yang ia tulis untuk sanak saudaranya di Italia, sebuah gagasan lahir dari kepalanya. Gagasan itu, saking hebatnya, ia sebut sebagai "Gagasan Hebat". Dan memang benar, karena dari ide inilah lahir yang kita kenal saat ini sebagai arbitrage.

Pada jaman dahulu, untuk berkorespondensi menggunakan surat, orang bisa mengirim kupon yang dinamakan IRC (International Reply Coupon). Prinsipnya sederhana, kupon ini di negara tujuan dapat ditukarkan atau minimal menjadi diskon untuk pembelian perangko. Karena inflasi sangat tinggi akibat perang dunia, harga perangko dapat berbeda sangat jauh antara Italia dan US. Di sinilah Ponzi, secara tidak sengaja dan secara teori, menemukan celah sistem yang akan mengisi koceknya.

Namun Ponzi butuh modal. Ia tak menyerah begitu saja saat ajuan kreditnya ke bank tak diterima. Ia pun membuat sebuah perusahaan dan mengumpulkan modal dari publik. Orang-orang sangat percaya dengan presentasi Ponzi yang meyakinkan. Perlu diketahui, walaupun miskin, Ponzi selalu berpakaian dengan elegan.

Dengan janji gombal keuntungan 100% dalam waktu 90 hari, ia dengan mudahnya meraup dollar dari para "investor" yang serakah. Ponzi sendiri sudah memahami bahwa "Gagasan Hebat" miliknya tak akan berjalan sesuai teori, karena mayoritas profit dari perangko justru akan kembali ke perusahaan pos. Sampailah pada tahun 1919, mengetahui idenya tak akan berjalan mulus, ia berhenti berurusan dengan perangko. Ia fokus untuk menggaet "investor".

Kasus Ponzi Terbongkar

Orang-orang berduyun-duyun mempercayakan uangnya kepada Ponzi. Sampai pada tahun 1920, tepatnya bulan Juli, ia berhasil mengumpulkan 1 juta dollar, per hari. Sebuah impian yang dari dulu ia cita-citakan.

Namun kesuksesan Ponzi tak berlangsung lama, karena mulai banyak yang mempertanyakan tentang bisnis perusahaanya. Adalah tidak mungkin berjual beli kupon perangko dengan jumlah dana luar biasa besar, karena sirkulasi kupon perangko yang beredar hanyalah ~27,000 saja.

Jika Ponzi tidak berbisnis kupon perangko, lalu darimana "profit" investor bisa ia bayarkan? Jawabannya : dari investor yang menyetorkan uangnya belakangan. Jika orang masih percaya bahwa investasinya akan kembali dengan berlipat ganda dalam kurun waktu singkat, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Profit dan modal investor sebelumnya didapat dari uang investor berikutnya.

Ponzi pada akhirnya harus menyerah, dan mengakui bahwa sekitar 20 ribu orang investornya sudah kehilangan lebih dari $20 juta.

Ciri-ciri Skema Ponzi

Secara kasat mata :

  • Menawarkan keuntungan yang fantastis, bahkan dalam waktu singkat
  • Tidak menjelaskan secara detail, bagaimana bisnis perusahaan berjalan. Atau, bisnisnya tidak jelas (tidak ada fisik item, harga mahal, dll).
  • Legalitas perusahaan dipertanyakan.
  • Ketika investor akan mengambil uangnya, dipersulit sedemikian rupa.
Pada intinya, jangan mudah tergiur dengan tawaran yang tidak masuk akal. Semakin tinggi return yang dijanjikan, semakin besar kemungkinannya bahwa itu adalah investasi abal-abal.

Batu Cincin : Yet Another Market Bubble?

Kita akan buka tulisan ini dengan sebuah cerita ringan.

Alkisah di sebuah kampung di pelosok hutan, datanglah seorang yang kaya raya beserta asisten pribadinya. Si Kaya berniat membeli monyet, dengan dihargai Rp 100ribu per monyet. Warga pun berbondong-bondong mencari monyet ke hutan. Dan memang benar, si Kaya membayar 1 ekor monyet Rp 100ribu. Waktu berlalu, hutan pun mulai langka dengan monyet. Harga per ekor monyet pun naik menjadi Rp 200ribu. Monyet pun semakin langka. Harga monyet pun dinaikkan lagi oleh si Kaya menjadi Rp 300ribu, Rp 500ribu, dan begitu seterusnya hingga Rp 1juta.



Saat monyet menjadi benar-benar sulit didapat, si Kaya pergi ke kota untuk suatu urusan. Asisten pribadinya memberitakan pada warga, "Saya jual monyet-monyet ini per ekor Rp 500ribu, nanti ketika bos saya kembali dari kota, bapak-bapak bisa jual kembali dengan harga Rp 1 juta". Warga pun setuju dan berebut membeli monyet dengan harga Rp 500ribu. Setelah transaksi tersebut, si Kaya dan asistennya tak pernah terlihat lagi.

Apa itu Economic Bubble?

Istilah lain untuk economic bubble adalah market bubble, price bubble, dan semacamnya. Istilah bubble digunakan untuk menggambarkan perdagangan aset yang harganya di atas nilai intrinsiknya. Contohnya, seperti cerita monyet di atas. Dinamakan gelembung, karena pada akhirnya harga barang akan kembali bernilai seperti nilai intrinsiknya. Akan ada masa di mana gelembung akan semakin besar dan tidak dapat lebih besar lagi, dan akhirnya pecah.

Ketika batu cincin sempat booming dan menjadi tren beberapa waktu lalu, sebetulnya kita dapat melihat bahwa akhirnya tren tersebut akan berakhir. Tren seperti ini sebenarnya mirip dengan tren-tren bubble yang lain seperti ikan louhan, tokek, atau gelombang cinta. Banyak pula "pengusaha" dadakan yang terlanjur menginvestasikan tabungannya untuk membeli barang "populer" dengan harapan bahwa suatu saat nanti akan bisa menjualnya di harga yang berkali lipat lebih tinggi.

Apakah ini "Tren Sesaat"?

Untuk mengetahui apakah sebuah bisnis atau barang sekadar tren sesaat alias bubble, sebetulnya tak perlu perhitungan macam-macam. Cukup bandingkan dengan barang setipe yang nilai intrinsiknya memang mahal. Misal, jika kasusnya adalah batu akik, maka bandingkan dengan batu mulia, di mana kualitas dan kadar kelimpahannya di alam sangat jauh. Batu akik tersedia sangat banyak dan tingkat kekerasannya tidak tinggi. Berbeda dengan berlian, intan, atau ruby yang memang sangat langka dan perlu waktu sangat lama untuk terbentuk di alam.

Maka kita bisa lihat bahwa batu akik suatu saat akan semakin berlimpah (karena popularitasnya) dan maka dari itu tidak menjadi barang langka lagi (dan istimewa). Ini juga mirip dengan bunga gelombang cinta dan ikan louhan, yang bisa dibudidayakan sedemikian sehingga market akan jenuh. Ketika market sudah jenuh, maka harga pun otomatis akan turun dan selanjutnya silakan menangis.

Kisah Sukses Sandiaga Uno, Dari Korban PHK Hingga Aset Rp 3 T

Ia memiliki nama lengkap Sandiaga Salahuddin Uno, seorang politisi yang sebelumnya adalah pengusaha. Berdarah Gorontalo, ia lahir di Riau, 47 tahun lalu. Ayahnya bernama Razif Halik Uno (Henk Uno), yang juga merupakan keturunan dari Mufti Guru Uno, salah satu keturunan raja Gorontalo. Ibunya, Mien Rachman Uno (nama aslinya adalah Rachmini Rachman), adalah pendiri Lembaga Pendidikan Duta Bangsa dan Mien R Uno Foundation. Mien Uno juga merupakan kakak dari salah satu tokoh pendidikan Indonesia, Prof. Arief Rachman.


Masa Sekolah Sandiaga Uno

Menurut Sandiaga Uno, benang merah yang mendefinisikan kerja keras adalah disiplin waktu. Ia duduk paling depan ketika masa sekolah. Ibunya mendidik secara keras yang tak bisa dijelaskan sekarang, karena akan masuk kategori KDRT. Sabetan tali pinggang sudah menjadi sarapan rutin. Akan ada hukuman untuk bangun pagi yang tak tepat waktu dan nilai jelek di sekolah. Dari didikan ibunya inilah, etos kerja keras Sandiaga Uno bertumbuh.

Setelah menamatkan kuliah di Wichita State University dengan predikat summa cum laude, ia bekerja sebagai karyawan di Bank Summa pada tahun 1990. Tak butuh waktu lama, prestasinya membawa ia menuju beasiswa di George Washington University. Etos kerja keras terus dibawanya saat mengambil S2. Ketika libur akhir pekan, Sandiaga Uno harus melawan cuaca dingin dan menusuk tulang, berjalan kaki 15-20 menit dari asrama ke perpustakaan, karena ketika libur tak ada bis yang mengantar. Ia merasa diberi kesempatan istimewa : sekolah di luar negeri, diberi beasiswa, dan didukung oleh orang tua. Ia ingin memberikan ikhtiar 100 persen. Tak heran, ia lulus dengan IPK 4,00.

Etos kerja keras itu pun berlanjut hingga ia menjadi profesional dan pengusaha. Ia berusaha untuk datang paling awal, seringnya bersamaan dengan office boy, dan jengah ketika ada karyawan yang masuk kerja jam 10-11 siang.

Salah satu hobinya yang lain adalah membaca buku. Saat ini kacamatanya minus 1,5. Sebelum dioperasi, matanya pernah mencapai minus 11. Itu karena kegemarannya membaca. Kategori buku yang ia sukai adalah buku yang menginspirasi dan memotivasi. Ia menyempatkan membaca buku 1 jam setiap hari.

Menjadi Korban PHK dan (Terpaksa) Berwirausaha

Pada tahun 1997, karir Sandiaga Uno harus kandas karena krisis ekonomi. Ia sempat bekerja tanpa gaji. Perusahaan tempat ia bekerja akhirnya bangkrut dan memecat sejumlah karyawan. Tabungannya pun sudah habis karena diinvestasikan di pasar modal. Dengan berat hati ia memilih untuk kembali pulang ke tanah air bersama istrinya (yang pada waktu itu sedang hamil anak pertama), dengan predikat pengangguran.

Justru keterpurukan itulah yang membuat Sandiaga Uno berpindah haluan untuk menjadi seorang pengusaha. Bersama teman dekatnya kala SMA, Rosan Roeslani, ia membangun PT Recapital Advisors, sebuah perusahaan konsultasi keuangan. Kantor yang mereka sewa pun ala kadarnya saja, dengan karpet warna merah muda dan banyak cermin di dinding. Itu semua karena dulunya kantor tersebut adalah salon dan agensi model. Malu dengan kondisi tersebut, ia dan Rosan sering melakukan rapat dengan calon klien di luar kantor.

Perjalanan bisnis PT Recapital pun bukan tanpa hambatan. Walau karyawannya hanya 3 orang, Sandi mengaku sering kesulitan memberikan gaji. Berjibaku dengan proposal, menunggu berjam-jam di lobi kantor calon klien bersama dengan belasan pengantri yang lain, sudah menjadi rutinitas harian. Pernah suatu kali karena tak ada uang untuk membeli susu anaknya, Sandi berniat meminjam uang pada Rosan. Tak disangka, Rosan pun juga tak punya uang dan berniat meminjam uang ke Sandi.

Klien pertama Sandiaga Uno adalah Jawa Pos Group. Sandi sudah menunggu lama, sebelum CEO Jawa Pos Group akhirnya keluar. Namun, Dahlan Iskan, tak punya waktu untuk menyimak penawaran Sandi secara lengkap. Jadilah, penyampaian Sandi dilakukan di dalam lift. The Power of Elevator Pitch. Penawaran super singkat tersebut akhirnya disetujui Dahlan.

Rejeki Yang Tak Disangka-sangka

Di balik kesuksesan bisnis tiap pengusaha, selalu ada seorang mentor. Mentor bisnis Sandiaga Uno adalah William Soeryadjaya, pendiri Astra. Perkenalan pertama Sandi dengan Om William bermula sejak karirnya menanjak di Bank Summa. Om William menyediakan waktu makan siang bersama Sandi, setiap pekan, hari Sabtu. Mentoring bisnis inilah yang membuat kepercayaan dirinya bangkit setelah di-PHK, sekaligus menjadi cikal bakal lahirnya perusahaan Sandiaga Uno kedua, PT Saratoga Investama Sedaya, yang bergerak di bidang investasi usaha pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.

Saratoga, di awal masa bertumbuhnya, juga memiliki sebuah kisah unik. Suatu kali ada klien yang menolak membayar jasa konsultasi Recapital. Tak ingin memperpanjang urusan dengan mengajukan gugatan ke pengadilan, Sandi harus rela menerima pembayaran dalam bentuk saham perusahaan klien, yang ketika itu berharga murah. Tak disangka, 3 bulan kemudian, nilai saham tersebut naik terus hingga melebihi hutang klien. Inilah yang membuat Saratoga terinspirasi mengembangkan usahanya ke berbagai investasi di banyak perusahaan.

Kejeniusan Sandiaga Uno kembali ditunjukkan dengan lahirnya Tower Bersama. Ia terinspirasi oleh Sakti Wahyu Trenggono, pemilik Indonesia Tower. Pak Trenggono berpendapat, perusahaan telekomunikasi pada akhirnya akan berhenti membangun menara. Alih-alih membuat sendiri menara telekomunikasi dengan biaya mahal, perusahaan akan menyewa dari perusahaan lain. Peluang ini ditangkap oleh Sandiaga Uno, sedemikian sehingga Tower Bersama meroket menjadi perusahaan besar di bawah bendera Saratoga, selain Adaro Energy.

Perjuangan bisnis Sandiaga Uno dimulai dari sebuah kesulitan. Dimulai dari krisis, pemutusan hubungan kerja, memulai usaha, dan akhirnya memiliki lebih kurang 50 ribu karyawan. Dengan semangat "Kerja 4 As" : Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Tuntas, dan Kerja Ikhlas, ia berhasil membangun banyak perusahaan yang pada akhirnya menumbuhkan asetnya. Hasilnya, pada tahun 2011, ia masuk menjadi orang terkaya nomor 37 di Indonesia, dengan estimasi total aset senilai USD 660 juta, atau sekitar Rp 7 T kala itu.

Saat melaporkan kekayaannya ke KPK dalam rangka menjadi calon wakil gubernur DKI Jakarta, ia memiliki aset Rp 3 T. Sebuah jumlah yang fenomenal untuk ukuran seorang pengusaha asli Indonesia. Ia sering berkeliling ke kampus-kampus untuk menyebarkan semangat kewirausahaan kepada para mahasiswa, dan mengharapkan ada banyak pengusaha baru lahir.

Nasihat untuk Muslim Pendukung Ahok

Bismillah

Assalaamu'alaykum warohmatullah wabarokaatuh.

Allah, Dia yang Maha Memberi nikmat. Allah, Dia Dzat yang tiada dua, apatah lagi tiga. Allah, segala puji hanya bagi-Nya. Persaksikanlah, bahwa tiada Tuhan selain Allah. Dan Muhammad bin Abdullah itu adalah benar utusan Allah.

Saya, Prabowo Murti, mengajak saudara-saudaraku seiman seislam, dari hati yang lemah ini, melalui website yang sederhana ini, untuk terus memurnikan tauhid. Mari, menggantungkan harapan hanya pada Allah.
quran


Saudara-saudaraku seiman seislam..

Saya yakin, dari lubuk hati terdalam saudara, masih tersimpan rasa bangga sebagai seorang muslim, rasa cinta pada agama ini. Ketahuilah, tak ada faedah yang bisa saudara petik, dari membela kubu sebelah, baik di dunia, maupun di akhirat kelak. Yang Allah telah Gariskan akan terjadi. Bergabunglah bersama kami, saudaraku.. Bergabunglah bersama saudaramu ini, saudara yang sebenar-benarnya saudara.

Saudara-saudaraku seiman seislam..

Tulisan ini adalah bentuk paling maksimal yang saya bisa, dalam mengajak saudara-saudaraku kembali ke fitrah, merapatkan barisan persaudaraan kita. Ingatlah bahwa seorang 'Umar, yang pernah ingin membunuh Rasul, kini terbaring di samping makam beliau. Ingatlah bahwa seorang Khalid bin Walid, yang pernah berperang melawan agama Allah, pada akhirnya menjadi pedang-Nya. Berhijrahlah saudaraku, karena hijrah adalah keniscayaan, sejauh apapun kita telah menyimpang.

Saudara-saudaraku seiman seislam..

Sungguh, tulisan ini hadir karena kesedihan kami, mesti bersilangan, dan berpisah dengan saudara-saudara semuanya. Semoga Allah yang Maha Menguasai hati, senantiasa memberikan kita hidayah untuk tetap berada di jalan-Nya, Mempertemukan kita di dunia setelah dunia. Izinkan saya mengutip DR 'Aidh Al Qarni, dalam salah satu buku beliau.
Kita bukanlah penduduk asli bumi, asal kita adalah surga. Tempat di mana Adam tinggal pertama kali. Kita tinggal di sini hanya untuk sementara, mengikuti ujian, lalu segera kembali.

Maka, berusahalah semampumu untuk mengejar kafilah orang-orang sholeh yang akan kembali ke tanah air yang sangat luas, di akhirat. Jangan sia-siakan waktumu di planet kecil ini.

Perpisahan bukan karena perjalan yang jauh, atau karena ditinggal yang tercinta. Bahkan, kematian pun bukanlah perpisahan, sebab kita akan bertemu lagi di akhirat.

Perpisahan adalah ketika satu di antara kita masuk surga, sedang yang lainnya di neraka.

Semoga Allah menjadikan kita semua penghuni surga-Nya.

Ini hanya sekadar nasihat dari seorang muslim kepada sesama muslim. Semoga Allah, Mengampuni khilaf dan kekurangan saya, Memberikan ganjaran terbaik atas segala ikhtiar dan keikhlasan perjuangan ini. Aamiin ya Rabb.

Wassalaamu'alaykum warohmatullah wabarokatuh.

Universalitas Ekonomi Syariah

Bismillah

Pertama-tama saya selaku penulis mohon maaf bila lebih dari 10 bulan blog ini tidak ada pembaruan. Selama 10 bulan terakhir pula saya berpikir keras, bahwa beberapa tulisan sudah kadaluarsa, dan tidak relevan lagi, dilihat dari segi masa terbitnya, maupun dari referensi yang dipakai. Saya berpikir, mungkin inilah saatnya untuk melanjutkan proses hijrah yang berjalan lambat, kalau tak mau dibilang berhenti. Saya sedang memikirkan gagasan besar terkait solusi menjadi orang yang sejahtera (baca: kaya) menurut Islam. Tentulah karena agama ini adalah agama yang sempurna, di setiap permasalahan selalu ada solusinya dari Quran. Tidak dengan riba, tidak dengan sistem yang populer saat ini.

masjid sultan singapura

Tulisan ini merupakan tulisan daur ulang saya di tahun 2008, atau sudah sekitar 8 tahun lalu. Semoga bermanfaat.

"Bolehkah saya bertanya," seorang Bapak pembicara memulai percakapan sebuah seminar di salah satu perguruan tinggi negeri. "Berapa banyak dari saudara mahasiswa / mahasiswi di sini yang telah memiliki tabungan di bank syariah?"

Hanya ada 4 orang yang mengangkat tangan. Tentu ini sebuah angka statistik yang memilukan, bahwa orang Islam sendiri kurang turut punya andil dalam mempopulerkan sistem yang sesuai Quran. Para pembicara adalah petinggi di bank syariah, dan ada 1 orang Bapak yang berasal dari Bank Indonesia. Perkembangan sistem ekonomi sudah dimulai sejak jaman dahulu, sejak jaman belum ditemukannya tulisan, sehingga tak ada dokumentasi. Pada masa awal, sistem yang terkenal adalah sistem feodalisme, di mana segala sesuatunya berpusat pada Raja, kira-kira sampai abad ke-6.

Selanjutnya, sistem yang ada tak jauh-jauh bentuknya dari yang ada sekarang : kapitalisme, sosialis, dan pada tahun 1940, sistem ekonomi Islam mulai bergerak. Ketika itu Islam sedang dalam puncak kejayaan. Sistem ekonomi Islam pada saat itu merupakan jawaban atas ketidakteraturan sistem ekonomi yang sudah ada sebelumnya.

Negara yang bermula menginisiasi sistem ekonomi syariah atau sistem ekonomi islam adalah Malaysia dan Pakistan. Salah seorang deputi Bank Indonesia mengatakan,
Jika saja 5% dari total aset yang ada di negeri ini dikelolah oleh dan bagi ummat (artinya dikelola menurut ekonomi syariah), dibutuhkan minimal 1400 tenaga kerja baru di Indonesia

Sungguh keadaan yang potensial bagi negeri ini. Ragam wujud dari ekonomi syariah pun ada banyak. Mulai dari obligasi / sukuk syariah, reksadana syariah, permodalan nasional madani, kumpulan saham yang jelas kehalalannya (misalnya yang tergabung dalam Islamic Dow Jones Index atau Jakarta Islamic Index), dan yang paling populer adalah tabungan syariah.

Kita masih ingat pada tahun 1998, perekonomian negeri luluh lantak. Ada sebagian besar bank yang terkesan kuat, ternyata kena likuidasi. Coba tebak, sektor apa yang masih kuat bertahan terpaan? Bank Syariah. Di sinilah Allah sedang hendak Menunjukkan bahwa sistem-Nya sungguh sempurna. Mengapa bisa terjadi, bank konvensional yang memiliki sistem riba/bunga, justru merugi?

Saya diperkenalkan dengan istilah Loan Deposit Ratio atau LDR. Angka LDR menunjukkan perbandingan antara besar uang yang dipinjam oleh debitur dengan yang yang ditabung oleh nasabah. Data menunjukkan, pada bank syariah, angka LDR berkisar 106%. Anda tidak salah baca, seratus enam persen. Sedangkan pada bank konvensional, angka LDR berkisar 69,2%. Ini menunjukkan bahwa pada bank konvensional, uang tidak berputar, melainkan mendekam lama di bank. Ketika ekonomi sedang sulit, maka peluang usaha semakin kecil. Ketika peluang bisnis kecil maka orang enggan berbisnis, dan enggan punya hutang ke bank (karena bunga tinggi). Secara sederhana, bank merugi dan akhirnya mati.

Di bank syariah, situasinya berbeda, karena bank syariah menganut konsep bagi hasil. Bank syariah sudah memperkirakan bahwa bisnis tidak melulu untung. Ada untung, ada rugi, dan ada pula balik modal (break even point). Di bank syariah, kemungkinan pengusaha merugi jauh lebih kecil, karena bank tidak asal dalam memberikan pinjaman. Contohnya, calon peminjam dilihat neraca dan laporan keuangannya secara detail. Apakah peminjam berkepribadian baik pada tetangganya? Apa jenis usaha calon peminjam? Mungkinkah bank syariah memberi pinjaman pada usaha miras, peternakan babi, atau usaha kelab malam?

Sebagian ulama membolehkan ummat islam untuk menabung di bank konvensional dengan alasan kedaruratan. Namun jika kita tinggal di kota besar, banyak sekali kantor cabang bank syariah yang bertebaran. Rasanya sudah bukan menjadi alasan untuk tidak punya rekening di bank syariah.

Mari berhijrah.



Modus Marketing Kartu Kredit

Marketing kartu kredit biasanya menawarkan hal-hal yang tidak biasa agar calon nasabah tertarik untuk membuat kartu kredit. Jika nasabah sudah memiliki kartu kredit, maka nasabah juga diarahkan untuk memiliki kartu kredit tambahan, atau menikmati fasilitas plus-plus dari penyedia kartu kredit. Jumlah kartu kredit yang banyak namun tidak diimbangi dengan cara pemakaian yang bijak tentu akan melahirkan persoalan tersendiri. Apakah kita benar-benar membutuhkan kartu kredit baru? Berikut hal-hal yang biasanya digunakan para sales kartu kredit. Hati-hati, jangan sampai kita tergoda.

kartu kredit

Janji menaikkan limit kartu kredit

Seperti yang kita ketahui, sales kartu kredit dapat memperoleh informasi tentang data nasabah kartu kredit dari pihak ketiga. Biasanya juga dari sesama sales kartu kredit. Karena data ini terkadang kurang terlalu update, maka biasanya sales kartu kredit hanya bicara seperti ini di telepon. "Limit kartu kredit yang sekarang berapa, Pak? Akan kami jadikan limit baru kartu kredit Bapak menjadi 3x lipat dari limit saat ini". Atau, "menjadi total semua limit kartu kredit yang Bapak punya". Janji hanya tinggal janji. Saat kartu kredit sudah tiba, limit kartu kredit biasanya tak sesuai harapan. Ini dikarenakan, bukan sales kartu kredit yang menentukan limit kartu kredit, tapi dari pihak Bank.

Bebas iuran tahunan seumur hidup

Janji sales kartu kredit seperti ini juga sudah sering diperdengarkan. Dengan tidak ada iuran tahunan seumur hidup, maka calon nasabah akan berpikir "Toh tidak ada ruginya memiliki satu kartu kredit tambahan". Padahal jebakan betmen seperti ini bakal ketahuan saat pemakaian sudah lewat 1 tahun, ketika tiba-tiba ada tagihan tambahan di billing statement.

Marketing kartu kredit perempuan

Sudah menjadi hal yang lumrah, kalau lelaki akan lemah dengan perempuan. Marketing kartu kredit pun sudah dilatih untuk berbicara selemah dan selembut mungkin. Kalau bisa sampai calon nasabah di seberang sana klepek-klepek.

Tipe kartu kredit yang prestigious

Jika calon nasabah belum memiliki kartu kredit, mungkin akan dijanjikan tipe kartu kredit yang sedang-sedang sahaja, seperti Silver atau Gold. Namun jika nasabah sudah memiliki kartu kredit, maka akan dijanjikan kartu kredit tipe dewa seperti Titanium, Platinum, Alumunium, Millennium, atau bahkan tipe kartu kredit yang namanya baru Anda dengar. Nama sih boleh keren, tapi tunggu nanti setelah kartu kreditnya datang. Limitnya cuma gopek ceng.

Kesempatan dana tunai dengan margin yang rendah

Memiliki kartu kredit dengan alasan agar bisa menikmat dana tunai adalah hal yang cukup keliru. Pertama, dana tunai yang diberikan bank jumlahnya kecil, biasanya hanya berkisar 30 persen dari limit kartu kredit. Kedua, margin atau bunganya akan mencekik leher. "Tapi marginnya rendah loh Pak, hanya 0.7 persen per bulan. Ini masa promo Pak, kesempatan langka. Marginnya kembali normal bulan depan," suara marketing kartu kredit di seberang telpon yang kemayu mencoba mempengaruhi. Jangan sampai kemakan.

Program cicilan tagihan

Nasabah yang gila belanja menggunakan kartu kredit adalah sasaran empuk para sales. Kenaikan limit pada kartu kredit jangan dikira tidak punya makna apa-apa. Pertama dikasih limit 3 juta, dipake hanya kisaran Rp 200 ribu sebulan. Dinaekin limitnya jadi 5 juta, eh kok pemakaian jadi 1,5 juta per bulan. Terus begitu, hingga ada titik di mana limitnya sudah tinggi, pemakaian sudah banyak, dan akhirnya nasabah keenakan dan udah mulai sulit bayar tagihan tepat waktu. Di titik inilah para sales pun belagak malaikat di tanggal tua, menghembuskan angin surga pada nasabah, menawarkan program cicilan tagihan.

Misal tagihan 6 juta, dicicil 6 bulan kena margin 0.7 persen sebulan. Harusnya, sebulan kena Rp 1 juta ditambah 0.7% dari Rp 6 juta = Rp 1.042.000. Pada kenyataannya, Anda akan diberi tahu, "Bapak kena cicilan tetap Rp 1.059.000 per bulan, ringan kan Pak?" Kok angkanya beda? Ini sudah tipu-tipu, ada biaya silumannya. Karena di telepon itu ritme percakapan sedemikian cepat, dan angka tagihan tidak selalu genap, jadi nasabah dibuat tak sadar.